VOKASI NEWS – Seorang pasien menjalani dua pemeriksaan tuberkulosis (TB) secara bersamaan. Pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF Ultra menunjukkan bakteri terdeteksi, sedangkan pengecatan Basil Tahan Asam (BTA) melalui mikroskop menunjukkan hasil negatif.
Dua pemeriksaan untuk penyakit yang sama dapat memberikan hasil berbeda. Namun, kondisi tersebut bukan berarti terjadi kesalahan alat. Perbedaan hasil mencerminkan prinsip kerja kedua metode yang memang tidak sepenuhnya sama.
Melihat Bakteri vs Membaca Jejaknya
Pengecatan BTA bekerja dengan prinsip mewarnai bakteri agar dapat terlihat melalui mikroskop. Setelah itu, bakteri dihitung berdasarkan jumlah yang ditemukan pada sediaan dahak.
Namun, metode tersebut memiliki keterbatasan karena kemampuan pengamatan mata manusia juga terbatas. Bakteri baru dapat teramati apabila jumlahnya mencapai sekitar 5.000 hingga 10.000 basil per mililiter dahak. Oleh karena itu, jumlah bakteri yang lebih rendah dapat menyebabkan hasil pengecatan terlihat negatif, meskipun infeksi masih berlangsung (Rimal et al., 2022).
Berbeda dengan pengecatan BTA, GeneXpert MTB/RIF Ultra bekerja dengan mendeteksi jejak DNA bakteri. Metode ini tidak mencari bentuk fisik bakteri, tetapi mengidentifikasi materi genetik melalui proses amplifikasi.
Dengan kemampuan tersebut, GeneXpert dapat mendeteksi keberadaan bakteri dalam jumlah yang lebih rendah dibandingkan pemeriksaan mikroskopis. Hal ini memungkinkan infeksi teridentifikasi lebih awal sebelum jumlah bakteri cukup banyak untuk terlihat melalui mikroskop (Cepheid, 2023).
Ketika Bakteri Tinggal Sedikit
Kondisi ketika jumlah bakteri sangat sedikit dikenal sebagai paucibacillary. Pada kondisi tersebut, GeneXpert dapat memberikan hasil dengan kategori “low”, “very low”, atau “trace”.
Kategori tersebut menunjukkan bahwa sinyal DNA bakteri berhasil terdeteksi, tetapi jumlahnya berada mendekati batas terendah kemampuan alat dalam membaca sampel (Chin et al., 2019).
Sebuah penelitian di Rumah Sakit Universitas Airlangga mencoba menelusuri kesesuaian hasil tersebut. Penelitian dilakukan untuk mengetahui seberapa sering pengecatan BTA dapat mengonfirmasi hasil GeneXpert kategori detected low.
Dari sembilan sampel dahak dengan kategori detected low, delapan sampel menunjukkan hasil BTA positif. Sementara itu, satu sampel lainnya menunjukkan hasil negatif. Hasil tersebut menunjukkan tingkat kesesuaian yang tinggi antara kedua metode, meskipun belum sepenuhnya mencapai kesamaan seratus persen.
Bukan Berarti Salah Satu Keliru
Perbedaan hasil antara GeneXpert dan BTA bukan menunjukkan bahwa salah satu metode mengalami kegagalan. GeneXpert mampu mendeteksi DNA bakteri, termasuk kemungkinan berasal dari bakteri yang sudah tidak aktif atau tidak lagi hidup. Kondisi tersebut tidak dapat diketahui melalui pengecatan BTA (Bagrecha et al., 2024).
Selain itu, persebaran bakteri dalam dahak tidak selalu merata. Sebagian sampel dapat mengandung jumlah bakteri lebih sedikit dibandingkan bagian lain dari dahak yang sama. Akibatnya, hasil pemeriksaan dapat berbeda meskipun berasal dari satu pasien.
Dua Metode, Satu Tujuan yang Sama
Ketidaksesuaian hasil pemeriksaan menjadi alasan kedua metode tetap digunakan secara berdampingan. GeneXpert memiliki keunggulan dalam mendeteksi kasus dengan jumlah bakteri rendah.
Sementara itu, pengecatan BTA masih memiliki peran penting karena metode tersebut lebih sederhana, mudah dilakukan, dan dapat diterapkan di berbagai fasilitas kesehatan.
Dengan demikian, penggunaan kedua metode secara bersamaan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi pasien. Kombinasi hasil pemeriksaan membantu tenaga kesehatan dalam menentukan diagnosis dan penanganan tuberkulosis secara lebih tepat.
[BACA JUGA: Masih Tepatkah Reference interval Trombosit yang Digunakan Selama Ini?]
Penulis: Salsabila Windasari
Pembimbing: Aliyah Siti Sundari & Nurul Wiqoyah
Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



