VOKASI NEWS – Pengukuran volume ventrikel kiri menjadi salah satu bagian penting dalam evaluasi fungsi jantung. Volume ini dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Namun, hasil pengukuran volume ventrikel kiri tidak selalu sama, karena terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dan masing-masing memiliki karakteristik tersendiri.
Pentingnya Pengukuran Volume Ventrikel Kiri
Ventrikel kiri merupakan ruang jantung yang berfungsi memompa darah kaya oksigen ke seluruh tubuh. Karena perannya sangat vital, perubahan ukuran dan volume ventrikel kiri dapat menjadi salah satu indikator dalam menilai kondisi serta fungsi jantung seseorang. Dalam praktik pencitraan medis, pengukuran volume ventrikel kiri sering dimanfaatkan sebagai informasi tambahan untuk membantu evaluasi pasien. Nilai volume yang diperoleh dapat mendukung penilaian fungsi jantung, khususnya pada pasien yang menjalani pemeriksaan jantung.
Metode Pengukuran pada Citra Jantung
Pengukuran volume ventrikel kiri tidak hanya dilakukan dengan satu cara. Dalam analisis citra jantung, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung volume tersebut. Setiap metode memiliki prinsip kerja yang berbeda, sehingga hasil pengukuran yang diperoleh juga dapat bervariasi.
Tiga metode yang sering digunakan dalam pengukuran volume ventrikel kiri adalah Area Length Method, Simpson’s Method, dan Threshold Based Direct Volumetry. Ketiga metode ini sama-sama bertujuan menghitung volume ventrikel kiri, tetapi menggunakan pendekatan analisis yang berbeda. Perbedaan metode ini menjadi penting untuk diperhatikan, karena ketepatan hasil pengukuran sangat berpengaruh terhadap interpretasi fungsi jantung.
Pengaruh Cardiac Phase terhadap Pengukuran
Selain metode pengukuran, hasil analisis volume ventrikel kiri juga dapat dipengaruhi oleh cardiac phase atau fase jantung saat citra diambil. Hal ini terjadi karena jantung terus bergerak dan berubah bentuk selama satu siklus denyut jantung.
Dalam pemeriksaan jantung, terdapat beberapa fase yang sering digunakan untuk analisis, di antaranya end systolic, diastasis, dan end diastolic. Pada setiap fase tersebut, kondisi ventrikel kiri tidak selalu sama. Akibatnya, nilai volume yang diperoleh juga dapat berubah tergantung pada waktu pengambilan citra. Karena itu, pemilihan metode pengukuran sebaiknya tidak dipisahkan dari pertimbangan fase jantung yang digunakan.
Penelitian Mahasiswa Fakultas Vokasi UNAIR
Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Airlangga untuk membandingkan metode pengukuran volume ventrikel kiri berdasarkan cardiac phase pada data CT Coronary Angiography (CTCA). Pengukuran tidak dilakukan secara langsung pada workstation CT, melainkan melalui analisis lanjutan terhadap data citra CTCA menggunakan perangkat lunak 3D Slicer. Software ini digunakan untuk mengolah citra jantung dan menghitung volume ventrikel kiri berdasarkan masing-masing metode pengukuran.
Penelitian dilakukan pada 30 data pasien dengan membandingkan hasil pengukuran pada tiga fase jantung, yaitu end systolic (40%), diastasis (60%), dan end diastolic (70%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua metode memberikan performa yang sama pada setiap fase jantung. Pada fase end systolic (40%), metode Area Length dan Threshold Based Direct Volumetry menunjukkan hasil yang paling optimal. Pada fase diastasis (60%), metode Threshold Based Direct Volumetry menjadi metode yang paling optimal dibandingkan metode lainnya.
Sementara pada fase end diastolic (70%), metode Area Length dan Threshold Based Direct Volumetry kembali menunjukkan hasil yang paling optimal. Di sisi lain, Simpson’s Method cenderung memberikan hasil yang kurang optimal pada beberapa fase dibandingkan dua metode lainnya.



