Resiliensi Keluarga yang Merawat Lansia dengan Penyakit Kronis di Wilayah Kerja Puskesmas Medokan Ayu

Resiliensi keluarga dalam merawat lansia dengan penyakit kronis

VOKASI NEWS – Sebagian besar keluarga yang merawat lansia dengan penyakit kronis di wilayah kerja Puskesmas Medokan Ayu memiliki tingkat resiliensi yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90 persen responden mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan selama proses perawatan, sedangkan 10 persen lainnya berada pada kategori resiliensi sedang.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keluarga memiliki peran penting sebagai caregiver utama bagi lansia dengan penyakit kronis. Selain memenuhi kebutuhan fisik, keluarga juga bertanggung jawab memberikan dukungan psikologis, sosial, dan emosional. Peran tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-3, yaitu Good Health and Well-being, yang menekankan pentingnya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, termasuk kelompok lansia.

Penelitian tentang Keluarga Caregiver

Penelitian dilakukan pada keluarga yang merawat lansia dengan penyakit kronis di wilayah kerja Puskesmas Medokan Ayu. Fokus penelitian adalah menggambarkan tingkat resiliensi keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan selama proses perawatan.

Resiliensi keluarga menjadi aspek penting karena keluarga tidak hanya mendampingi lansia dalam menjalani pengobatan. Di sisi lain, mereka juga harus mampu menyeimbangkan tanggung jawab merawat lansia dengan pekerjaan, kebutuhan ekonomi, serta peran lain di dalam rumah tangga.

Mayoritas Keluarga Memiliki Resiliensi Tinggi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90 persen responden memiliki tingkat resiliensi keluarga yang tinggi. Sementara itu, 10 persen responden berada pada kategori resiliensi sedang dan tidak ditemukan keluarga dengan tingkat resiliensi rendah.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga mampu beradaptasi terhadap perubahan akibat kondisi kesehatan lansia. Selain itu, mereka juga dapat mempertahankan fungsi keluarga dan tetap memberikan dukungan yang optimal selama proses perawatan.

Faktor yang Mendukung Resiliensi Keluarga

Tingginya tingkat resiliensi keluarga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut meliputi komunikasi yang baik antaranggota keluarga, dukungan sosial dari kerabat maupun lingkungan sekitar, serta akses terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas Medokan Ayu.

Selain itu, edukasi kesehatan yang diberikan tenaga kesehatan membantu keluarga memahami kondisi lansia dengan penyakit kronis. Pengalaman merawat lansia selama bertahun-tahun juga memungkinkan keluarga memiliki strategi koping yang lebih adaptif sehingga lebih mampu menghadapi tekanan selama proses perawatan.

Pentingnya Dukungan bagi Keluarga Caregiver

Meskipun sebagian besar keluarga memiliki tingkat resiliensi yang tinggi, penelitian masih menemukan 10 persen responden dengan tingkat resiliensi sedang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian keluarga masih menghadapi berbagai kesulitan dalam menjalankan peran sebagai caregiver.

Faktor seperti beban ekonomi, keterbatasan waktu akibat pekerjaan, kelelahan fisik, maupun kurangnya dukungan sosial dapat memengaruhi kemampuan keluarga dalam merawat lansia. Oleh karena itu, pendampingan dan edukasi dari tenaga kesehatan tetap diperlukan agar kemampuan adaptasi keluarga terus meningkat.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penguatan resiliensi keluarga tidak hanya bermanfaat bagi caregiver, tetapi juga berkontribusi terhadap kualitas perawatan lansia. Dengan dukungan yang tepat, keluarga diharapkan mampu mempertahankan fungsi keluarga sekaligus meningkatkan kualitas hidup lansia dengan penyakit kronis.

[BACA JUGA: Pikirkan Sebelum Sebar: Peran Individu Kritis Dalam Melawan Hoaks]

***

Penulis: Zahrah Dhia

Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)