VOKASI NEWS – Daun salam (Syzygium polyanthum) merupakan salah satu tanaman herbal yang juga banyak dimanfaatkan sebagai rempah penyedap masakan. Meski memiliki nilai ekonomi yang tinggi, daun salam tergolong mudah mengalami penurunan mutu setelah dipanen sehingga memerlukan proses pengeringan untuk memperpanjang masa simpan.
Sayangnya, proses pengeringan yang masih mengandalkan sinar matahari memiliki banyak keterbatasan. Suhu pengeringan sering kali tidak stabil. Proses ini juga bergantung pada kondisi cuaca dan berisiko mengalami kontaminasi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikembangkan alat pengering daun salam berbasis mikrokontroler Arduino Mega 2560. Sistem ini dipadukan dengan kontrol Fuzzy Logic Mamdani agar proses pengeringan menjadi lebih optimal.
Menghadirkan Sistem Pengering yang Lebih Cerdas
Alat pengering ini dirancang dalam bentuk oven kabinet berbahan aluminium berukuran 35 × 26,5 × 27 sentimeter. Sistem pemanas menggunakan PTC Ceramic Air Heater yang dipadukan dengan kipas DC untuk menjaga sirkulasi udara tetap merata selama proses pengeringan berlangsung.
Perangkat juga dilengkapi sensor suhu thermocouple tipe-K yang berfungsi memantau perubahan suhu secara real-time, sedangkan MOSFET digunakan sebagai pengatur daya pemanas. Seluruh pengaturan alat dapat dilakukan melalui layar TFT touchscreen berukuran 3,5 inci sehingga memudahkan pengguna dalam mengoperasikan sistem.
Keunggulan utama alat ini terletak pada penerapan sistem kontrol Fuzzy Logic Mamdani. Sistem ini menggunakan dua parameter masukan, yaitu error dan delta error suhu. Kedua parameter tersebut menghasilkan keluaran berupa nilai Pulse Width Modulation (PWM) melalui metode defuzzification centroid. Pengguna dapat memilih dua mode pengeringan sesuai kebutuhan. Mode herbal menggunakan suhu 60°C selama 2,5 jam. Sementara itu, mode rempah menggunakan suhu yang sama selama lima jam.
Suhu Lebih Stabil, Hasil Pengeringan Lebih Berkualitas
Hasil pengujian menunjukkan bahwa alat bekerja dengan tingkat presisi yang tinggi. Sensor suhu thermocouple memiliki rata-rata tingkat kesalahan (error) hanya sebesar 0,56 hingga 0,65 persen sehingga mampu memberikan pembacaan suhu yang akurat.
Penerapan kontrol Fuzzy Logic juga terbukti mampu menjaga suhu ruang pengering tetap stabil pada kisaran 59,0°C hingga 61,5°C ketika mencapai kondisi steady state. Stabilitas tersebut jauh lebih baik dibandingkan alat pengering tanpa sistem kontrol otomatis.
Pada pengujian mode herbal, sistem berhasil mempertahankan suhu rata-rata sebesar 58,8°C. Sebanyak 20 helai daun salam dengan berat awal 20,76 gram berhasil dikeringkan hingga berat akhirnya menjadi 7,60 gram.
Sementara itu, pada mode rempah, proses pengeringan berlangsung merata pada setiap tingkat rak. Daun salam yang dihasilkan memiliki tekstur lebih kaku, bentuk yang mengerut secara seragam, serta warna hijau kecokelatan tanpa mengurangi aroma khas maupun kandungan nutrisinya.
Mendukung Efisiensi Pascapanen dan UMKM Herbal
Pengembangan alat pengering otomatis ini tidak hanya menawarkan solusi teknis bagi proses pascapanen, tetapi juga memberikan manfaat bagi pelaku usaha herbal dan rempah. Sistem otomatis mampu menghasilkan kualitas produk yang lebih konsisten, mengurangi ketergantungan terhadap kondisi cuaca, serta meningkatkan efisiensi proses produksi.
Bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), teknologi ini berpotensi meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga mutu produk sehingga memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar.
Berkontribusi terhadap Pembangunan Berkelanjutan
Inovasi alat pengering daun salam berbasis Fuzzy Logic turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pengembangan teknologi ini sejalan dengan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penerapan inovasi berbasis sistem kontrol cerdas pada sektor pertanian dan pengolahan hasil panen.
Teknologi ini juga mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth). Sistem tersebut membantu meningkatkan produktivitas pelaku UMKM melalui proses pengeringan yang lebih efisien. Selain itu, teknologi ini berkontribusi pada SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Pengurangan food loss dan peningkatan kualitas produk mendorong pemanfaatan sumber daya yang lebih optimal dan berkelanjutan.
Dengan hadirnya alat pengering daun salam berbasis Fuzzy Logic, proses pengolahan pascapanen menjadi lebih modern, higienis, dan efisien. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi tepat guna dalam meningkatkan kualitas produk herbal Indonesia sekaligus memperkuat daya saing industri pengolahan hasil pertanian di era digital.
[BACA JUGA: Pengalaman Pelayanan Radioterapi Berhubungan dengan Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Lavalette Malang]
Penulis: Abdurrahman Al Faiz Al Atsary
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



