VOKASI NEWS – Dalam era persaingan global dan percepatan digitalisasi, industri perhotelan dituntut untuk selalu berinovasi dalam menghadirkan layanan yang unggul, personal, dan responsif. Inovasi layanan tidak hanya lahir dari penerapan teknologi canggih, tetapi juga dari kemampuan organisasi dalam mengelola dan mendistribusikan pengetahuan secara efektif di antara karyawannya. Human Resource Development (HRD) memegang peran strategis dalam proses ini. Tidak hanya sebagai pengelola administrasi pelatihan, tetapi juga sebagai penggerak budaya berbagi pengetahuan (knowledge sharing). Hal ini tentunya yang menjadi dasar terciptanya layanan inovatif.
BACA JUGA: [Hubungan Beban dan Masa Kerja Radiografer dengan Pengulangan Exposure di Ruang X-Ray]
Hasil Penelitian Peran HRD di Perusahaan
Hasil penelitian di AYANA Midplaza Jakarta menunjukkan bahwa HRD berperan dalam tiga dimensi utama. Pertama, HRD berfungsi sebagai fasilitator budaya berbagi pengetahuan dengan mengadakan pelatihan berbasis kebutuhan, mentoring informal, serta forum diskusi lintas departemen. Langkah ini membangun atmosfer kolaboratif yang mendorong karyawan untuk saling belajar dan berbagi pengalaman kerja. Kedua, HRD menjadi pengguna aktif teknologi digital melalui platform TALENTA dan chatbot internal Ayana GPT.
Teknologi ini mempercepat distribusi informasi, memudahkan monitoring hasil pelatihan, serta memungkinkan karyawan mengakses informasi secara real-time. Ketiga, HRD berperan sebagai penghubung antara knowledge sharing dan inovasi layanan. Dengan mengintegrasikan hasil pembelajaran ke dalam SOP baru, program personalisasi pelanggan, hingga penciptaan layanan tematik yang sesuai tren pasar.
Strategi tersebut terbukti meningkatkan kualitas pelayanan, terutama pada aspek responsiveness (kecepatan pelayanan), assurance (kepercayaan tamu), dan tangibles (penampilan fisik layanan). Meski demikian, penelitian juga menemukan adanya kendala, misalnya distribusi pelatihan yang belum merata dan keterlibatan terbatas staf lini depan dalam inovasi formal. Untuk mengatasi hal ini, HRD disarankan memperkuat sistem umpan balik, melibatkan karyawan operasional dalam forum inovasi, dan memberikan penghargaan atas kontribusi ide. Dengan begitu, inovasi tidak lagi bersifat top-down, tetapi menjadi budaya organisasi yang partisipatif.
Pengalaman AYANA Midplaza Jakarta dapat dijadikan model praktik baik (best practice) bagi industri perhotelan lain, khususnya dalam mengintegrasikan HRD, teknologi digital, dan inovasi layanan ke dalam kerangka manajemen pengetahuan. Dengan pengelolaan yang strategis, HRD dapat menciptakan ekosistem pembelajaran yang adaptif sekaligus menjadi motor utama dalam menghadirkan inovasi layanan berkelanjutan.
***
Penulis: Adinda Sekar Arum
Editor: Oky Sapto Mugi Saputro