Mengenal Obat Bahan Alam melalui Edukasi Jamu, OHT, dan Fitofarmaka

VOKASI NEWS – Obat berbahan alam masih menjadi pilihan banyak masyarakat Indonesia untuk menjaga kesehatan maupun mengatasi keluhan ringan. Namun, tidak semua masyarakat memahami bahwa produk herbal memiliki tingkatan yang berbeda berdasarkan bukti ilmiah dan proses pengembangannya. Pemahaman tersebut penting agar masyarakat dapat memilih produk yang aman, tepat, dan sesuai kebutuhan.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar edukasi mengenai penggolongan obat bahan alam kepada ibu-ibu PKK di Perumahan Graha Bunder Asri (GBA), Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, pada Sabtu (9/5/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi masyarakat mengenai perbedaan jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka.

Mengenal Perbedaan Jamu, OHT, dan Fitofarmaka

Materi edukasi diawali dengan penjelasan mengenai tiga golongan obat bahan alam yang beredar di Indonesia. Pemateri menjelaskan bahwa jamu merupakan obat tradisional yang khasiatnya didasarkan pada pengalaman penggunaan secara turun-temurun.

Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan Obat Herbal Terstandar (OHT). Produk ini telah melalui uji praklinik dan menggunakan bahan baku yang telah distandarisasi sehingga memiliki dasar ilmiah yang lebih kuat dibandingkan jamu.

Peserta juga memperoleh informasi mengenai fitofarmaka. Golongan ini merupakan obat bahan alam dengan tingkat pembuktian ilmiah tertinggi karena telah melalui uji praklinik dan uji klinik. Oleh sebab itu, keamanan dan khasiatnya telah didukung oleh penelitian ilmiah.

Selain memahami klasifikasi tersebut, peserta diajak mengenali logo resmi pada kemasan produk herbal. Mahasiswa juga menjelaskan manfaat, aturan penggunaan, kemungkinan efek samping, serta pentingnya memilih produk yang telah memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Edukasi Interaktif Tingkatkan Pengetahuan Peserta

Penyampaian materi dilakukan melalui presentasi, diskusi, dan sesi tanya jawab. Tim mahasiswa juga memanfaatkan poster serta papan penggolongan obat sebagai media pembelajaran. Pendekatan visual tersebut membantu peserta memahami materi dengan lebih mudah.

Sebelum edukasi dimulai, peserta mengerjakan pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal. Setelah seluruh materi selesai disampaikan, peserta kembali mengerjakan post-test sebagai bentuk evaluasi.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 74,44 pada pre-test menjadi 93,61 pada post-test. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode edukasi interaktif mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggolongan obat bahan alam.

Mendorong Penggunaan Obat Bahan Alam yang Rasional

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa setiap produk herbal memiliki tingkat pembuktian ilmiah yang berbeda. Pengetahuan tersebut dapat membantu masyarakat memilih produk sesuai indikasi, memperhatikan aturan pakai, serta memahami pentingnya menggunakan produk yang telah memiliki izin edar.

Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk implementasi pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan mahasiswa D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga. Melalui edukasi yang berkelanjutan, mahasiswa berharap literasi kesehatan masyarakat terus meningkat sehingga penggunaan obat bahan alam dapat dilakukan secara lebih aman, tepat, dan bertanggung jawab.

[BACA JUGA: Saat Obat Tak Selalu Diminum: Edukasi Sediaan Obat Khusus Tingkatkan Literasi Masyarakat]

Penulis: Tiyesa Angelia

Pembimbing: Susilo Harianto

Editor: Alkeshar (Tim Vokasi Branding)