VOKASI NEWS – Nyeri bahu menjadi salah satu keluhan musculoskeletal yang sering dialami mahasiswa. Kebiasaan duduk terlalu lama, penggunaan perangkat digital, dan postur tubuh yang kurang tepat kerap memicu nyeri bahu. Kondisi ini mendorong Virgiana Adinda Sekarwangi, mahasiswa D-IV Pengobat Tradisional VOKASI UNAIR, meneliti efektivitas kombinasi dua metode pengobatan tradisional Tiongkok dalam mengurangi nyeri bahu pada mahasiswa Universitas Airlangga.
Berdasarkan penelitian Setiadi dkk. (2023), prevalensi gangguan musculoskeletal di Provinsi Jawa Timur mencapai 6,72 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa nyeri bahu bukan sekadar keluhan ringan, tetapi dapat memengaruhi aktivitas akademik apabila tidak ditangani secara tepat.
Membandingkan Dua Metode Terapi
Penelitian dilaksanakan pada Juni hingga Juli di Kota Surabaya dengan melibatkan 36 mahasiswa Universitas Airlangga yang mengalami nyeri bahu. Responden dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing berjumlah 18 orang.
Kelompok pertama mendapatkan kombinasi terapi akupunktur pada titik LI-15 (Jianyu) dan GB-21 (Jianjing) serta auriculopresur pada titik Scapoid Fossa 1 dan Scapoid Fossa 2. Sementara itu, kelompok kedua hanya menerima terapi akupunktur pada titik yang sama.
Kedua kelompok menjalani terapi sebanyak tiga kali setiap minggu selama tiga minggu berturut-turut.
Tingkat nyeri dan keterbatasan fungsi bahu diukur menggunakan kuesioner Shoulder Pain and Disability Index (SPADI) sebelum dan setelah rangkaian terapi selesai. Instrumen tersebut digunakan untuk menilai sejauh mana nyeri bahu memengaruhi aktivitas sehari-hari, seperti mengangkat benda maupun menyisir rambut.
Kombinasi Terapi Memberikan Hasil Lebih Baik
Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua kelompok mengalami penurunan skor SPADI setelah menjalani terapi selama tiga minggu. Namun, kelompok yang menerima kombinasi akupunktur dan auriculopresur menunjukkan penurunan skor yang lebih besar dibandingkan kelompok yang hanya mendapatkan terapi akupunktur. Perbedaan tersebut dinilai bermakna, baik secara statistik maupun klinis.
Penelitian juga menemukan bahwa sindrom invasi angin merupakan pola gangguan yang paling banyak dijumpai pada responden berdasarkan konsep pengobatan tradisional Tiongkok. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan kebiasaan mahasiswa yang sering berada di ruangan berpendingin udara dalam waktu lama sehingga meningkatkan risiko munculnya nyeri bahu.
Berpotensi Menjadi Alternatif Terapi Nonfarmakologis
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi akupunktur dan auriculopresur berpotensi menjadi alternatif terapi nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri bahu pada mahasiswa. Selain minim efek samping, auriculopresur juga memiliki keunggulan karena dapat dilanjutkan secara mandiri di rumah menggunakan biji Vaccaria. Dengan demikian, terapi tetap dapat dilakukan secara konsisten meskipun mahasiswa memiliki aktivitas perkuliahan yang padat.
Ke depan, kombinasi kedua metode terapi tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan penanganan nyeri bahu yang lebih terjangkau, mudah diterapkan, serta mendukung peningkatan kualitas hidup mahasiswa yang sehari-hari banyak beraktivitas menggunakan perangkat digital.
[BACA JUGA: Website SIAPD: Inovasi Digital untuk Kelola Alat Pelindung Diri Lebih Efisien]
Penulis: Virgiana Adinda Sekarwangi
Pembimbing: Edith Frederika Puruhito, S.KM., M.Sc. (Med. Sci.) dan Andry Hartanto, dr., Sp.Ak.
Editor: Inviana (Tim Branding Vokasi)



