Studi Outbound Manajemen Perhotelan: Pesona Ekonomi Green Island Melalui Keberhasilan Menggait 1000 Pengunjung dalam Satu Hari

Studi Outbound Manajemen Perhotelan : Pesona Ekonomi Green Island Melalui Keberhasilan Menggait 1000 Pengunjung dalam Satu Hari_Dokumen Istimewa

VOKASI NEWS – Studi outbound Manajemen Perhotelan UNAIR mengkaji Green Island Banyuwangi sebagai destinasi wisata berbasis komunitas yang berhasil menarik hingga 1.000 pengunjung per hari dan mendorong ekonomi lokal berkelanjutan.

Kegiatan studi outbound Program Studi Manajemen Perhotelan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga dilaksanakan selama tiga hari di Kabupaten Banyuwangi. Program ini bertujuan memberikan pemahaman langsung kepada mahasiswa mengenai pengelolaan destinasi wisata, budaya lokal, serta kualitas layanan pariwisata. Salah satu lokasi yang menjadi fokus kunjungan adalah Green Island, destinasi wisata alam yang dikembangkan dengan pendekatan keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat setempat.

Green Island dikenal sebagai kawasan wisata berbasis alam yang menawarkan lanskap pantai, perairan jernih, dan vegetasi tropis yang relatif terjaga. Kondisi lingkungan yang masih alami menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman wisata luar ruang. Kawasan ini tidak didominasi oleh pembangunan modern berskala besar, sehingga karakter alamnya tetap terpelihara dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung.

Potensi Wisata dan Daya Tarik Pengunjung

Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa Green Island mampu menarik jumlah kunjungan yang tinggi, khususnya pada musim liburan. Pengelola setempat mencatat kunjungan wisatawan dapat mencapai sekitar 1.000 orang dalam satu hari pada periode ramai. Pencapaian tersebut didukung oleh pengelolaan atraksi wisata yang terstruktur, promosi melalui media digital, serta penyediaan fasilitas dasar yang ramah pengunjung.

Temuan tersebut sejalan dengan kajian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kajian itu menyatakan bahwa wisata berbasis alam dengan ekosistem terjaga memiliki daya tarik dan nilai konservasi (KLHK, 2023).
Green Island diresmikan sekitar satu tahun lalu dan kini dikenal sebagai salah satu alternatif wisata alam di Banyuwangi.

Tingginya angka kunjungan tidak hanya mencerminkan minat wisatawan, tetapi juga menunjukkan bahwa konsep wisata hijau dapat memberikan manfaat ekonomi. Aktivitas pariwisata di Green Island mendorong peningkatan pendapatan masyarakat lokal yang berperan sebagai pengelola perahu penyeberangan, pemilik warung makan, penyedia jasa sewa perlengkapan wisata, serta pemandu wisata.

Pengelolaan Mandiri Berbasis Komunitas

Pengembangan Green Island sebagian besar dilakukan melalui inisiatif masyarakat setempat tanpa campur tangan langsung dari pemerintah pusat. Petugas lokal menyampaikan bahwa seluruh proses pengelolaan dan pengembangan destinasi dilakukan secara mandiri oleh warga sekitar.

Salah satu pemandu wisata menjelaskan bahwa kawasan ini masih berada dalam tahap pengembangan. Pengelola melakukan evaluasi terhadap jalur dan titik kunjungan demi menjaga keselamatan wisatawan. Beberapa spot foto yang dinilai berisiko telah ditutup dan digantikan dengan rute baru yang lebih aman, termasuk pembangunan tangga menuju bukit pandang yang baru.

[BACA JUGA: Perkuat Tefapreneur, Vokasi UNAIR Jalin Kolaborasi dengan Industri PT Surya Global Kosmeindo]

Masyarakat Dusun Pancer bergotong royong membangun infrastruktur sederhana serta menyusun sistem pengelolaan pengunjung. Langkah tersebut mencerminkan penerapan pariwisata berbasis komunitas yang relevan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 11 mengenai komunitas berkelanjutan, serta SDG 12 terkait konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui pengelolaan sampah dan edukasi wisata beretika.

Green Island tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga menjadi contoh pengelolaan pariwisata mandiri yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat lokal. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan wisata berbasis komunitas dapat berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan dan ekonomi lokal.

***

Penulis: Christhie Angelina B.B, Atifa Gyanagung A, Veronica Lishania I.W

Editor: Fatikah Rachmadianty