VOKASI NEWS – Deadline tugas yang menumpuk, tekanan nilai, dan bayang-bayang skripsi kerap membuat mahasiswa terjebak dalam stres akademik tanpa disadari. Banyak yang baru menyadari kondisi ini setelah hal tersebut berdampak pada performa belajar hingga kesehatan mental. Berangkat dari keresahan tersebut, Naura Shahla Meisamarva, mahasiswa Program Studi D4 Teknik Informatika, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga, membangun StresCheck. Website ini membantu mahasiswa mengenali tingkat stres akademiknya melalui kuesioner singkat.
Idenya bermula dari pertanyaan sederhana, bagaimana cara mahasiswa bisa mengukur tingkat stres mereka tanpa harus menunggu kondisinya parah? Untuk merealisasikannya, Naura tidak bekerja sendiri. Ia menggandeng seorang psikolog klinis guna memastikan bahwa setiap gejala stres di dalam sistem benar-benar valid secara keilmuan, bukan sekadar tebakan.
Dengan bantuan psikolog klinis, disusun daftar gejala stres akademik yang paling umum dialami mahasiswa, lalu menerjemahkannya ke dalam logika komputasi. Hasilnya, mesin ini mampu memproses data dan menganalisis kondisi pengguna, persis seperti cara kerja seorang psikolog.
Meniru Cara Berpikir Pakar
Keunggulan utama StresCheck terletak pada cara sistemnya memproses data. Alih-alih menebak acak, sistem menelusuri gejala yang dipilih pengguna secara runtut. Proses ini menyerupai tahap demi tahap seorang pakar saat menganalisis kondisi kliennya, hingga bermuara pada satu kesimpulan.
Yang lebih istimewa, StresCheck tidak hanya mengelompokkan stres menjadi kategori ringan, sedang, atau berat. Sistem ini juga menyertakan tingkat keyakinan atas diagnosis tersebut, mirip seperti dokter yang menyampaikan persentase kepastian terhadap hasil pemeriksaannya.
“Sistem ini tidak dirancang untuk menggantikan peran psikolog, tetapi sebagai alat bantu skrining awal. Harapannya, mahasiswa lebih peka terhadap kondisi dirinya sebelum memutuskan untuk mencari bantuan profesional,” ujar Naura.
Hal lain yang membedakan StresCheck dari sekadar tes psikologi daring (online) biasa adalah tindak lanjut dari sistem itu sendiri. Setelah mengisi kuesioner dan mendapat hasil diagnosis, pengguna yang terindikasi membutuhkan penanganan serius akan disediakan jalur konsultasi langsung dengan psikolog. Dengan kata lain, StresCheck memosisikan diri sebagai pintu masuk pertama yang mengarahkan mahasiswa ke bantuan yang tepat, alih-alih membiarkan mereka mendiagnosis diri sendiri (self-diagnosis).
Teknologi yang Berpihak pada Kesehatan Mental
Bagi Naura, StresCheck bukan sekadar proyek pengembangan aplikasi. Aplikasi ini juga menjadi upaya untuk menjembatani dunia teknologi dan kesehatan mental yang selama ini masih jarang bersinggungan di kalangan mahasiswa.
Kepedulian semacam ini sejalan dengan semangat SDGs poin ketiga, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, yang menempatkan kesehatan mental setara pentingnya dengan kesehatan fisik. Lewat cara sederhana seperti mengisi kuesioner, StresCheck coba membumikan isu besar itu menjadi sesuatu yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa sehari-hari.
Melalui StresCheck, mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Airlangga membuktikan bahwa teknologi dapat dirancang untuk lebih dari sekadar efisiensi. Teknologi juga dapat menjadi teman pertama yang mengingatkan seseorang untuk berhenti sejenak dan memperhatikan kondisi mentalnya sendiri.
[BACA JUGA: Inovasi Digital untuk Mendukung Layanan Donor Darah]
Penulis: Naura Shahla Meisamarva
Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)



