AV Shunt Lebih Efektif Menurunkan Kreatinin pada Pasien Gagal Ginjal yang Menjalani Hemodialisis

VOKASI NEWS – Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan kondisi penurunan fungsi ginjal yang bersifat progresif dan tidak dapat pulih kembali, sehingga penderita membutuhkan terapi pengganti ginjal berupa hemodialisis atau cuci darah. Prosedur ini memerlukan akses vaskular sebagai jalur keluar masuk darah, yaitu AV shunt (sambungan pembuluh darah permanen) dan kateter vena jugularis.

Jenis akses vaskular yang digunakan diketahui dapat memengaruhi kondisi hematologi dan biokimia darah pasien, seperti kadar hemoglobin, trombosit, dan kreatinin. Sebuah penelitian dilakukan terhadap 108 pasien GGK di Rumah Sakit Umum Daerah Bhakti Dharma Husada Surabaya. Penelitian tersebut mengungkap perbandingan kadar tiga parameter sebelum dan sesudah hemodialisis berdasarkan jenis akses vaskular yang digunakan. Sampel penelitian yang digunakan terbagi rata, yaitu 54 pasien pengguna AV shunt dan 54 pasien pengguna vena jugularis. Data penelitian diperoleh dari rekam medis dengan menggunakan teknik purposive sampling.

Kadar Hemoglobin dan Kreatinin Berubah Signifikan

Hasil analisis menggunakan uji Paired T-Test menunjukkan bahwa pada kelompok AV shunt maupun vena jugularis, kadar hemoglobin mengalami peningkatan yang signifikan setelah hemodialisis (p<0,05). Kadar hemoglobin pasien AV shunt meningkat dari rata-rata 9,95 g/dL menjadi 10,68 g/dL. Sementara itu, pada kelompok vena jugularis, kadar hemoglobin meningkat dari 8,87 g/dL menjadi 9,23 g/dL. Peningkatan ini disebabkan oleh berkurangnya toksin uremik serta efek hemokonsentrasi akibat proses ultrafiltrasi selama hemodialisis (Basile & Lomonte, 2015).

Kadar kreatinin pada kedua kelompok juga menunjukkan penurunan yang signifikan (p<0,05). Pada kelompok AV shunt, kadar kreatinin mengalami penurunan dari 14,84 mg/dL menjadi 4,64 mg/dL. Sementara itu, pada kelompok vena jugularis, kadar kreatinin turun dari 13,69 mg/dL menjadi 4,65 mg/dL. Penurunan ini terjadi karena mekanisme difusi dan ultrafiltrasi pada proses dialisis. Mekanisme tersebut berperan dalam mengeluarkan zat sisa metabolisme berukuran kecil, termasuk kreatinin, dari darah menuju cairan dialisat.

Berbeda dengan dua parameter sebelumnya, kadar trombosit tidak menunjukkan perbedaan signifikan sebelum dan sesudah hemodialisis pada kedua kelompok akses vaskular (p>0,05). Kondisi ini disebabkan karena trombosit yang teraktivasi akibat kontak darah dengan membran dializer dan kadar trombosit akan kembali mendekati nilai awal setelah prosedur selesai (Daugirdas & Bernardo, 2012).

AV Shunt Unggul dalam Efektivitas Pembersihan Kreatinin

Perbandingan antar kelompok dilakukan menggunakan uji Independent T-Test dan Mann-Whitney U. Hasil pengujian menunjukkan bahwa selisih perubahan kadar hemoglobin dan trombosit antara pengguna AV shunt dan vena jugularis tidak berbeda signifikan (p>0,05). Namun, selisih penurunan kadar kreatinin antar kedua kelompok terbukti berbeda signifikan. Penurunan kadar kreatinin pada kelompok AV shunt (10,20 mg/dL) lebih besar dibandingkan kelompok vena jugularis (9,04 mg/dL).

Temuan ini memperkuat bahwa AV shunt memiliki keunggulan dalam hal stabilitas aliran darah dibandingkan kateter vena jugularis. Kondisi tersebut memungkinkan proses pembersihan zat sisa metabolisme berlangsung lebih optimal. Aliran darah yang lebih adekuat pada AV shunt mendukung efisiensi proses hemodialisis secara keseluruhan. Meskipun demikian, kadar hemoglobin dan trombosit tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti terapi eritropoietin dan kondisi klinis masing-masing pasien.

Berdasarkan hasil tersebut, AV shunt tetap direkomendasikan sebagai pilihan akses vaskular jangka panjang bagi pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis rutin. Hal ini karena AV shunt memiliki risiko komplikasi yang lebih rendah dan efektivitas pembersihan kreatinin yang lebih baik dibandingkan kateter vena jugularis.

[BACA JUGA: Mengurangi Volume Kontras dan Flow Rate pada CCTA Tanpa Mengorbankan Kualitas Citra Arteri Koroner]

Penulis: Aninda Ayu

Pembimbing: Diah Puspita Rini, Belgis

Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)