Inovasi Cerdas Pascapanen: Menjaga Kualitas Cengkeh dengan Sistem Penyimpanan Berbasis IoT

VOKASI NEWS- Cengkeh merupakan salah satu komoditas rempah strategis Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar global (Siagian, 2023). Komoditas ini dimanfaatkan dalam industri kuliner, kosmetik, hingga farmasi. Oleh karena itu, menjaga kualitas cengkeh setelah panen menjadi langkah penting untuk mempertahankan nilai jualnya. Namun, tahap penyimpanan masih menjadi tantangan bagi petani dan pelaku industri.

Salah satu penyebabnya adalah sifat higroskopis cengkeh. Sifat tersebut membuat cengkeh mudah menyerap kembali uap air dari udara atau dikenal sebagai fenomena re-wetting (Sutriyono & Ali, 2018). Akibatnya, kelembapan yang tidak terkontrol dapat memicu pertumbuhan jamur pembusuk. Kondisi ini juga menurunkan mutu serta kadar eugenol secara signifikan.

Sistem penyimpanan berbasis IoT sebagai solusi

Selama ini, metode penyimpanan konvensional menggunakan wadah pasif masih memiliki keterbatasan dalam menghadapi perubahan cuaca yang ekstrem (Susanto et al., 2021). Oleh karena itu, dikembangkan sistem penyimpanan cengkeh otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Sistem ini dirancang menyerupai oven cerdas berbahan stainless steel yang dilengkapi lapisan insulasi.

Selain berfungsi sebagai ruang penyimpanan, alat tersebut mampu menjaga kestabilan mikroklimat secara otomatis. Dengan demikian, kondisi penyimpanan tetap berada pada kisaran yang sesuai untuk mempertahankan mutu cengkeh.

Pusat kendali sistem menggunakan mikrokontroler dengan mekanisme closed-loop sehingga mampu merespons perubahan lingkungan secara otomatis (Hakim et al., 2022). Selanjutnya, sensor presisi tinggi memantau suhu dan kelembapan secara real-time. Ketika suhu menurun atau kelembapan melebihi batas aman, sistem segera mengaktifkan elemen pemanas keramik dan kipas sirkulasi. Proses tersebut menjaga suhu ideal pada kisaran 43°C hingga 47°C tanpa memerlukan pengoperasian manual (Ahmad et al., 2021).

Meningkatkan kualitas cengkeh pascapanen

Selain pengendalian otomatis, sistem ini memiliki keunggulan berupa konektivitas nirkabel. Melalui jaringan internet, kondisi penyimpanan dapat dipantau dari jarak jauh menggunakan ponsel maupun laptop. Oleh sebab itu, proses pengawasan menjadi lebih mudah dan efisien.

Berdasarkan hasil pengujian teknis, sistem penyimpanan berbasis IoT mampu mengevaporasi kelembapan berlebih hingga lima kali lebih efektif dibandingkan metode penyimpanan menggunakan wadah tertutup biasa. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengendalian suhu dan kelembapan secara otomatis mampu menjaga kualitas cengkeh dengan lebih optimal.

Dengan demikian, inovasi penyimpanan cerdas ini membuktikan bahwa penerapan teknologi modern dapat menjadi solusi praktis bagi permasalahan penyimpanan hasil pertanian. Ke depan, pemanfaatan teknologi IoT diharapkan mampu membantu menjaga kualitas cengkeh pascapanen secara konsisten. Selain itu, penerapan teknologi ini juga berpotensi meningkatkan stabilitas nilai jual cengkeh sekaligus memperkuat daya saing komoditas rempah Indonesia.

[BACA JUGA: VIDING 2026: Learn Together, Explore Industry]

Penulis: Alf Rachman Putra Satria

Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)