USG Ginjal pada Obesitas: Frekuensi Transducer Menentukan Kualitas Citra

Pemeriksaan USG ginjal pada individu dengan obesitas menggunakan transducer

VOKASI NEWS – Pemeriksaan ultrasonografi (USG) merupakan salah satu metode yang sering digunakan untuk melihat kondisi ginjal karena aman, cepat, dan tidak menggunakan radiasi. Namun, kualitas citra yang dihasilkan tidak selalu sama pada setiap orang. Pada individu dengan obesitas, lapisan lemak yang lebih tebal dapat menghambat perjalanan gelombang ultrasound sehingga citra ginjal menjadi kurang jelas.

Oleh karena itu, pengaturan alat USG menjadi salah satu faktor penting untuk menghasilkan citra yang optimal. Salah satu parameter yang berpengaruh adalah frekuensi transducer yang digunakan selama pemeriksaan.

Mengapa Frekuensi Transducer Berpengaruh?

Salah satu komponen utama dalam pemeriksaan USG adalah transducer, yaitu alat yang memancarkan sekaligus menerima gelombang ultrasound. Frekuensi transducer dapat disesuaikan dengan organ yang akan diperiksa. Frekuensi rendah memiliki kemampuan menembus jaringan tubuh lebih dalam, sedangkan frekuensi tinggi memiliki daya tembus yang lebih rendah.

Pada pemeriksaan ginjal, terutama pada individu dengan obesitas, organ berada lebih dalam karena adanya lapisan lemak yang lebih tebal. Akibatnya, penggunaan frekuensi yang terlalu tinggi justru membuat gelombang ultrasound melemah sebelum mencapai organ sasaran. Kondisi tersebut menyebabkan citra yang dihasilkan menjadi kurang jelas.

Frekuensi Mana yang Memberikan Citra Terbaik?

Penelitian dilakukan terhadap 20 relawan dewasa dengan kategori obesitas (BMI ≥27 kg/m²) di Airlangga Wellness Center, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga. Penelitian berlangsung pada Maret hingga Mei 2026 dengan menggunakan empat variasi frekuensi transducer, yaitu 2 MHz, 3,5 MHz, 4,5 MHz, dan 5 MHz.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi 2 MHz mampu menghasilkan kualitas citra terbaik pada sebagian besar bidang pemotongan USG ginjal. Citra yang dihasilkan tampak lebih jelas sehingga batas antara jaringan ginjal dan jaringan di sekitarnya dapat dibedakan dengan lebih baik.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Pada individu dengan obesitas, lapisan lemak yang lebih tebal menyebabkan gelombang ultrasound lebih mudah kehilangan energi sebelum mencapai ginjal. Semakin tinggi frekuensi yang digunakan, semakin besar pula pelemahan gelombang akibat penyerapan dan hamburan oleh jaringan lemak.

Sebaliknya, frekuensi 2 MHz memiliki daya tembus yang lebih baik karena mengalami pelemahan yang lebih kecil saat melewati jaringan. Gelombang ultrasound masih membawa energi yang cukup ketika mencapai ginjal sehingga pantulan yang diterima transducer menjadi lebih kuat. Kondisi tersebut menghasilkan kontras citra yang lebih baik dan distribusi intensitas piksel yang lebih optimal dibandingkan penggunaan frekuensi yang lebih tinggi.

Manfaat bagi Pemeriksaan USG Ginjal

Pemeriksaan USG tidak hanya bergantung pada kemampuan alat, tetapi juga pada ketepatan pengaturan parameter selama proses pencitraan. Pengaturan yang sesuai dengan kondisi pasien dapat membantu menghasilkan citra yang lebih jelas sehingga struktur ginjal lebih mudah dievaluasi. Hal ini menjadi semakin penting pada individu dengan obesitas karena ketebalan jaringan lemak dapat memengaruhi kualitas citra yang dihasilkan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaturan frekuensi yang tepat dapat membantu menghasilkan citra ginjal yang lebih jelas pada individu dengan obesitas. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan pengaturan pemeriksaan, terutama pada pasien dengan obesitas.

Dengan demikian, proses pencitraan dapat dilakukan secara lebih optimal tanpa perlu menambah prosedur pemeriksaan atau menggunakan teknologi yang lebih kompleks. Penerapan pengaturan yang tepat diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil USG ginjal sekaligus membantu tenaga kesehatan dalam melakukan evaluasi dan pengambilan keputusan klinis secara lebih akurat.

[BACA JUGA: Menilik Kelelahan Kerja Pekerja Konstruksi dari Beban Kerja Fisik dan Gaya Hidup]

***

Penulis: Dyah Putri Eka Febrianti

Pembimbing: Alifatus Wahyu Nur Ma’rifah, Krizky Eka Putra Sulistya

Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)