VOKASI NEWS – Penatalaksanaan nyeri akut pada pasien Acute Coronary Syndrome di IGD melalui asuhan keperawatan berbasis standar dan evaluasi klinis.
Acute Coronary Syndrome (ACS) merupakan kondisi kegawatdaruratan kardiovaskular yang terjadi akibat berkurangnya aliran darah ke arteri koroner sehingga menimbulkan iskemia miokard. Kondisi ini memerlukan penanganan segera karena berisiko menyebabkan kerusakan otot jantung dan komplikasi serius lainnya. Nyeri dada menjadi gejala yang paling sering dilaporkan oleh pasien. Namun, pada kelompok tertentu seperti perempuan, lanjut usia, dan penyandang diabetes, keluhan dapat muncul dalam bentuk yang tidak khas.
Masalah nyeri akut akibat iskemia miokard menjadi fokus utama dalam asuhan keperawatan pasien ACS di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Perawat memiliki peran strategis dalam melakukan pengkajian awal, memberikan intervensi nyeri yang sesuai, serta mengevaluasi respons pasien secara berkelanjutan. Tindakan yang cepat dan terstandar diperlukan untuk mencegah perburukan kondisi klinis pasien serta mendukung keberhasilan terapi medis.
Metode dan Proses Penatalaksanaan
Penelitian ini menggunakan desain studi kasus terhadap sembilan pasien yang terdiagnosis Acute Coronary Syndrome dengan masalah keperawatan nyeri akut di IGD RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan pasien dan keluarga, observasi langsung, telaah rekam medis, serta pemeriksaan fisik yang mencakup inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
Penatalaksanaan awal di ruang gawat darurat difokuskan pada penetapan diagnosis kerja ACS berdasarkan keluhan nyeri dada atau angina. Langkah ini dilakukan sebelum hasil elektrokardiografi dan pemeriksaan marka jantung diperoleh. Terapi awal mengikuti prinsip MONACO atau MONATICA, yang meliputi tirah baring, pemberian oksigen, aspirin, penghambat ADP seperti ticagrelor atau clopidogrel, nitrat, serta morfin sesuai indikasi klinis.
Setiap intervensi diberikan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi pasien, termasuk saturasi oksigen, tekanan darah, denyut nadi, serta adanya kontraindikasi tertentu. Pendekatan ini bertujuan menjaga stabilitas hemodinamik sekaligus mengurangi intensitas nyeri yang dirasakan pasien.
Hasil dan Diagnosis Keperawatan
Hasil pengkajian menunjukkan seluruh pasien mengalami nyeri dada dengan intensitas sedang hingga berat, dengan skala nyeri antara 6 hingga 8. Lokasi nyeri umumnya berada di dada kiri dan dapat menjalar ke bahu, lengan, punggung, leher, atau rahang. Beberapa pasien juga melaporkan keluhan penyerta berupa sesak napas, mual, muntah, keringat berlebih, rasa lemah, dan kegelisahan.
Tanda vital pasien menunjukkan variasi tekanan darah sistolik antara 116–170 mmHg dan diastolik 66–140 mmHg. Berdasarkan data tersebut, diagnosis keperawatan utama yang ditegakkan adalah nyeri akut yang berhubungan dengan agen pencedera fisiologis berupa iskemia miokard.
Intervensi keperawatan mencakup tirah baring, pemantauan tanda vital dan irama jantung, pemberian oksigen apabila saturasi di bawah 95 persen, serta penerapan teknik nonfarmakologis seperti relaksasi napas dalam dan distraksi. Tindakan farmakologis dilakukan secara kolaboratif dengan tim medis sesuai indikasi dan pedoman yang berlaku.
Evaluasi dan Kesimpulan
Evaluasi keperawatan menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri pada seluruh pasien dalam waktu 1×8 jam setelah intervensi diberikan. Meskipun demikian, pengendalian nyeri belum sepenuhnya optimal karena proses patologis masih berlangsung. Kondisi ini menegaskan pentingnya pemantauan lanjutan dan penyesuaian intervensi secara berkelanjutan.
[BACA JUGA: Keselamatan Pemeriksaan MRI Melalui Pemahaman Risiko Benda Feromagnetik]
Asuhan keperawatan yang komprehensif, cepat, dan berbasis standar terbukti berkontribusi dalam menurunkan nyeri akut pada pasien ACS di IGD. Penetapan diagnosis kerja sejak awal berdasarkan keluhan klinis menjadi langkah penting dalam mendukung keselamatan pasien. Hasil studi kasus ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi tenaga keperawatan dalam meningkatkan mutu pelayanan gawat darurat, khususnya dalam penatalaksanaan nyeri pada pasien dengan sindrom koroner akut.
***
Penulis: Alifia Azizatuzzuhdiyyah
Pembimbing: Fanni Okviasanti, Ilkafah



