VOKASI NEWS – Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu penyakit metabolik kronis yang jumlah penderitanya terus meningkat di Indonesia, termasuk di Jawa Timur. Penyakit ini ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah. Apabila tidak dipantau secara berkala, DMT2 dapat memicu berbagai komplikasi serius, salah satunya gangguan fungsi ginjal.
Karena itu, pengendalian kadar glukosa darah melalui pemeriksaan glukosa darah puasa (GDP) serta pemantauan fungsi ginjal melalui pemeriksaan kadar asam urat dan kreatinin menjadi bagian penting dalam penanganan pasien. Selain itu, lama pengobatan juga perlu dievaluasi, baik yang baru berlangsung beberapa bulan maupun telah bertahun-tahun. Evaluasi ini bertujuan mengetahui efektivitas terapi sekaligus mendeteksi dini risiko penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease) pada pasien DMT2.
Semakin Lama Menjalani Pengobatan, Apakah Kondisi Pasien Semakin Terkendali?
Mayoritas pasien diabetes melitus tipe 2 dalam pengamatan ini merupakan perempuan berusia lanjut (lansia), dengan proporsi terbesar berada pada kelompok masa pengobatan 4–6 bulan. Perempuan diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes melitus tipe 2 dibandingkan laki-laki. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, seperti pola makan, gaya hidup, dan perubahan hormonal. Sementara itu, kelompok lansia lebih rentan mengalami komplikasi karena fungsi organ tubuh secara alami mengalami penurunan seiring bertambahnya usia.
Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar glukosa darah puasa, asam urat, maupun kreatinin di antara lima kelompok masa pengobatan. Ketiga parameter tersebut cenderung mengalami fluktuasi selama masa terapi. Temuan ini menunjukkan bahwa lamanya seseorang menjalani pengobatan tidak secara otomatis membuat kadar glukosa darah puasa, asam urat, dan kreatinin menjadi lebih terkendali.
Apa yang Lebih Menentukan Keberhasilan Pengobatan?
Pengendalian kadar glukosa darah puasa, asam urat, dan kreatinin dipengaruhi oleh berbagai faktor lain. Faktor tersebut meliputi kepatuhan minum obat, ketepatan terapi, serta konsistensi menjalani perubahan pola hidup dan pola makan.
Dengan demikian, keberhasilan penanganan diabetes melitus tipe 2 tidak dapat hanya bergantung pada lamanya pengobatan. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif melalui kedisiplinan pasien dalam menjalani terapi, penerapan gaya hidup sehat, serta pemantauan rutin oleh tenaga kesehatan. Upaya tersebut diperlukan agar kadar glukosa darah dan fungsi ginjal tetap terjaga.
[BACA JUGA: Kesalahan Pengkreditan Pajak Masukan Berujung SP2DK pada PT X]
Penulis: Rahmat Firman Syah
Pembimbing: Anita Kurniati & Nur Septia Handayani
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



