VOKASI NEWS – Hasil pemeriksaan laboratorium hanya akan bermakna apabila dibandingkan dengan reference interval yang tepat. Salah satu parameter yang sering digunakan ialah Blood Urea Nitrogen (BUN), yaitu pemeriksaan untuk membantu menilai fungsi ginjal, status hidrasi, hingga metabolisme protein.
Sayangnya, sebagian laboratorium di Indonesia masih menggunakan reference interval yang berasal dari produsen reagen atau literatur internasional. Padahal, nilai rujukan tersebut belum tentu sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia. Kondisi ini berpotensi menyebabkan interpretasi hasil pemeriksaan menjadi kurang akurat.
Mengapa Reference Interval Penting?
Menurut Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI), reference interval merupakan rentang nilai yang diperoleh dari 95 persen populasi sehat. Rentang tersebut menjadi acuan bagi dokter untuk menentukan apakah hasil pemeriksaan masih berada dalam batas normal atau memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Dengan kata lain, reference interval bukan sekadar angka normal. Nilai tersebut menggambarkan variasi biologis pada suatu populasi yang sehat.
Setiap Populasi Memiliki Karakteristik Berbeda
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa reference interval dipengaruhi oleh banyak faktor. Usia, jenis kelamin, pola makan, lingkungan, hingga metode analitik dapat memengaruhi kadar BUN seseorang.
Karena itu, penggunaan nilai rujukan dari negara lain belum tentu sesuai diterapkan di Indonesia. Perbedaan karakteristik populasi dapat menyebabkan seseorang yang sebenarnya sehat dikategorikan tidak normal. Sebaliknya, pasien yang memerlukan perhatian medis justru dapat terlewat.
Perbedaan Nilai BUN Antarnegara
Penelitian di berbagai negara menunjukkan adanya variasi reference interval BUN. Nilai rujukan yang digunakan di China berbeda dengan Nepal maupun negara lainnya.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa setiap populasi memiliki karakteristik biologis yang unik. Oleh sebab itu, laboratorium perlu melakukan verifikasi sebelum menggunakan reference interval dari populasi lain.
Indonesia Memiliki Peluang Menyusun Reference Interval Lokal
Penelitian mengenai reference interval BUN di Indonesia masih terbatas. Padahal, perkembangan sistem informasi laboratorium membuka peluang untuk menyusun nilai rujukan berdasarkan data pemeriksaan rutin melalui pendekatan indirect method.
Metode ini memanfaatkan data laboratorium yang telah tersedia dalam jumlah besar. Pendekatan tersebut dinilai lebih efisien dibandingkan pengambilan sampel sehat secara langsung dalam skala besar.
Dengan tersedianya data medical check-up dan sistem informasi laboratorium yang semakin berkembang, Indonesia memiliki peluang untuk menyusun reference interval nasional maupun reference interval spesifik pada setiap laboratorium.
Dukung Diagnosis yang Lebih Akurat
Penetapan reference interval lokal diharapkan mampu meningkatkan akurasi interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium. Selain itu, langkah tersebut dapat mengurangi risiko salah klasifikasi pasien serta mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat.
Pengembangan reference interval berbasis populasi Indonesia juga menjadi bagian penting dalam peningkatan mutu pelayanan laboratorium. Upaya ini sekaligus mendukung penerapan precision medicine yang semakin berkembang di Indonesia.
Melalui penelitian dan pengembangan data laboratorium, laboratorium kesehatan tidak hanya berperan sebagai penyedia hasil pemeriksaan. Laboratorium juga dapat menjadi sumber data ilmiah yang mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan nasional.
[BACA JUGA: Edukasi TOGA dan Obat Tradisional Tingkatkan Literasi Kesehatan Ibu PKK Gresik]
Penulis: Nabilah Afanin
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



