VOKASI NEWS – Kebisingan di lingkungan kerja merupakan salah satu faktor bahaya fisik yang tidak hanya berdampak pada gangguan pendengaran. Kebisingan juga dapat memengaruhi kondisi psikologis pekerja, salah satunya stres kerja.
Paparan kebisingan yang terjadi secara terus-menerus dapat menurunkan konsentrasi, mengganggu komunikasi, meningkatkan kelelahan, hingga memicu respons stres tubuh. Apabila kondisi tersebut tidak dikendalikan, produktivitas kerja dapat menurun. Risiko terjadinya kesalahan maupun kecelakaan kerja juga akan meningkat, terutama pada lingkungan workshop yang memiliki tingkat kebisingan tinggi.
Hubungan Kebisingan dengan Tingkat Stres Kerja
Selain dipengaruhi oleh kebisingan, stres kerja juga berkaitan dengan karakteristik individu, seperti usia, tingkat pendidikan, waktu kerja, dan masa kerja. Oleh karena itu, dilakukan penelitian pada pekerja workshop PT ABC untuk mengetahui kekuatan hubungan antara intensitas kebisingan dan karakteristik pekerja dengan tingkat stres kerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas kebisingan tertinggi di area workshop mencapai 91 dBA, sehingga melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) kebisingan sebesar 85 dBA untuk waktu kerja delapan jam. Sebagian besar pekerja memiliki tingkat stres kerja pada kategori normal. Meskipun demikian, hasil analisis menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas kebisingan yang diterima pekerja, semakin tinggi pula kecenderungan tingkat stres kerja yang dialami. Kekuatan hubungan tersebut berada pada kategori sedang.
Paparan kebisingan yang berlangsung secara terus-menerus dapat mengganggu konsentrasi, komunikasi, dan kenyamanan selama bekerja. Kondisi tersebut memicu respons stres fisiologis melalui pelepasan hormon stres. Apabila terjadi secara berulang, kondisi tersebut dapat meningkatkan kelelahan, menurunkan kemampuan berkonsentrasi, serta memperbesar risiko munculnya stres kerja. Oleh karena itu, pengendalian kebisingan menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan fisik dan mental pekerja.
Karakteristik Pekerja Memengaruhi Tingkat Stres
Selain intensitas kebisingan, karakteristik individu juga menunjukkan hubungan dengan tingkat stres kerja. Usia memiliki kekuatan hubungan kategori sedang. Pekerja dengan usia lebih tua cenderung mengalami tingkat stres kerja yang lebih tinggi akibat menurunnya kemampuan fisiologis dalam beradaptasi terhadap tuntutan pekerjaan. Waktu kerja juga menunjukkan hubungan kategori sedang karena durasi kerja yang lebih panjang dapat menyebabkan akumulasi kelelahan fisik dan mental serta mengurangi waktu pemulihan tubuh.
Masa kerja berhubungan dengan tingkat stres kerja. Semakin lama seseorang bekerja, semakin besar akumulasi paparan kebisingan dan tuntutan pekerjaan yang diterima sehingga berpotensi meningkatkan kejenuhan dan tekanan psikologis. Sementara itu, tingkat pendidikan memiliki arah hubungan negatif. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki tingkat stres kerja yang lebih rendah. Kemampuan memahami pekerjaan dan menghadapi tekanan kerja yang lebih baik menjadi salah satu penyebabnya.
Upaya Mengurangi Dampak Kebisingan di Tempat Kerja
Berdasarkan hasil penelitian, perusahaan disarankan untuk meningkatkan kepatuhan penggunaan earplug. Perusahaan juga disarankan untuk melakukan pemantauan intensitas kebisingan secara berkala, serta memberikan edukasi mengenai dampak kebisingan terhadap kesehatan dan stres kerja. Perusahaan juga disarankan untuk menerapkan rotasi kerja pada area dengan tingkat kebisingan tinggi. Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi paparan kebisingan sekaligus menjaga kesehatan fisik dan psikologis pekerja sehingga produktivitas kerja tetap optimal.
[BACA JUGA: Membangun Kesiapan Karier di Era AI, HIMTI GOIN’ 2026 Kunjungi Ordo Apps]
Penulis: Valentino Juliannoko Pratama
Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)



