VOKASI NEWS – Redominasi rupiah 2025 menjadi wacana penting kebijakan moneter. Artikel ini membahas manfaat, risiko, dan peran edukasi generasi muda dalam menghadapi redominasi.
Redominasi rupiah bukanlah istilah baru dalam wacana kebijakan moneter di Indonesia. Namun, pemahaman masyarakat mengenai redominasi masih kerap bercampur dengan istilah sanering. Bank Indonesia menjelaskan bahwa redominasi merupakan penyederhanaan nilai nominal uang dengan cara mengurangi digit nol tanpa mengubah nilai riil maupun daya beli masyarakat. Sanering, sebaliknya, merupakan kebijakan pemotongan nilai uang yang berdampak langsung pada penurunan daya beli.
Pengalaman Indonesia pada tahun 1965 menjadi catatan penting dalam pembahasan kebijakan ini. Pemerintah saat itu menerapkan kebijakan serupa dengan tujuan menekan hiperinflasi. Namun, kondisi ekonomi dan politik yang tidak stabil serta minimnya persiapan menyebabkan kebijakan tersebut gagal dan justru mendorong inflasi hingga mencapai sekitar 650 persen. Peristiwa ini menunjukkan bahwa redominasi memerlukan perencanaan yang matang dan tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa.
Peluang dan Risiko Redominasi Rupiah
Wacana redominasi kembali mencuat seiring membaiknya kondisi ekonomi nasional. Sejumlah ekonom menilai stabilitas ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan dekade sebelumnya. Inflasi yang relatif terkendali dan sistem keuangan yang lebih kuat menjadi dasar optimisme terhadap rencana tersebut. Beberapa pihak menilai redominasi dapat meningkatkan efisiensi transaksi, termasuk dalam pencatatan data keuangan dan aktivitas pasar modal.
Meski demikian, pandangan kritis juga muncul dari kalangan pembuat kebijakan dan ekonom. Kekhawatiran utama terletak pada potensi inflasi akibat pembulatan harga barang dan jasa. Risiko kesalahpahaman masyarakat terhadap perubahan nominal juga menjadi perhatian, terutama pada fase awal penerapan. Pengalaman negara lain, seperti Turki, menunjukkan bahwa redominasi dapat berjalan efektif apabila disertai pengawasan ketat dan komunikasi publik yang konsisten.
Peran Edukasi bagi Generasi Muda
Generasi muda menjadi kelompok yang penting dalam proses adaptasi redominasi, mengingat kedekatannya dengan sistem transaksi digital dan budaya non-tunai. Perubahan nominal pada saldo digital, harga barang, dan sistem pembayaran berpotensi menimbulkan kebingungan apabila tidak diiringi literasi keuangan yang memadai. Kesalahan input nominal dan persepsi harga yang tampak lebih murah dapat memengaruhi pola konsumsi.
Edukasi dan sosialisasi menjadi kunci untuk meminimalkan risiko tersebut. Bank Indonesia dan pelaku sektor keuangan perlu menyediakan informasi yang jelas dan mudah dipahami melalui berbagai kanal, termasuk media digital. Di sisi lain, generasi muda dapat berperan aktif sebagai agen literasi dengan menyebarkan konten edukatif dan membantu masyarakat memahami implikasi kebijakan ini secara rasional.
[BACA JUGA: Strategi Pemasaran Green Island Banyuwangi dan Pengalaman Wisata yang Menguatkan Branding Destinasi]
Redominasi rupiah merupakan kebijakan moneter yang memerlukan kesiapan ekonomi, stabilitas politik, serta pemahaman publik yang baik. Kebijakan ini berpotensi memberikan manfaat apabila dilaksanakan secara bertahap dan transparan. Dengan dukungan edukasi yang memadai, generasi muda dapat berkontribusi dalam memastikan proses adaptasi berjalan lebih tertib dan inklusif. Perubahan nominal bukan sekadar soal angka, tetapi juga tentang kesiapan masyarakat dalam menyikapi kebijakan secara bijak.
***
Penulis: Dwi Lestari Putri Fachrudini
Editor: Fatikah Rachmadianty



