VOKASI NEWS – Mahasiswa D-III Keperawatan VOKASI UNAIR memberikan edukasi penggolongan obat bahan alam kepada lansia di Ketapang Lor, Ujungpangkah, Gresik.
Di Indonesia, obat bahan alam terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu jamu, Obat Herbal Terstandar atau OHT, dan fitofarmaka. Penggolongan tersebut didasarkan pada tingkat pembuktian ilmiah, mutu bahan, serta tahapan pengujian yang telah dilalui suatu produk. Pengetahuan mengenai penggolongan obat bahan alam dapat membantu lansia memilih produk herbal yang lebih tepat. Pemahaman terhadap keamanan penggunaan obat juga menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko penggunaan yang kurang sesuai pada kelompok lanjut usia (Yuda dkk., 2022).
Meski demikian, masih banyak lansia yang belum mengetahui jenis lain dari obat bahan alam. Sebagian besar lansia lebih mengenal jamu karena penggunaannya telah dilakukan secara turun-temurun. Jamu juga masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Hingga saat ini, jamu masih terus dilestarikan dan mudah ditemukan melalui penjual jamu keliling di berbagai daerah.
Sebagai bentuk peningkatan pengetahuan kesehatan, mahasiswa D-III Keperawatan VOKASI UNAIR melakukan edukasi mengenai penggolongan obat berbahan alam. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Ketapang Lor, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik. Edukasi dilakukan menggunakan media sederhana berupa papan obat dan leaflet. Melalui kedua media tersebut, para lansia lebih mudah menerima materi yang disampaikan.
Mengenal Perbedaan Jamu, OHT, dan Fitofarmaka
Jamu merupakan bentuk obat bahan alam yang paling dikenal oleh masyarakat Indonesia. Khasiat jamu diperoleh berdasarkan pengalaman empiris dan telah digunakan secara turun-temurun. Produk jamu sering dimanfaatkan untuk membantu menjaga kebugaran tubuh, mengurangi rasa tidak nyaman, atau meningkatkan kenyamanan fisik pada lansia. Walaupun berasal dari bahan alam, penggunaan jamu tetap perlu memperhatikan aturan pakai, keamanan produk, dan izin edar. Hal ini penting agar mutu serta kualitas produk tetap terjaga (BPOM, 2023).
Obat Herbal Terstandar atau OHT memiliki tingkat pembuktian yang lebih tinggi dibandingkan jamu. Produk ini telah melalui uji praklinik dan menggunakan bahan baku yang distandarisasi. Proses standarisasi dilakukan untuk menjaga kualitas bahan agar tetap konsisten. Dengan demikian, manfaat produk dapat lebih terukur. Pada kelompok lansia, pemilihan OHT juga perlu memperhatikan kondisi kesehatan dan penggunaan obat lain secara bersamaan. Pengelolaan obat pada lansia membutuhkan perhatian terhadap cara penggunaan dan penyimpanan agar manfaatnya lebih optimal (Assalwa dkk., 2021).
Fitofarmaka merupakan kategori obat bahan alam dengan tingkat pembuktian tertinggi. Produk ini telah melalui uji praklinik dan uji klinik pada manusia. Fitofarmaka juga didorong sebagai bagian dari pelayanan kesehatan berbasis bukti melalui penyusunan formularium fitofarmaka nasional. Kehadiran fitofarmaka menunjukkan bahwa obat bahan alam dapat dimanfaatkan lebih luas apabila keamanan, mutu, dan efektivitasnya telah memenuhi persyaratan ilmiah (Kementerian Kesehatan RI, 2022).
Pentingnya Pemahaman Obat Bahan Alam bagi Lansia
Memasuki usia lanjut, tubuh mengalami perubahan yang dapat memengaruhi respons terhadap obat maupun bahan alam tertentu. Penurunan fungsi tubuh, penyakit kronis, serta penggunaan beberapa jenis obat dalam waktu bersamaan dapat meningkatkan risiko interaksi. Risiko tersebut dapat terjadi apabila produk herbal digunakan tanpa memperhatikan kondisi kesehatan pengguna.
Oleh karena itu, pemilihan obat bahan alam perlu mempertimbangkan legalitas produk, aturan penggunaan, serta bukti keamanan dan mutu produk. Lansia juga perlu memahami bahwa produk herbal tidak selalu aman untuk semua kondisi. Literasi kesehatan yang baik dapat membantu kelompok lanjut usia menggunakan obat secara lebih rasional dan aman (Kavit dkk., 2022).
Bijak Memilih Obat Bahan Alam
Pemahaman mengenai perbedaan jamu, OHT, dan fitofarmaka dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Hal ini penting terutama bagi kelompok lanjut usia yang cukup sering menggunakan produk herbal. Dengan pengetahuan yang baik, penggunaan obat bahan alam dapat dilakukan secara lebih aman, terarah, dan sesuai kebutuhan kesehatan individu.
Produk herbal sebaiknya dipilih dengan memperhatikan aturan pakai, izin edar, serta kebutuhan kesehatan pengguna. Lansia juga perlu lebih berhati-hati apabila memiliki penyakit tertentu atau sedang mengonsumsi obat dari tenaga kesehatan. Dengan cara tersebut, manfaat obat bahan alam dapat diperoleh secara optimal tanpa mengabaikan aspek keamanan.
Obat Bahan Alam sebagai Inovasi Farmasi
Saat ini, Obat Bahan Alam atau OBA masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat, terutama kelompok lansia. Meski demikian, tren penggunaan OBA juga mulai berkembang pada generasi muda. Jamu, misalnya, tidak lagi hanya dipandang sebagai produk tradisional, tetapi juga mulai dikemas secara lebih modern dan menarik.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa obat bahan alam memiliki potensi besar sebagai inovasi farmasi. Bahan bakunya yang bersumber dari kekayaan alam Indonesia dapat menjadi nilai tambah dalam pengembangan produk kesehatan. Dengan pengolahan yang tepat, OBA tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga mendukung pemanfaatan bahan alam secara aman, bermutu, dan bermanfaat bagi masyarakat.
[BACA JUGA: Edukasi Penggolongan Obat berdasarkan Indikasi Klinis untuk Meningkatkan Penggunaan Obat yang Rasional]
Penulis: Mahmudhotin Anifah
Pembimbing: Susilo Harianto
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



