VOKASI NEWS – Industri konstruksi memiliki risiko kecelakaan kerja lebih tinggi dibandingkan sektor industri lainnya. Kondisi tersebut menuntut penerapan budaya keselamatan yang kuat pada setiap aktivitas kerja. Budaya keselamatan memengaruhi perilaku pekerja dalam mengendalikan risiko di tempat kerja. Safety climate sering digunakan sebagai indikator untuk menggambarkan kondisi budaya keselamatan organisasi. Penelitian ini bertujuan menggambarkan budaya keselamatan pada pekerjaan sipil di PT X menggunakan instrumen NOSACQ-50.
Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Responden berjumlah 36 pekerja sipil yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire atau NOSACQ-50. Instrumen tersebut terdiri atas 50 pernyataan dalam tujuh dimensi keselamatan. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan nilai rerata setiap dimensi.
Hasil Pengukuran Dimensi Budaya Keselamatan dan Tantangan Prioritas Keselamatan
Mayoritas responden berusia 30–39 tahun, berpendidikan SMA, dan memiliki pengalaman kerja kurang dari lima tahun. Hasil menunjukkan enam dimensi budaya keselamatan berada pada kategori baik. Dimensi komitmen pekerja terhadap keselamatan memperoleh nilai rerata tertinggi sebesar 3,45. Dimensi prioritas keselamatan dan tidak ditoleransinya risiko bahaya memperoleh nilai terendah sebesar 2,88. Hasil tersebut menunjukkan budaya keselamatan pekerja sipil secara umum telah berada pada kategori baik.
Komitmen pekerja terhadap keselamatan yang tinggi menunjukkan kepedulian terhadap penerapan perilaku kerja aman. Pekerja telah menunjukkan kesediaan mematuhi prosedur keselamatan selama bekerja. Hasil tersebut mencerminkan adanya dukungan manajemen terhadap penerapan keselamatan kerja. Persepsi positif pekerja berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan kerja yang lebih aman. Kondisi tersebut mendukung peningkatan kinerja keselamatan organisasi secara berkelanjutan.
Dimensi prioritas keselamatan dan tidak ditoleransinya risiko bahaya memperoleh nilai paling rendah dibandingkan dimensi lainnya. Temuan tersebut menunjukkan sebagian pekerja masih mentoleransi risiko dalam menyelesaikan pekerjaan. Kondisi ini dapat dipengaruhi tuntutan produktivitas dan kebiasaan kerja di lapangan. Penelitian sebelumnya menyatakan safety climate mencerminkan implementasi budaya keselamatan dalam aktivitas organisasi. Oleh karena itu, perbaikan persepsi pekerja dapat memperkuat budaya keselamatan secara menyeluruh.
Peran NOSACQ-50 dan Karakteristik Pekerja dalam Membangun Budaya Keselamatan
Penggunaan NOSACQ-50 pada penelitian ini dinilai tepat untuk menggambarkan budaya keselamatan organisasi. Instrumen tersebut dikembangkan untuk mengukur safety climate berdasarkan persepsi pekerja terhadap keselamatan. Safety climate merupakan manifestasi yang mencerminkan kondisi safety culture dalam organisasi. Oleh sebab itu, pengukuran safety climate dapat digunakan untuk menggambarkan budaya keselamatan secara praktis. Pendekatan tersebut telah banyak digunakan pada penelitian konstruksi di berbagai negara.
Karakteristik individu juga menunjukkan perbedaan persepsi terhadap budaya keselamatan. Pekerja berpendidikan lebih tinggi cenderung memiliki persepsi keselamatan yang lebih baik. Pengalaman kerja turut memengaruhi kemampuan mengenali bahaya dan mengendalikan risiko pekerjaan. Namun, budaya keselamatan harus dibangun pada seluruh pekerja tanpa membedakan karakteristik individu. Upaya tersebut diperlukan untuk menciptakan penerapan keselamatan yang konsisten di lingkungan kerja.
Strategi Penguatan Budaya Keselamatan untuk Mencegah Kecelakaan Kerja
Perusahaan perlu meningkatkan program yang menekankan prioritas keselamatan dibandingkan target produksi. Penguatan kebijakan stop work authority dapat meningkatkan keberanian pekerja menghentikan pekerjaan tidak aman. Safety walk dan safety patrol juga perlu dilakukan secara berkala sebagai sarana pembelajaran. Komunikasi keselamatan harus melibatkan seluruh pekerja tanpa memandang masa kerja maupun tingkat pendidikan. Pendekatan tersebut diharapkan memperkuat budaya keselamatan dan menurunkan risiko kecelakaan kerja.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya keselamatan pada pekerjaan sipil di PT X tergolong baik. Enam dimensi NOSACQ-50 menunjukkan kategori baik berdasarkan persepsi pekerja. Dimensi prioritas keselamatan dan tidak ditoleransinya risiko bahaya masih memerlukan perhatian perusahaan. Penguatan komitmen manajemen dan partisipasi pekerja diperlukan untuk meningkatkan dimensi tersebut. Perbaikan berkelanjutan diharapkan mampu memperkuat budaya keselamatan dan mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
[BACA JUGA: Mahasiswa Vokasi UNAIR Kembangkan SPK Pemilihan Hero Draft-Pick Mobile Legends]
Penulis: Eva Seftiya Tomi Putri
Pembimbing: Fadilatus Sukma Ika Noviarmi
Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)



