VOKASI NEWS – Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering dialami balita di Indonesia. Penyakit ini dapat menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah. ISPA juga menjadi penyebab utama kunjungan balita ke fasilitas kesehatan. Tingginya angka kejadian ISPA berulang menunjukkan bahwa upaya pencegahan perlu mendapat perhatian serius. Oleh karena itu, keluarga sebagai lingkungan terdekat anak memiliki peran yang sangat penting.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Deket, Kabupaten Lamongan. Penelitian ini bertujuan menggambarkan peran keluarga dalam upaya pencegahan ISPA berulang pada balita. Selain itu, penelitian juga melihat bagaimana keluarga berkontribusi dalam menjaga kesehatan anak di lingkungan rumah.
ISPA dan Faktor Risiko pada Balita
ISPA merupakan penyakit infeksi yang menyerang sistem pernapasan dan umumnya berlangsung selama kurang lebih dua minggu. Balita menjadi kelompok yang paling rentan mengalami ISPA karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang secara sempurna. Selain itu, kondisi lingkungan dan perilaku keluarga turut memengaruhi risiko terjadinya penyakit ini.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan kejadian ISPA pada balita antara lain ventilasi rumah yang kurang baik, kepadatan hunian, paparan asap rokok, status gizi yang kurang optimal, serta imunisasi yang tidak lengkap. Faktor-faktor tersebut membuat balita lebih mudah terpapar mikroorganisme penyebab infeksi. Akibatnya, risiko terjadinya ISPA berulang menjadi lebih tinggi.
Keluarga sebagai Garda Terdepan Pencegahan
Dalam upaya pencegahan ISPA berulang, keluarga memiliki peran yang sangat penting. Keluarga tidak hanya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan dasar anak, tetapi juga menjaga dan meningkatkan status kesehatan seluruh anggota keluarga.
Peran keluarga dalam bidang kesehatan meliputi kemampuan mengenali masalah kesehatan, mengambil keputusan ketika anak sakit, memberikan perawatan sederhana di rumah, menciptakan lingkungan yang sehat, serta memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Dengan menjalankan fungsi tersebut secara optimal, keluarga dapat membantu mengurangi risiko terjadinya ISPA berulang pada balita.
Selain itu, keluarga juga bertanggung jawab memastikan anak memperoleh asupan gizi yang cukup, imunisasi lengkap, serta lingkungan tempat tinggal yang bersih dan nyaman. Kebiasaan sederhana, seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan rumah, dan menghindari paparan asap rokok, terbukti mampu menurunkan risiko infeksi saluran pernapasan pada anak.
Hasil Penelitian Menunjukkan Peran Keluarga yang Baik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga di wilayah kerja Puskesmas Deket telah menjalankan peran yang baik dalam upaya pencegahan ISPA berulang pada balita. Sebanyak 62,5% responden berada dalam kategori peran keluarga yang baik.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua telah memiliki kesadaran mengenai pentingnya menjaga kesehatan anak melalui berbagai tindakan pencegahan. Tindakan tersebut meliputi menjaga kebersihan lingkungan rumah, memperhatikan pola makan anak, memantau kondisi kesehatan balita, serta memanfaatkan pelayanan kesehatan ketika diperlukan.
Meski demikian, masih terdapat keluarga yang belum menjalankan seluruh aspek pencegahan secara optimal. Oleh sebab itu, edukasi kesehatan tetap diperlukan agar seluruh keluarga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mencegah terjadinya ISPA berulang.
Pentingnya Edukasi dan Dukungan Tenaga Kesehatan
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pencegahan ISPA pada balita tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan. Keterlibatan aktif keluarga juga menjadi faktor yang sangat penting. Oleh karena itu, tenaga kesehatan berperan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai faktor risiko, tanda gejala, serta langkah-langkah pencegahan ISPA.
Program penyuluhan kesehatan, konseling keluarga, serta pemantauan kesehatan balita secara berkala dapat menjadi strategi yang efektif. Melalui berbagai upaya tersebut, pengetahuan dan kesadaran masyarakat diharapkan terus meningkat. Dengan demikian, keluarga mampu menjalankan perannya secara lebih optimal dalam menjaga kesehatan anak.
Menuju Generasi Balita yang Lebih Sehat
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa keluarga merupakan garda terdepan dalam upaya pencegahan ISPA berulang pada balita. Lingkungan keluarga yang sehat, didukung oleh pengetahuan yang baik serta perilaku hidup bersih dan sehat, dapat menjadi benteng utama dalam melindungi anak dari berbagai penyakit infeksi.
Melalui kerja sama antara keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat, angka kejadian ISPA berulang pada balita diharapkan terus menurun. Dengan demikian, tumbuh kembang anak dapat berlangsung secara optimal. Pada akhirnya, upaya tersebut diharapkan mampu mewujudkan generasi yang lebih sehat, kuat, dan berkualitas pada masa mendatang.
[BACA JUGA: Belajar Sigap di Garda Terdepan: Pengalaman Mahasiswa D-III Keperawatan UNAIR di IGD RSUA]
***
Penulis: Retna Selikha Yani Anggun Rimarsha
Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)



