Penanganan Delayed Ovulation Pada Sapi Potong Pasca Penyakit Mulut dan Kuku di Desa Kalirejo Kecamatan Lawang Kabupaten Malang

Penanganan Delayed Ovulation Pada Sapi Potong Pasca Penyakit Mulut dan Kuku di Desa Kalirejo Kecamatan Lawang Kabupaten Malang_Dokumen Istimewa

VOKASI NEWS – Pengamatan di Desa Kalirejo Lawang menunjukkan inseminasi buatan harian efektif menangani delayed ovulation pada sapi potong pasca PMK dan meningkatkan keberhasilan kebuntingan.

Tantangan Reproduksi Sapi Potong di Kalirejo

Desa Kalirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, merupakan salah satu wilayah sentra peternakan rakyat di Jawa Timur. Sebagian besar peternak di daerah ini mengandalkan inseminasi buatan (IB) untuk meningkatkan produktivitas sapi potong. Namun, pascawabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), sejumlah peternak menghadapi kendala reproduksi, salah satunya berupa delayed ovulation atau ovulasi tertunda pada sapi betina.

Delayed ovulation ditandai dengan keterlambatan pelepasan sel telur setelah fase birahi. Kondisi ini kerap tidak terdeteksi secara visual oleh peternak, tetapi berdampak pada rendahnya keberhasilan kebuntingan. Gangguan tersebut dipengaruhi oleh stres fisiologis dan ketidakseimbangan hormonal selama masa pemulihan pasca PMK. Situasi ini menuntut penanganan yang tepat dan mudah diterapkan di tingkat lapangan.

Pengamatan lapangan dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Paramedik Veteriner Fakultas Vokasi Universitas Airlangga pada Maret–Juni 2025. Kegiatan ini bertujuan mengkaji pola penanganan delayed ovulation pada sapi potong milik peternak rakyat, sekaligus memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan keberhasilan inseminasi buatan.

Strategi Inseminasi Buatan di Lapangan

Pengamatan melibatkan delapan ekor sapi betina indukan dari total populasi sekitar 200 ekor. Seluruh sampel dipilih secara purposive dengan kriteria sehat pasca PMK dan menunjukkan gejala estrus berkepanjangan. Tim mencatat suhu tubuh, Body Condition Score (BCS), serta pola inseminasi yang diterapkan.

Penanganan dilakukan melalui dua pendekatan. Enam ekor sapi mendapatkan inseminasi buatan setiap hari selama tiga hari masa estrus. Dua ekor sapi lainnya hanya diinseminasi pada hari ketiga atas pertimbangan pemilik ternak. Pemeriksaan kebuntingan dilakukan tiga bulan setelah perlakuan.

Hasil pengamatan menunjukkan enam ekor sapi yang menerima inseminasi harian dinyatakan bunting. Sebaliknya, dua ekor sapi yang hanya mendapat inseminasi tunggal tidak menunjukkan tanda kebuntingan. Temuan ini menghasilkan tingkat keberhasilan inseminasi sebesar 75 persen. Kondisi fisiologis turut memengaruhi hasil tersebut. Sapi dengan BCS ideal dan suhu tubuh normal memiliki peluang kebuntingan lebih tinggi dibandingkan sapi dengan cadangan energi rendah.

Pendekatan inseminasi harian dinilai efektif karena menjaga ketersediaan sperma hingga ovulasi benar-benar terjadi. Metode ini juga lebih mudah diterapkan di lapangan tanpa memerlukan terapi hormonal tambahan. Bagi petugas inseminator, strategi ini menjadi alternatif praktis untuk mengatasi ketidakpastian waktu ovulasi pada sapi pasca PMK.

[BACA JUGA: Hubungan Tingkat Kecemasan Ibu Menyusui dengan Produksi ASI di Puskesmas Sememi]

Kontribusi bagi Peternakan Rakyat

Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa penanganan delayed ovulation memerlukan kombinasi metode inseminasi yang tepat dan pemantauan kondisi tubuh ternak. Pendekatan berbasis lapangan seperti inseminasi harian dapat membantu meningkatkan efisiensi reproduksi di tingkat peternak rakyat.

Selain berkontribusi secara akademik, kegiatan ini mendukung upaya pemulihan sektor peternakan pascawabah PMK. Edukasi kepada peternak mengenai deteksi birahi, pemeliharaan kondisi tubuh sapi, serta strategi inseminasi yang adaptif menjadi langkah penting dalam meningkatkan produktivitas sapi potong nasional.

***

Penulis: Zidan Aulia Ahmad