VOKASI NEWS – Mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Anya Indras Sweri, meneliti faktor-faktor pembentuk perilaku aman pekerja di industri beton pracetak.
Keselamatan Kerja Bukan Sekadar Memakai APD
Kecelakaan kerja masih menjadi persoalan serius di berbagai sektor industri, terutama manufaktur. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) melaporkan hampir 2,93 juta pekerja meninggal setiap tahun akibat kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Sementara itu, BPJS Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 370.747 kasus kecelakaan kerja terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2023. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penerapan keselamatan kerja masih memerlukan perhatian berkelanjutan (International Labour Organization, 2023; BPJS Ketenagakerjaan, 2024).
Sebagian besar kecelakaan kerja tidak hanya dipengaruhi kondisi lingkungan, tetapi juga tindakan tidak aman yang dilakukan pekerja. Heinrich menjelaskan bahwa sekitar 88% kecelakaan kerja dipicu oleh unsafe action. Oleh karena itu, perubahan perilaku menjadi salah satu strategi utama dalam upaya pencegahan kecelakaan (Muda et al., 2022).
Mengapa Perilaku Aman Penting?
Industri beton pracetak termasuk sektor dengan tingkat risiko tinggi. Sektor ini melibatkan penggunaan alat berat, mesin produksi, material berbobot besar, serta aktivitas pengecoran. Kondisi tersebut ditemukan pada PT Beton Prima Indonesia di Mojokerto, Jawa Timur. Oleh sebab itu, perilaku keselamatan menjadi faktor penting dalam menjaga keselamatan selama proses produksi.
Penelitian terhadap 73 pekerja produksi dilakukan menggunakan desain cross-sectional. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara safety knowledge, safety attitude, dan safety motivation dengan safety behavior. Analisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki hubungan yang signifikan terhadap perilaku keselamatan pekerja.
Motivasi Keselamatan Menjadi Faktor Terkuat
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 54,8% pekerja memiliki tingkat safety knowledge yang tinggi. Persentase yang sama juga tercatat pada pekerja dengan safety attitude positif. Sebanyak 79,5% pekerja telah menunjukkan safety behavior yang baik. Namun demikian, 60,3% pekerja masih memiliki safety motivation yang tergolong rendah sehingga menjadi perhatian penting bagi perusahaan.
Analisis statistik memperlihatkan bahwa safety knowledge memiliki hubungan positif dengan safety behavior (ρ 0,421). Safety attitude memiliki hubungan yang lebih kuat (ρ 0,532), sedangkan safety motivation menunjukkan hubungan paling kuat terhadap perilaku keselamatan pekerja (ρ 0,634). Temuan tersebut menunjukkan bahwa dorongan untuk bekerja secara aman memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan pengetahuan saja.
Temuan tersebut sejalan dengan teori Griffin dan Neal. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku keselamatan terbentuk melalui kombinasi kemampuan pekerja dalam memahami prosedur kerja serta motivasi untuk menerapkannya secara konsisten. Pengetahuan tanpa motivasi belum tentu menghasilkan perilaku kerja yang aman (Griffin dan Neal, 2000).
Membangun Budaya Keselamatan yang Berkelanjutan
Peningkatan keselamatan kerja tidak cukup dilakukan melalui penyediaan alat pelindung diri maupun penyusunan prosedur kerja. Program pelatihan yang berkelanjutan dan komunikasi keselamatan yang efektif menjadi langkah penting untuk meningkatkan motivasi pekerja. Penghargaan terhadap perilaku aman serta keterlibatan aktif pimpinan dalam membangun budaya keselamatan turut berperan penting.
Lingkungan kerja yang mampu menumbuhkan pengetahuan, membentuk sikap positif, dan memperkuat motivasi keselamatan akan menghasilkan perilaku kerja yang lebih aman. Upaya tersebut bukan hanya berkontribusi pada penurunan angka kecelakaan kerja, tetapi juga mendukung produktivitas perusahaan serta menciptakan tempat kerja yang sehat dan berkelanjutan.
[BACA JUGA: Penerapan Prinsip 5C dalam Meminimalisir Risiko Kredit Modal Kerja pada Bank Mandiri SME Surabaya Niaga]
Penulis: Anya Indras Sweri
Pembimbing: Fadilatus Sukma Ika Noviarmi
Editor: Nadya Tika (Tim Branding Vokasi)



