VOKASI NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) VOKASI UNAIR melalui Kementerian Sosial dan Politik kembali menyelenggarakan Vocational Aspiration Stage (VAS) 3.0. Kegiatan ini berlangsung pada 30 September 2026 di Amphitheater Kampus B Universitas Airlangga.
Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, VAS 3.0 menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi dan mendiskusikan berbagai persoalan sosial. Kegiatan tahun ini mengangkat momentum September Hitam yang berkaitan dengan berbagai peristiwa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam sejarah Indonesia.
Salah satu topik yang dibahas adalah Gerakan 30 September (G30S). Pembahasan tersebut dikemas melalui diskusi publik yang mengajak peserta melihat kembali sejarah dan berbagai perspektif mengenai peristiwa tersebut.
VAS 3.0 Hadirkan Musik, Diskusi, dan Aksi Simbolik
Rangkaian VAS 3.0 terdiri atas penampilan musik akustik, diskusi publik, dan aksi simbolik sebagai penutup. Kegiatan diikuti peserta dari berbagai latar belakang yang memiliki ketertarikan terhadap isu sejarah, sosial, dan politik. Diskusi publik berlangsung secara dua arah. Peserta dapat menyimak materi sekaligus menyampaikan pandangan dan pertanyaan. Forum tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan perspektif mengenai sejarah G30S kepada audiens.
Kegiatan diawali dengan penampilan musik akustik yang dibawakan oleh salah satu peserta. Penampilan gitar dan vokal membawakan lagu “Tanah Airku”. Lagu tersebut menjadi pembuka sekaligus membangun suasana reflektif sebelum peserta mengikuti diskusi publik. Diskusi kemudian diinisiasi oleh Erdogan Thayyib. Mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2022 tersebut pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMA ILPOL) dan Menteri Sosial dan Politik BEM Universitas Airlangga.
Apakah PKI Pelaku Tunggal G30S?
Diskusi publik VAS 3.0 membahas faktor yang melatarbelakangi peristiwa G30S serta berbagai pihak yang disebut terlibat dalam rangkaian peristiwa tersebut. Pembahasan juga menyoroti narasi sejarah yang berkembang mengenai keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam diskusi, peserta diajak melihat G30S melalui perspektif yang lebih luas. Peristiwa tersebut dibahas dalam konteks gejolak politik dan sosial yang terjadi di Indonesia pada masa itu.
Pembahasan kemudian menyinggung rangkaian kekerasan yang terjadi setelah peristiwa G30S. Salah satunya adalah kekerasan terhadap warga sipil yang dituduh memiliki keterkaitan dengan PKI. Diskusi tidak diarahkan untuk sekadar mencari satu pihak sebagai pelaku utama. Peserta diajak memahami kompleksitas peristiwa sejarah dan melihat dampaknya terhadap masyarakat.
Pembahasan tersebut menghasilkan refleksi bahwa mempelajari sejarah tidak berhenti pada upaya menentukan siapa yang paling bertanggung jawab. Sejarah juga dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami berbagai dampak yang ditimbulkan oleh konflik politik dan kekerasan. Peserta diajak mengambil pelajaran dari peristiwa G30S. Pemahaman terhadap sejarah dinilai penting agar masyarakat dapat mengenali berbagai persoalan dan mencegah terulangnya kekerasan serupa di masa mendatang.
Aksi Simbolik sebagai Perlawanan terhadap Lupa
Rangkaian VAS 3.0 ditutup dengan aksi simbolik yang dibawakan oleh peserta magang BEM VOKASI UNAIR melalui pertunjukan drama. Panitia VAS 3.0 juga menyampaikan aksi simbolik dan orasi sebagai bagian dari penutup kegiatan. Aksi tersebut mengangkat isu ketidakadilan HAM serta penantian keluarga korban untuk mendapatkan keadilan. Pesan tersebut disampaikan melalui drama, orasi, dan simbol visual.
Penyalaan obor menjadi salah satu bagian dari aksi penutup. Obor digunakan sebagai simbol perlawanan terhadap kelupaan sejarah dan ketidakadilan. Melalui aksi tersebut, peserta diajak untuk tidak melupakan berbagai peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia. Ingatan terhadap sejarah diharapkan dapat menjadi ruang refleksi bagi masyarakat.
BACA JUGA: Kolaborasi Internasional K3 VOKASI UNAIR dan UPM Perkuat Kompetensi K3 Berwawasan Global
VAS 3.0 Dorong Generasi Muda Merawat Ingatan Sejarah
VAS 3.0 diharapkan dapat terus diselenggarakan setiap tahun sebagai ruang diskusi bagi mahasiswa. Kegiatan ini menjadi wadah untuk membahas isu sosial, politik, dan HAM melalui diskursus yang konstruktif serta reflektif. Pembelajaran sejarah juga perlu dilakukan dengan melihat berbagai sumber dan perspektif. Cara tersebut dapat membantu masyarakat memahami suatu peristiwa secara lebih kritis dan tidak terbatas pada satu sudut pandang.
Bagi penyelenggara, merawat ingatan sejarah menjadi bagian penting untuk memahami masa lalu. Refleksi terhadap berbagai peristiwa juga dapat menjadi pembelajaran agar masyarakat lebih peka terhadap persoalan HAM. Melalui VAS 3.0, BEM VOKASI UNAIR berupaya menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk berdiskusi, berefleksi, dan menyuarakan aspirasi. Semangat tersebut diharapkan dapat menjaga ingatan sejarah sekaligus mendorong generasi muda untuk belajar dari masa lalu.
***
Penulis: Ali Syadzily
Editor: Alkeshar (Tim Vokasi Branding)



