Mampukah Artificial Intelligence Menjadi Asisten Analis Laboratorium?

VOKASI NEWS – Bayangkan sebuah laboratorium yang mampu mengenali jenis sel darah putih hanya dalam hitungan detik. Saat ini, teknologi yang dahulu identik dengan dunia fiksi ilmiah mulai menjadi bagian dari pelayanan kesehatan melalui Artificial Intelligence (AI).

Salah satu inovasi tersebut adalah smart diagnostic. Teknologi berbasis AI ini mampu mengidentifikasi jenis leukosit secara otomatis melalui citra apusan darah tepi. Dengan adanya teknologi tersebut, proses pemeriksaan laboratorium berpeluang menjadi lebih cepat tanpa mengurangi ketelitian hasil.

Setiap kali tubuh mengalami infeksi, peradangan, atau gangguan sistem imun, leukosit menjadi salah satu komponen darah yang mengalami perubahan. Oleh karena itu, pemeriksaan diferensial leukosit memiliki peran penting dalam membantu dokter menentukan diagnosis dan penanganan pasien.

Hingga saat ini, pemeriksaan diferensial leukosit masih dilakukan secara manual menggunakan mikroskop. Metode tersebut menjadi gold standard karena analis laboratorium dapat mengamati morfologi sel secara langsung. Namun demikian, pemeriksaan manual membutuhkan waktu, ketelitian tinggi, serta pengalaman pemeriksa. Kondisi tersebut dapat menyebabkan variasi hasil antar analis.

Artificial Intelligence sebagai Pendukung Pemeriksaan Leukosit

Kemajuan AI mulai memberikan solusi terhadap keterbatasan pemeriksaan manual. Melalui pemanfaatan algoritma deep learning, sistem smart diagnostic mampu mendeteksi dan mengklasifikasikan jenis leukosit berdasarkan karakteristik morfologinya.

Selain itu, perkembangan metode Convolutional Neural Network (CNN) dan algoritma You Only Look Once (YOLO) semakin meningkatkan kemampuan sistem dalam mengenali sel darah putih. Sejalan dengan perkembangan tersebut, Hasanah et al. (2025) melalui scoping review menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam klasifikasi leukosit terus berkembang dan berpotensi meningkatkan efisiensi pemeriksaan hematologi.

Meskipun demikian, sebagian besar penelitian masih menggunakan dataset publik. Oleh sebab itu, validasi menggunakan sampel laboratorium nyata tetap diperlukan sebelum teknologi ini diterapkan secara luas.

Hasil Pengujian AI dalam Identifikasi Leukosit

Untuk mengetahui kemampuan teknologi tersebut dalam praktik laboratorium, dilakukan pengujian terhadap 77 preparat apusan darah tepi. Hasil pemeriksaan AI kemudian dibandingkan dengan pemeriksaan manual.

Berdasarkan hasil pengujian, AI mampu mengenali neutrofil dengan tingkat kesesuaian yang sangat baik dibandingkan metode manual. Sementara itu, pada limfosit, monosit, dan eosinofil masih ditemukan beberapa perbedaan hasil.

Basofil menjadi jenis leukosit yang paling sulit dikenali secara konsisten. Walaupun demikian, secara umum hasil klasifikasi AI menunjukkan kesesuaian yang baik dengan pemeriksaan manual. Temuan tersebut menunjukkan bahwa AI memiliki potensi untuk mendukung proses pemeriksaan di laboratorium klinik.

AI sebagai Mitra Kerja Analis Laboratorium

Perkembangan teknologi AI menunjukkan bahwa sistem ini belum dapat menggantikan peran analis laboratorium. Sebaliknya, AI dapat menjadi alat bantu yang meningkatkan efisiensi pemeriksaan.

Melalui teknologi tersebut, proses identifikasi leukosit dapat dilakukan lebih cepat. Selain itu, penggunaan AI juga mampu mengurangi variasi subjektivitas antar pemeriksa. Namun, verifikasi manual tetap diperlukan, terutama pada sampel dengan morfologi sel yang kompleks atau abnormal.

Langkah tersebut penting agar hasil pemeriksaan tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, perpaduan antara teknologi AI dan keahlian analis laboratorium dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih optimal.

Masa Depan Laboratorium Klinik Berbasis Digital

Perkembangan AI menjadi salah satu langkah penting dalam transformasi laboratorium klinik di era digital. Seiring dengan algoritma yang terus disempurnakan dan data pelatihan yang semakin beragam, kemampuan sistem ini diperkirakan akan terus meningkat.

Pada akhirnya, AI bukanlah pengganti analis laboratorium. Namun, teknologi ini menjadi mitra kerja yang membantu menghasilkan pemeriksaan lebih cepat, konsisten, dan tetap mengutamakan akurasi. Kehadiran AI diharapkan mampu mendukung pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas pada masa mendatang.

[BACA JUGA: Mengenal Hewan Unik melalui Picture Book Berbahasa Inggris “Let’s Be Friends” untuk anak-anak]

Penulis: Indah Dwi Winarno

Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)