VOKASI NEWS – Dispepsia menjadi salah satu gangguan pencernaan yang sering dialami masyarakat, termasuk mahasiswa. Kondisi ini ditandai dengan rasa tidak nyaman pada bagian ulu hati, mual, kembung, cepat kenyang, serta rasa penuh setelah makan. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 13–40 persen populasi dunia mengalami dispepsia setiap tahun.
Di Indonesia, angka kejadian dispepsia menunjukkan peningkatan dari 10 juta jiwa pada 2022 menjadi setara dengan 11,3 persen penduduk pada 2023. Sementara itu, Kota Surabaya turut mencatat angka kejadian yang cukup tinggi, terutama pada kelompok mahasiswa.
Pendekatan terapi melalui stimulasi titik telinga
Penanganan dispepsia umumnya dilakukan menggunakan obat-obatan, seperti antasida dan penghambat pompa proton. Namun, penggunaan obat dalam jangka panjang perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan efek tertentu. Oleh karena itu, pendekatan terapi komplementer mulai dikembangkan sebagai alternatif pendukung dalam mengurangi gejala dispepsia.
Salah satu pendekatan tersebut adalah auriculopressure. Teknik ini merupakan metode stimulasi titik tertentu pada daun telinga yang dipercaya memiliki hubungan dengan organ tubuh. Dalam perspektif Traditional Chinese Medicine (TCM), dispepsia berkaitan dengan ketidakseimbangan fungsi Lambung, Limpa, dan Hati.
Titik Shenmen diketahui berperan dalam membantu memberikan efek relaksasi pada sistem saraf. Selain itu, stimulasi titik Lambung dan Hati digunakan untuk membantu mendukung fungsi pencernaan. Penelitian Chen (2019) menunjukkan bahwa stimulasi titik auricular berpotensi membantu memperbaiki fungsi gastrointestinal.
Uji coba terapi pada mahasiswa di Surabaya
Yumanisa Anye Wahyu Diaz, mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengobat Tradisional Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, melakukan penelitian mengenai pengaruh terapi auriculopressure pada titik Shenmen, Hati, dan Lambung terhadap penurunan gejala dispepsia.
Penelitian tersebut menggunakan metode true experimental dengan desain pretest-posttest control group. Sebanyak 34 responden perempuan berusia 18–25 tahun yang berdomisili di Surabaya dan mengalami gejala dispepsia sedang terlibat dalam penelitian ini.
Responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan memperoleh terapi auriculopressure menggunakan biji Vaccaria yang ditempelkan pada titik Shenmen, Hati, dan Lambung. Sementara itu, kelompok kontrol hanya menerima plester tanpa penekanan.
Tingkat keparahan gejala diukur menggunakan kuesioner Short Form Leeds Dyspepsia Questionnaire (SF-LDQ). Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah pemberian intervensi selama 14 hari.
Hasil penelitian menunjukkan penurunan gejala dispepsia
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor gejala dispepsia pada kelompok perlakuan. Rata-rata skor SF-LDQ mengalami penurunan dari 12,29 menjadi 6,58 dengan selisih 5,70 poin.
Sebaliknya, kelompok kontrol hanya mengalami perubahan kecil. Skor SF-LDQ menurun dari 12,35 menjadi 12,29 dengan selisih 0,05 poin. Berdasarkan uji paired sample t-test, perbedaan skor sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok perlakuan menunjukkan hasil yang bermakna secara statistik (p<0,05).
Temuan tersebut menunjukkan bahwa terapi auriculopressure pada titik Shenmen, Hati, dan Lambung berpotensi membantu menurunkan gejala dispepsia. Dengan demikian, terapi ini dapat menjadi salah satu pendekatan komplementer nonfarmakologis yang perlu dikaji lebih lanjut.
Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan durasi intervensi yang lebih panjang, yaitu 21–30 hari. Langkah tersebut diperlukan agar perubahan gejala dapat diamati secara lebih optimal dalam jangka menengah.
Ilustrasi titik Shenmen, Hati, dan Lambung pada daun telinga yang distimulasi dalam terapi auriculopressure | Foto: Dokumen Skripsi Yumanisa Anye Wahyu Diaz
[BACA JUGA: Strategi Tepat Perusahaan Konstruksi Surabaya Hadapi SP2DK dari Kantor Pelayanan Pajak]
Penulis: Yumanisa Anye Wahyu Diaz
Pembimbing: Rini Hamsidi dan Andry Hartanto
Editor: Sinta (Tim Vokasi Branding)



