VOKASI NEWS – Pemeriksaan SGOT dan SGPT penting untuk memantau fungsi hati pasien tuberkulosis dengan koinfeksi HIV selama menjalani terapi OAT dan ARV.
Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit menular dengan jumlah kasus yang tinggi di Indonesia. Pengobatan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dilakukan selama sedikitnya enam bulan. Terapi ini bertujuan membasmi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Namun, beberapa jenis OAT dapat menimbulkan gangguan fungsi hati sehingga pemantauan selama terapi tetap diperlukan.
Risiko gangguan fungsi hati semakin meningkat pada pasien yang mengalami koinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Selain menjalani terapi OAT, pasien juga harus mengonsumsi obat antiretroviral (ARV). Kombinasi kedua jenis obat tersebut membuat hati bekerja lebih keras dalam memetabolisme obat sehingga meningkatkan risiko terjadinya hepatotoksisitas atau kerusakan hati akibat obat.
Mengapa Fungsi Hati Perlu Dipantau?
Hati merupakan organ utama yang berperan dalam memetabolisme berbagai jenis obat, termasuk OAT dan ARV. Beberapa obat, seperti isoniazid, rifampisin, dan pirazinamid, diketahui dapat menyebabkan cedera pada sel hati. Ketika kerusakan terjadi, enzim hati akan dilepaskan ke dalam aliran darah sehingga kadarnya meningkat.
Peningkatan kadar enzim hati sering kali terjadi sebelum pasien merasakan gejala. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium menjadi langkah penting untuk mendeteksi gangguan fungsi hati sejak dini sehingga tenaga kesehatan dapat mengambil tindakan yang diperlukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.
SGOT dan SGPT Menjadi Indikator Penting
Pemeriksaan yang umum digunakan untuk menilai fungsi hati adalah Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT/AST) dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT/ALT). Kedua enzim tersebut menjadi indikator adanya kerusakan sel hati.
SGPT lebih spesifik menggambarkan kondisi hati karena sebagian besar ditemukan pada jaringan hati. Sementara itu, SGOT juga dapat meningkat akibat kerusakan jaringan lain, seperti otot maupun jantung. Pemeriksaan keduanya memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi fungsi hati pasien selama menjalani pengobatan.
Pemeriksaan SGOT dan SGPT dilakukan menggunakan alat kimia klinik otomatis sehingga hasil dapat diperoleh dengan cepat dan akurat. Pemantauan secara berkala membantu tenaga kesehatan mengevaluasi keamanan terapi sekaligus mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat.
Risiko Lebih Tinggi pada Pasien TB-HIV
Menurut World Health Organization (WHO), individu dengan HIV memiliki risiko sekitar 30 kali lebih besar mengalami tuberkulosis aktif dibandingkan individu tanpa HIV. Kondisi tersebut menyebabkan pasien TB-HIV memerlukan pengobatan yang lebih kompleks karena harus menjalani terapi OAT dan ARV secara bersamaan.
Penggunaan kedua terapi tersebut meningkatkan beban metabolisme hati sehingga risiko gangguan fungsi hati menjadi lebih tinggi dibandingkan pasien TB tanpa HIV. Oleh sebab itu, pemeriksaan SGOT dan SGPT secara rutin menjadi bagian penting dalam pemantauan terapi agar pengobatan tetap aman dan efektif.
Mendukung Keberhasilan Pengobatan
Pemeriksaan laboratorium tidak hanya berperan dalam membantu diagnosis penyakit, tetapi juga memastikan keamanan terapi yang sedang dijalani pasien. Deteksi dini terhadap gangguan fungsi hati memungkinkan tenaga kesehatan melakukan evaluasi atau penyesuaian terapi sebelum terjadi kerusakan hati yang lebih berat.
Melalui pemantauan fungsi hati secara berkala, keberhasilan pengobatan TB dan TB-HIV diharapkan dapat meningkat, risiko komplikasi dapat ditekan, serta kualitas hidup pasien tetap terjaga selama menjalani terapi.
[BACA JUGA: Balita Sering Batuk Pilek? Kenali Cara Mudah Mencegah ISPA di Rumah]
Penulis: Dinda Nadya Dwi Riwayanto
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



