VOKASI NEWS – Pencegahan ISPA pada balita dapat dilakukan melalui pola hidup bersih, gizi seimbang, imunisasi lengkap, dan mengenali gejala sejak dini agar anak tetap sehat.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami balita di Indonesia. Penyakit ini umumnya ditandai dengan gejala batuk, pilek, demam, hidung tersumbat, hingga sesak napas. Karena sistem kekebalan tubuh balita belum berkembang secara optimal, mereka lebih rentan mengalami infeksi yang disebabkan oleh virus maupun bakteri.
Penularan ISPA dapat terjadi melalui udara yang mengandung percikan droplet dari penderita, terutama di lingkungan dengan ventilasi yang kurang baik atau rumah yang dihuni banyak anggota keluarga. Oleh karena itu, penerapan langkah-langkah pencegahan sederhana di rumah menjadi upaya penting untuk melindungi balita dari risiko infeksi.
Menjaga Kebersihan Rumah dan Sirkulasi Udara
Lingkungan rumah yang bersih dan memiliki sirkulasi udara yang baik dapat membantu menurunkan risiko penularan ISPA. Orang tua dianjurkan membuka jendela setiap pagi agar udara di dalam rumah berganti dengan udara segar dari luar sekaligus mengurangi kelembapan yang dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme.
Selain itu, balita perlu dijauhkan dari paparan asap rokok maupun asap hasil pembakaran lainnya. Kandungan zat berbahaya dalam asap rokok dapat mengganggu fungsi paru-paru anak, sedangkan asap obat nyamuk bakar berpotensi menimbulkan iritasi saluran pernapasan. Membersihkan debu secara rutin juga menjadi langkah sederhana untuk mengurangi paparan kuman dan alergen di dalam rumah.
Gizi Seimbang dan Imunisasi Perkuat Daya Tahan Tubuh
Pencegahan ISPA juga perlu didukung dengan pemenuhan gizi seimbang. Asupan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga balita lebih mampu melawan infeksi.
Bagi bayi berusia di bawah enam bulan, pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif menjadi perlindungan alami yang penting. ASI mengandung berbagai zat kekebalan tubuh yang membantu melindungi bayi dari infeksi. Orang tua juga perlu memastikan anak memperoleh imunisasi lengkap sesuai jadwal. Langkah ini membantu melindungi anak dari berbagai penyakit infeksi yang dapat memperberat kondisi ISPA.
Kenali Gejala Sejak Dini
Orang tua juga perlu memahami tingkat keparahan gejala ISPA. Gejala ringan umumnya berupa batuk, pilek, demam, dan suara serak. Kewaspadaan perlu ditingkatkan jika anak mengalami napas cepat, yaitu 40 kali atau lebih per menit pada usia satu hingga lima tahun.
Anak harus segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila muncul tanda bahaya. Gejalanya meliputi sesak napas berat, kulit membiru, atau tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas. Penanganan yang cepat dapat mencegah kondisi menjadi lebih berat.
Pencegahan Dimulai dari Rumah
Pencegahan ISPA sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan kebiasaan orang tua dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Lingkungan rumah yang bersih, pemenuhan gizi yang baik, imunisasi lengkap, serta deteksi dini terhadap gejala penyakit merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan balita.
Sebagai penanganan awal terhadap keluhan ringan, orang tua juga dapat memberikan terapi inhalasi sederhana menggunakan uap hangat yang dicampur minyak kayu putih untuk membantu melegakan saluran pernapasan. Namun, apabila gejala tidak membaik atau semakin berat, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap menjadi pilihan utama.
Melalui upaya pencegahan yang dilakukan secara konsisten, balita diharapkan dapat tumbuh sehat, terhindar dari ISPA, dan menjalani masa tumbuh kembang secara optimal.
[BACA JUGA: Restitusi PPN Perkuat Arus Kas Perusahaan, Dukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan]
Penulis: Laila Rahmadani Nasution
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)


