VOKASI NEWS – Pemeriksaan ultrasonografi (USG) merupakan salah satu metode pencitraan medis yang paling sering digunakan karena aman, cepat, dan tidak menggunakan radiasi. Namun, kualitas citra USG tidak hanya dipengaruhi oleh alat, melainkan juga oleh media penghantar berupa gel yang digunakan selama pemeriksaan.
Gel USG komersial umumnya menggunakan Carbomer 940, yaitu polimer sintetis yang mampu menghantarkan gelombang ultrasonik dengan baik. Di sisi lain, penggunaan bahan sintetis secara terus-menerus menimbulkan tantangan karena sifatnya yang non-biodegradable. Kondisi tersebut mendorong pengembangan bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Salah satu bahan yang memiliki potensi besar adalah Aloe vera (lidah buaya) yang memiliki kandungan air tinggi dan mudah diperoleh di Indonesia.
Mengapa Lidah Buaya?
Lidah buaya selama ini dikenal sebagai tanaman yang banyak dimanfaatkan pada bidang kesehatan dan kosmetik. Kandungan air yang tinggi menjadikan tanaman ini berpotensi digunakan sebagai media penghantar gelombang ultrasonik. Namun, penggunaan Aloe vera murni masih memiliki kelemahan, terutama pada stabilitas viskositas dan daya simpan. Oleh karena itu, dilakukan pengembangan gel dengan mengombinasikan Carbomer 940 dan Aloe vera sehingga penggunaan bahan sintetis dapat dikurangi tanpa menurunkan kualitas diagnostik.
Mengukur Kualitas Citra USG
Penelitian dilakukan menggunakan phantom filet dada ayam yang dimodifikasi menjadi dua jenis lesi. Jenis lesi tersebut terdiri atas lesi kistik dengan balon berisi air dan lesi solid dengan balon berisi pasir. Pengujian menggunakan empat jenis gel, yaitu satu gel standar dan tiga formulasi campuran Carbomer 940 sebesar 0,5% dengan Aloe vera. Tiga formulasi tersebut terdiri atas F1 (25%), F2 (40%), dan F3 (55%).
Kualitas citra dievaluasi secara kuantitatif menggunakan dua parameter, yaitu Signal to Noise Ratio (SNR) dan Contrast to Noise Ratio (CNR). SNR digunakan untuk menilai kekuatan sinyal terhadap noise pada citra, sedangkan CNR digunakan untuk mengetahui kemampuan citra dalam membedakan lesi dengan jaringan di sekitarnya.
Formulasi F2 Menjadi yang Paling Optimal
Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi F2, yaitu campuran Carbomer 940 sebesar 0,5% dengan Aloe vera 40%, memberikan performa terbaik dibandingkan formulasi lainnya. Pada lesi kistik, formulasi F2 menghasilkan nilai SNR tertinggi dan menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan gel standar. Sementara itu, pada lesi solid, formulasi F2 juga memperoleh nilai SNR dan CNR tertinggi, meskipun secara statistik tidak berbeda signifikan dengan gel komersial. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penambahan Aloe vera hingga 40% masih mampu mempertahankan proses transmisi gelombang ultrasonik. Kondisi tersebut membuat kualitas citra yang dihasilkan tetap optimal.
Mendukung Gel USG yang Lebih Berkelanjutan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa campuran Carbomer 940 dan Aloe vera berpotensi menjadi alternatif gel USG yang lebih ramah lingkungan tanpa mengurangi kualitas citra diagnostik. Formulasi tersebut juga dapat menjadi salah satu inovasi untuk mengurangi penggunaan polimer sintetis. Selain itu, formulasi ini turut memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia. Pengembangan gel berbasis bahan alami diharapkan dapat mendukung inovasi teknologi kesehatan yang lebih berkelanjutan dan ekonomis. Inovasi tersebut juga diharapkan tetap memenuhi kebutuhan pemeriksaan radiologi modern.
Penulis: Anisa Kharisma Salsabila
Pembimbing: Alifatus Wahyu Nur Ma’rifah dan Weni Purwanti
Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)



