VOKASI NEWS – Pemeriksaan USG ligamen calcaneofibular (CFL) memiliki tantangan teknis akibat struktur ankle yang cekung dan tonjolan keras tulang malleolus lateral. Gel standar cair sering memicu artefak reverberation dan air gap. Hal ini terjadi karena sifat fisiknya yang mudah mengalir dan sulit mempertahankan jarak bantalan secara konsisten. Penelitian eksperimental semu ini melibatkan 16 relawan sehat yang tidak memiliki riwayat trauma ankle di Airlangga Wellness Center. Penelitian menggunakan transduser linear 10 MHz untuk membandingkan kualitas citra kualitatif dan kuantitatif antara gel standar cair dan gel pad pada pemeriksaan USG ligamen CFL.
Kualitas objektif (kuantitatif) berupa nilai Signal to Noise Ratio (SNR) dan Contrast to Noise Ratio (CNR) diukur secara digital melalui Region of Interest (ROI) menggunakan software ImageJ. Kualitas subjektif dinilai secara kualitatif oleh dua dokter spesialis radiologi muskuloskeletal melalui kuesioner. Data dianalisis menggunakan Shapiro–Wilk Test untuk menguji normalitas distribusi data. Selanjutnya, dilakukan uji Paired T-test pada data yang berdistribusi normal atau Wilcoxon Signed Rank Test pada data yang tidak berdistribusi normal. Uji Cohen’s Kappa juga dilakukan untuk menilai tingkat kesepakatan antar-observer berdasarkan hasil kuesioner dokter.
Hasil Analisis Citra
Secara kualitatif dan subjektif, inovasi gel pad menunjukkan keunggulan dalam meratakan kontur permukaan yang melengkung. Gel pad juga mampu mengeliminasi artefak celah udara (air gap) yang sering muncul pada pemeriksaan USG. Kondisi tersebut menghasilkan visualisasi serat fibrilar ligamen yang lebih tegas dan presisi. Berdasarkan uji Cohen’s Kappa terhadap penilaian dua dokter spesialis radiologi, derajat kesepakatan pada kelompok gel standar cair berada pada kategori cukup dengan nilai 0,333, sedangkan pada kelompok gel pad berada pada kategori rendah dengan nilai 0,169.
Secara kuantitatif dan objektif, kelompok gel standar cair menunjukkan perolehan nilai mean SNR dan CNR yang signifikan lebih tinggi dibanding gel pad karena meminimalkan atenuasi akustik. Kelompok gel standar cair menghasilkan nilai mean SNR sebesar 5,2969±0,64892 pada rentang 4,43–6,32, sedangkan gel pad menghasilkan mean 2,3238±1,52352 dengan rentang 0,48–5,14. Untuk CNR, kelompok gel standar cair memperoleh nilai mean 4,7831±0,84914 dengan rentang 3,73–6,69, sedangkan gel pad memperoleh mean 1,8763±1,25650 dengan rentang 0,70–5,21.
Melalui Saphiro Wilk Test (df=16), nilai SNR gel standar cair (Sig. 0,190), SNR gel pad (Sig. 0,090), dan CNR gel standar cair (Sig. 0,290) berdistribusi normal (p>0,05), sedangkan CNR gel pad tidak normal (Sig. 0,011). Hasil uji beda menunjukkan perbedaan yang sangat nyata dan signifikan antara kedua media (p<0,05), di mana signifikansi nilai SNR melalui Paired T-Test adalah 0,000 dan nilai CNR melalui Wilcoxon Signed-Rank Test adalah 0,001.
Karakteristik Media Penghantar
Karakteristik media penghantar berpengaruh langsung terhadap transmisi gelombang suara, kontras citra, deteksi lesi, dan visualisasi jaringan superfisial ankle. Gel standar cair memiliki keunggulan berupa fleksibilitas mekanis yang memberikan kebebasan penuh dalam menerapkan teknik probe compression dan gerakan heel-toeing. Manipulasi transduser tersebut membantu memisahkan batas echostruktur hyperechoic serat ligamen dari jaringan lemak bawah kulit yang bersifat hypoechoic. Oleh karena itu, gel standar cair lebih unggul dalam mempertahankan intensitas sinyal dan ketajaman kontras objek jaringan.
Namun, sifat gel cair yang mudah mengalir menyebabkan stand-off distance sulit dipertahankan secara konsisten pada area yang melengkung. Kondisi ini dapat memicu terbentuknya celah udara yang mengganggu transmisi gelombang suara dan menimbulkan artefak reverberation pada kulit. Sebaliknya, gel pad mampu meratakan kontur ankle dan menghilangkan artefak celah udara sehingga kualitas visualisasi menjadi lebih baik. Meskipun demikian, penurunan nilai kuantitatif pada gel pad diduga disebabkan oleh peningkatan atenuasi akustik internal pada bahan parafin dan gel wax serta keterbatasan sudut pergerakan probe yang dapat memicu efek anisotropi semu.
Kombinasi Rekomendasi Media Optimal
Secara keseluruhan, kedua media penghantar ini memiliki karakteristik dan keunggulan yang berbeda untuk mendukung akurasi diagnosis klinis. Gel standar cair sangat unggul dalam mempertahankan intensitas sinyal serta ketajaman kontras objek pencitraan jaringan. Sementara itu, gel pad sangat direkomendasikan sebagai solusi mutakhir untuk meminimalkan artefak pada area melengkung tajam. Kombinasi parameter pemindaian yang konsisten akan menjamin perolehan citra diagnostik yang optimal pada pemeriksaan muskuloskeletal.
[BACA JUGA: Penyelesaian SP2DK atas Penghasilan Bunga Pinjaman yang Belum Dilaporkan oleh WPOP]
Penulis: Ananda Valen Safitri
Pembimbing: Rosy Setiawati dan Ghinaa Rihadatul ‘Aisy Farhah
Editor: Aghnia Faizatus (Tim Branding Vokasi)



