VOKASI NEWS — Mahasiswa D-III Keperawatan VOKASI UNAIR mengedukasi ibu-ibu PKK Graha Bunder Asri tentang sediaan obat khusus, termasuk implan yang wajib dipasang oleh tenaga kesehatan.
Mendengar kata “implan”, sebagian besar masyarakat mungkin langsung membayangkan prosedur operasi yang rumit di rumah sakit. Sediaan obat yang satu ini memang terbilang unik dan masih asing bagi sebagian orang jika dibandingkan dengan obat minum (tablet atau sirup) yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Alhasil, muncul banyak pertanyaan di tengah masyarakat: apa itu obat implan, dan apa benar pemasangannya harus selalu melibatkan dokter atau tenaga Kesehatan.
Pertanyaan kritis ini dikupas oleh Kelompok 4 GR-2B Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi UNAIR. Kegiatan tersebut dilakukan melalui penyuluhan farmakologi di bawah bimbingan Dr. Hafna Ilmy Muhalla, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.M.B. Dalam kegiatan ini, mereka mengedukasi Ibu-Ibu PKK di Balai RW 06 Graha Bunder Asri tentang mitos dan fakta seputar sediaan obat khusus.
Mengenal Obat Implan dan Cara Kerjanya
Secara farmasetika, implan adalah sediaan obat khusus berbentuk batang kecil yang dirancang untuk ditanamkan ke dalam jaringan tubuh bawah kulit (subkutan) melalui prosedur medis tertentu. Berbeda dengan obat konvensional, implan menggunakan teknologi matriks khusus yang dapat terurai secara perlahan di dalam tubuh. Keunggulan utamanya adalah mampu melepaskan zat aktif obat secara bertahap dan konstan dalam jangka waktu yang sangat panjang, bahkan hingga hitungan tahun.
Lalu, apa benar pemasangannya harus selalu ke dokter atau tenaga medis? Jawabannya adalah ya, mutlak benar.
Masyarakat tidak boleh dan tidak bisa memasang atau melepas implan sendiri di rumah. Karena membutuhkan teknik steril dan prosedur penyayatan kecil, implan wajib dipasang oleh tenaga kesehatan yang kompeten di fasilitas pelayanan kesehatan. Namun, setelah terpasang, pasien diuntungkan karena tidak perlu repot mengingat jadwal minum obat harian, melainkan cukup melakukan kontrol rutin secara berkala untuk memantau posisi implan tersebut. Contoh nyata obat jenis ini di antaranya adalah kontrasepsi bawah kulit atau obat kemoterapi khusus seperti Gliadel Wafer.
Peningkatan Literasi Obat melalui Media Interaktif
Dalam penyuluhan di Graha Bunder Asri, tim mahasiswa tidak hanya menjelaskan tentang implan. Tim ini beranggotakan Alicia Desyifa, Arya Prajna, Aurellia Elviana, Gracela Yolanda, Nabila Astuti, Najwa Salsabila, dan Meida Aulia.
Mereka juga mengenalkan sediaan khusus lain, seperti inhalasi (inhaler) dan patch transdermal atau obat tempel kulit. Edukasi dilakukan melalui ceramah interaktif. Penyampaian materi juga didukung Papan Obat Interaktif dan Leaflet Edukatif.
Melalui media papan obat tersebut, warga bisa melihat langsung miniatur dan contoh nyata bentuk obat sediaan khusus. Penyuluhan ini sekaligus mengampanyekan gerakan DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) agar masyarakat lebih bijak dan cerdas dalam mengelola obat di lingkungan rumah tangga mereka.
Aksi nyata mahasiswa keperawatan ini terbukti memberikan dampak yang signifikan bagi literasi kesehatan warga lokal. Sebelum mendengarkan ceramah, para peserta diminta mengisi kuesioner pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal, di mana rata-rata pemahaman warga berada di angka 81,1%
Setelah penyampaian materi, demonstrasi alat peraga, dan diskusi dua arah selesai dilaksanakan, warga kembali mengisi lembar post-test. Hasilnya luar biasa, tingkat pemahaman Ibu-Ibu PKK melonjak drastis hingga mencapai 98,6%.
Lompatan angka ini menjadi bukti bahwa sediaan obat seperti implan dapat dipahami masyarakat awam. Sebelumnya, implan kerap dianggap rumit dan membingungkan. Namun, penyampaian yang kreatif dan edukatif membantu masyarakat memahaminya dengan lebih baik.
Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan tidak lagi tabu atau takut terhadap perkembangan teknologi obat-obatan. Sebaliknya, masyarakat diharapkan semakin cerdas dalam menggunakan obat secara aman di bawah pengawasan tenaga medis.
[BACA: Praktik Kerja Lapangan Meningkatkan Kompetensi Mahasiswa Vokasi]
Penulis: Nabila Astuti Khairani
Editor: Alkeshar (Tim Vokasi Branding)



