Vasektomi untuk Bansos: Analisis Sentimen Komentar YouTube Ungkap Suara Publik

VOKASI NEWS – Wacana vasektomi sebagai syarat penerima bantuan sosial yang disampaikan Gubernur Jawa Barat pada awal Mei 2025 memicu beragam tanggapan di media sosial. Dalam beberapa hari, ribuan komentar membanjiri video pemberitaan di YouTube. Sebagian komentar mendukung, sebagian menolak, sedangkan lainnya bersifat netral. Namun, pola dari ribuan komentar tersebut tidak mudah dipahami tanpa proses analisis yang sistematis.

Melalui penelitian dari Program Studi D4 Teknik Informatika Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, dikembangkan sistem bernama SentiVox. Sistem ini memanfaatkan kecerdasan buatan berbasis bahasa Indonesia untuk mengelompokkan sentimen publik dari komentar YouTube secara otomatis.

Membaca Emosi dari Tulisan

Penelitian ini menggunakan metode IndoBERT, yaitu model kecerdasan buatan yang dirancang untuk memahami bahasa Indonesia. Model tersebut menganalisis setiap komentar dan mengelompokkannya ke dalam tiga kategori, yaitu Pro, Kontra, atau Netral terhadap usulan vasektomi sebagai syarat penerima bantuan sosial.

Data diperoleh dari 47 video berita nasional yang diunggah pada 30 April hingga 8 Mei 2025. Proses tersebut menghasilkan lebih dari 11.400 komentar mentah. Selanjutnya, dilakukan pembersihan data dengan menghapus spam, menerjemahkan singkatan seperti “gak”, “yg”, dan “bgt”, serta menyaring komentar berbahasa daerah. Setelah proses tersebut selesai, sebanyak 10.165 komentar dinyatakan siap dianalisis.

Seluruh komentar kemudian diberi label secara manual selama dua minggu. Setelah itu, hasil pelabelan diverifikasi oleh seorang psikolog sebagai validator. Berdasarkan proses tersebut, sebanyak 47,5% komentar tergolong Netral, 30,7% Pro, dan 21,8% Kontra.

Suara Publik yang Masih Ragu

Hasil analisis menunjukkan bahwa sentimen Netral menjadi kategori yang paling dominan. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar warganet belum menunjukkan sikap yang tegas terhadap usulan kebijakan tersebut.

Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Misalnya, masih terbatasnya pemahaman mengenai isi kebijakan, komentar yang hanya menanggapi isi video tanpa menyampaikan pendapat, serta kompleksitas isu yang berkaitan dengan kesehatan, agama, dan hak asasi manusia.

Sementara itu, kelompok yang memberikan sentimen Pro umumnya menilai kebijakan tersebut dapat mendukung pengendalian penduduk dan meningkatkan efektivitas penyaluran bantuan sosial. Sebaliknya, kelompok Kontra lebih banyak menyampaikan keberatan yang berkaitan dengan nilai keagamaan, hak atas tubuh, serta kekhawatiran terhadap potensi pemaksaan oleh negara.

Model IndoBERT yang telah dilatih ulang berhasil memperoleh tingkat akurasi sebesar 67,78% dengan Macro F1-score sebesar 0,6569. Nilai tersebut tergolong baik untuk analisis komentar media sosial berbahasa Indonesia yang banyak mengandung singkatan, bahasa gaul, dan ekspresi yang ambigu. Selain itu, karakteristik bahasa pada media sosial memang lebih kompleks dibandingkan bahasa formal.

SentiVox: Dari Data Menjadi Rekomendasi

Seluruh hasil analisis divisualisasikan melalui platform web SentiVox yang dikembangkan menggunakan framework Flask. Melalui platform tersebut, pengguna dapat melihat grafik distribusi sentimen, word cloud kata yang paling sering muncul, serta contoh komentar berdasarkan kategori sentimen.

Selain itu, administrator juga dapat mengunggah kumpulan data baru dan menjalankan proses analisis secara mandiri. Dengan demikian, hasil analisis dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi terhadap berbagai isu publik lainnya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa analisis sentimen tidak hanya menghasilkan model klasifikasi, tetapi juga menyediakan informasi berbasis data yang dapat membantu memahami respons masyarakat sebelum suatu kebijakan diterapkan.

Relevansi dengan Tujuan Pembangunan Global

Penelitian ini juga mendukung beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) karena isu vasektomi berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga. Kedua, SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) karena pembahasan menyangkut kebijakan distribusi bantuan sosial bagi masyarakat. Ketiga, SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui pemanfaatan data sebagai dasar dalam mendukung pengambilan kebijakan yang lebih transparan.

Dengan demikian, pemanfaatan kecerdasan buatan melalui SentiVox memperlihatkan bahwa opini publik di media sosial dapat dianalisis secara sistematis. Informasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan yang lebih responsif dan berbasis data.

[BACA JUGA: Pemanfaatan Data Penjualan TikTok Go untuk Mendukung Evaluasi Pemasaran GeprekinAja]

Penulis: Fiqhi Nadya Roja Effendi

Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)