Mahasiswa Vokasi UNAIR Kembangkan SPK Pemilihan Hero Draft-Pick Mobile Legends

VOKASI NEWS – Fase draft pick dalam permainan Mobile Legends Bang Bang (MLBB) kerap menjadi penentu kemenangan sebuah tim. Penentuan tersebut bahkan terjadi jauh sebelum pertandingan benar-benar dimulai. Pada fase yang berisi proses pelarangan (ban) dan pemilihan (pick) hero ini, keputusan harus diambil dalam waktu terbatas dengan mempertimbangkan banyak faktor sekaligus.

Berangkat dari persoalan tersebut, Firli Satriya Putri, mahasiswa Program Studi D-IV Teknik Informatika Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR), mengembangkan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) berbasis website. Sistem tersebut dirancang untuk merekomendasikan hero secara objektif. Karya tugas akhir tersebut dipaparkan dalam seminar skripsi yang berlangsung pada 7 Juli 2026 di Laboratorium Komputer Rekayasa Perangkat Lunak, Fakultas Vokasi UNAIR. Sistem ini menggabungkan dua metode pengambilan keputusan, yaitu Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Simple Additive Weighting (SAW).

Ketika Intuisi Belum Cukup

Pemilihan hero pada praktiknya masih sering mengandalkan intuisi, kebiasaan bermain, atau sekadar mengikuti meta tanpa evaluasi yang konsisten. Kondisi tersebut berisiko menghasilkan komposisi tim yang kurang seimbang, misalnya lemahnya kemampuan inisiasi atau minimnya sumber damage.

Padahal, pengetahuan mengenai kekuatan dan kecocokan hero sebenarnya telah dimiliki para pemain berpengalaman maupun pelatih, namun umumnya bersifat implisit serta belum terstruktur ke dalam kriteria yang terukur. Kesenjangan itulah yang mendorong perlunya pendekatan yang lebih sistematis dalam menyusun strategi draft pick. Pendekatan tersebut memungkinkan pertimbangan para ahli diubah menjadi bentuk penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mengubah Intuisi Menjadi Penilaian Terukur

Metode AHP digunakan untuk menentukan bobot enam kriteria utama, yaitu Difficulty, Crowd Control, Mobility, Utility, Durability, dan Offense, yang dijabarkan menjadi 24 subkriteria. Penentuan bobot dilakukan melalui perbandingan berpasangan sekaligus dilengkapi mekanisme uji konsistensi agar penilaian tidak bersifat acak dan tetap logis.

Setelah bobot diperoleh, metode SAW berperan menghitung nilai preferensi sekaligus menyusun peringkat dari 132 hero sebagai alternatif. Seluruh penilaian tidak ditentukan secara sembarangan, melainkan bersumber dari coach dan player UKM UNAIR Esports melalui pendekatan expert judgement. Hasil penilaian tersebut kemudian digabungkan menggunakan rata-rata geometrik dan dihitung secara terpisah untuk setiap role/lane.

“Pemilihan hero pada fase draft pick sebenarnya merupakan persoalan pengambilan keputusan multikriteria, bukan sekadar preferensi pemain. Sistem ini berupaya menerjemahkan pengalaman coach dan player menjadi penilaian yang terukur dan dapat dijelaskan,” ujar Firli Satriya Putri.

Bobot Menyesuaikan Peran, Akurasi Terbukti Tinggi

Hasil pembobotan memperlihatkan bahwa kebutuhan kriteria berbeda-beda pada tiap posisi. Kriteria Offense dan Mobility dominan pada role Jungling dan Gold Lane, Crowd Control menonjol pada Midlane dan Roamer, sedangkan Durability dan Crowd Control menjadi prioritas pada Exp Lane. Temuan ini menegaskan bahwa pembobotan yang dilakukan per posisi lebih merepresentasikan kondisi nyata dibandingkan satu bobot tunggal untuk seluruh peran.

Seluruh role/lane pun memperoleh nilai Consistency Ratio (CR) kurang dari atau sama dengan 0,10 yang menandakan penilaian para ahli konsisten dan logis. Pada role Jungling, hero Fredrinn menempati peringkat tertinggi dengan nilai preferensi 0,8830.

Sistem juga menyediakan tiga skenario rekomendasi, yaitu Default, Prioritas Aman, dan Prioritas Agresif, sehingga hasil rekomendasi dapat menyesuaikan kebutuhan strategi tim saat draft pick. Dari sisi fungsionalitas, pengujian black box membuktikan bahwa seluruh fungsi sistem berjalan secara valid. Sementara itu, akurasi kesesuaian terhadap pilihan coach mencapai 93,3 persen pada kategori Top-5.

Sistem yang dikembangkan menggunakan framework Flask dengan basis data PostgreSQL ini diharapkan mampu menjadi alat bantu pengambilan keputusan yang efektif bagi pemain maupun tim esports. Kehadiran SPK tersebut sekaligus menegaskan bahwa penyusunan komposisi tim pada fase draft pick dapat dilakukan secara lebih terarah. Sistem ini juga memungkinkan proses penyusunan tim berjalan secara lebih objektif dan transparan. Sistem ini juga membantu mengurangi ketergantungan pada intuisi maupun kebiasaan bermain semata.

[BACA JUGA: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan Akademik: Pentingnya Keseimbangan bagi Mahasiswa]

Penulis: Firli Satriya Putri

Pembimbing: Rachman Sinatriya Marjianto

Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)