Asupan Cairan Minim, Pekerja Pengantongan Pupuk Rentan Terpapar Dehidrasi

VOKASI NEWS – Kecukupan asupan cairan menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan pekerja, terutama pada lingkungan kerja dengan paparan panas. Namun, masih banyak pekerja yang belum memenuhi kebutuhan cairan hariannya sehingga berisiko mengalami dehidrasi. Kondisi tersebut terungkap dalam kajian mahasiswa Sarjana Terapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) VOKASI UNAIR terhadap pekerja pengantongan pupuk di PT X, Kabupaten Gresik.

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2026 ini bertujuan menganalisis hubungan antara asupan cairan dan iklim kerja terhadap status hidrasi pekerja. Kajian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap 26 pekerja laki-laki di bagian pengantongan pupuk. Data dikumpulkan melalui kuesioner konsumsi cairan harian, pengukuran Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) menggunakan alat Questemp 36, serta penilaian warna urin sebagai indikator status hidrasi.

Sebagian Besar Pekerja Belum Memenuhi Kebutuhan Cairan

Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 92,31 persen pekerja memiliki asupan cairan yang masih tergolong kurang selama bekerja. Hanya dua pekerja yang memenuhi rekomendasi konsumsi air minimal 3,7 liter per hari.

Rendahnya konsumsi cairan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah terbatasnya akses air minum di area kerja dan waktu istirahat yang relatif singkat. Padahal, pekerja dengan aktivitas fisik sedang hingga berat membutuhkan lebih banyak cairan. Asupan tersebut diperlukan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang melalui keringat.

Iklim Kerja Panas Meningkatkan Risiko Dehidrasi

Pengukuran iklim kerja menunjukkan nilai ISBB sebesar 28,6°C pada Conveyor 1 dan 29,0°C pada Conveyor 2. Nilai tersebut masih berada di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) sesuai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 untuk beban kerja sedang.

Meskipun demikian, paparan panas yang berlangsung terus-menerus tetap berpotensi meningkatkan kehilangan cairan tubuh. Kondisi tersebut membuat pekerja lebih rentan mengalami dehidrasi apabila kebutuhan cairan tidak terpenuhi selama bekerja.

Status Hidrasi Didominasi Dehidrasi Sedang

Penilaian status hidrasi berdasarkan warna urin menunjukkan hanya 7,69 persen pekerja berada pada kondisi hidrasi normal. Sebaliknya, sebanyak 46,15 persen mengalami dehidrasi sedang, 38,46 persen mengalami dehidrasi ringan, dan 7,69 persen mengalami dehidrasi berat.

Hasil analisis juga memperlihatkan hubungan yang kuat antara asupan cairan dengan status hidrasi, dengan nilai Koefisien Kontingensi sebesar 0,707. Sementara itu, hubungan antara iklim kerja dan status hidrasi hanya mencapai 0,365. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kecukupan konsumsi air minum memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap kondisi hidrasi pekerja dibandingkan paparan panas lingkungan kerja.

Penyediaan Air Minum Perlu Menjadi Prioritas

Berdasarkan hasil kajian, perusahaan disarankan menyediakan fasilitas air minum yang mudah dijangkau di area pengantongan pupuk serta menerapkan jadwal minum secara berkala selama jam kerja. Edukasi mengenai pentingnya rehidrasi juga perlu diberikan agar pekerja memahami risiko dehidrasi dan membiasakan diri memenuhi kebutuhan cairan selama bekerja.

Pemenuhan asupan cairan yang memadai tidak hanya berperan dalam menjaga kesehatan pekerja, tetapi juga membantu mempertahankan konsentrasi, produktivitas, dan keselamatan kerja. Dengan demikian, upaya sederhana seperti penyediaan akses air minum yang memadai dapat menjadi langkah preventif untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat dehidrasi di lingkungan kerja.

[BACA JUGA: Evaluasi Sistem Informasi Akuntansi dan Pengendalian Internal atas Perubahan Harga Supplier]

Penulis: Al Hafizh Abnan

Pembimbing: Indah Lutfiya S.KM., M.Kes

Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)