VOKASI NEWS – Proses penuaan menyebabkan penurunan kemampuan gerak pada lansia. Kekuatan otot, keseimbangan, dan ketepatan gerak tubuh dapat mengalami perubahan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi aktivitas sehari hari pada lansia. Aktivitas fisik menjadi salah satu cara menjaga fungsi tubuh tetap optimal.
Aktivitas fisik dapat dilakukan melalui senam, jalan pagi, dan pekerjaan rumah ringan. Gerakan tubuh yang dilakukan secara rutin membantu menjaga kekuatan otot dan kelenturan sendi. Aktivitas tersebut juga membantu mempertahankan kemampuan koordinasi tubuh. Lansia yang aktif cenderung memiliki kemampuan gerak lebih baik dibandingkan lansia kurang aktif.
Koordinasi Mata dan Tangan pada Lansia
Koordinasi mata dan tangan merupakan kemampuan tubuh dalam menyelaraskan penglihatan dengan gerakan tangan. Kemampuan tersebut diperlukan saat mengambil barang, memegang benda, dan melakukan aktivitas harian. Penurunan koordinasi dapat menyebabkan aktivitas sehari hari menjadi lebih lambat. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko jatuh pada lansia.
Aktivitas fisik membantu meningkatkan kerja sama antara sistem saraf, penglihatan, dan otot tubuh. Gerakan yang dilakukan secara rutin membuat tubuh lebih cepat merespons rangsangan visual. Kondisi tersebut membantu meningkatkan ketepatan gerakan tangan saat beraktivitas. Oleh karena itu, aktivitas fisik memiliki hubungan dengan koordinasi mata dan tangan pada lansia.
Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilakukan pada lansia berusia 60 sampai 74 tahun di RW 01 Donowati Sukomanunggal Surabaya. Jumlah sampel penelitian sebanyak 47 orang yang terdiri dari laki laki dan perempuan. Subjek yang memenuhi kriteria penelitian diberikan penjelasan mengenai tujuan dan proses penelitian. Lansia yang bersedia mengikuti penelitian diminta menandatangani lembar persetujuan penelitian atau informed consent.
Pengukuran aktivitas fisik menggunakan kuesioner Physical Activity Scale for Elderly atau PASE. Subjek diberikan kuesioner dan pulpen untuk mengisi aktivitas fisik selama tujuh hari terakhir. Pengisian kuesioner dapat dilakukan melalui wawancara apabila subjek mengalami kesulitan membaca atau menulis. Cara tersebut membantu memperoleh data aktivitas fisik secara lebih jelas dan terarah.
Pemeriksaan Koordinasi Mata dan Tangan
Pemeriksaan koordinasi mata dan tangan menggunakan alternate hand wall toss test dengan bantuan bola tenis. Peneliti menjelaskan teknik pemeriksaan dan mempraktikkan gerakan sebelum tes dilakukan. Subjek diberikan kesempatan melakukan uji coba sebanyak tiga kali tangkapan sebelum pemeriksaan dimulai. Tahapan tersebut membantu subjek memahami gerakan dengan benar.
Subjek berdiri sejauh satu meter dari dinding sambil memegang bola tenis menggunakan tangan dominan. Bola dilempar ke dinding kemudian ditangkap menggunakan tangan yang berlawanan secara bergantian. Pemeriksaan dilakukan selama tiga puluh detik dengan jumlah tangkapan sebanyak mungkin. Hasil tangkapan dicatat sebagai data koordinasi mata dan tangan pada lansia.
Keamanan dan Hasil Penelitian
Keamanan subjek menjadi perhatian selama proses pemeriksaan berlangsung. Peneliti menyediakan kursi dan memberikan pendampingan selama tes dilakukan. Pemeriksaan dihentikan apabila muncul tanda kelelahan, ketidaknyamanan, atau risiko jatuh pada lansia. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keselamatan seluruh subjek penelitian.
Program penelitian dilakukan dalam satu kali pertemuan dengan proses pengumpulan dan pengolahan data. Hasil penelitian menggunakan instrumen PASE menunjukkan mayoritas lansia memiliki aktivitas fisik kategori tinggi. Pemeriksaan alternate hand wall toss test menunjukkan mayoritas lansia memiliki koordinasi mata dan tangan kategori rendah dengan rata rata 21,31 tangkapan. Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan koordinasi mata dan tangan pada lansia di Komunitas Lansia Kelurahan Sukomanunggal Surabaya.
[BACA JUGA: Era Baru Pelaporan Keuangan, SAK ETAP to SAK EP]
Penulis : putri qurrot a’yuun
Pembimbing : Prof.Dr.dr.Imam Subadi,Sp.K.F.R.,N.M. & Devi Arianti.S.Fis.,M.Kes
Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



