VOKASI NEWS – Gen Z tumbuh dalam ekosistem digital yang bergerak cepat. Media sosial, notifikasi, pesan instan, dan algoritma rekomendasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, teknologi membantu proses belajar, bekerja, dan berkomunikasi. Namun, di sisi lain, teknologi juga dapat menjadi sumber distraksi yang mengganggu konsentrasi.
Fenomena ini memunculkan dilema antara deep work dan deep scrolling. Deep work menggambarkan kemampuan seseorang untuk fokus secara mendalam pada pekerjaan penting. Sementara itu, deep scrolling menunjukkan kebiasaan menggulir layar secara terus-menerus tanpa tujuan yang jelas. Dilema ini tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan pribadi, tetapi juga dengan kemampuan mengelola perhatian di tengah banjir data.
Dalam konteks mahasiswa, media sosial sering kali memberi kesan seolah-olah aktivitas digital selalu produktif. Menonton konten edukasi singkat, membaca utas inspiratif, atau mengikuti tren pembelajaran daring memang dapat memberi manfaat. Namun, manfaat tersebut tidak akan maksimal apabila tidak dilanjutkan dengan tindakan nyata, latihan, dan refleksi mendalam.
Ilusi Produktivitas Digital
Salah satu masalah utama di era digital adalah ilusi produktivitas. Seseorang dapat merasa telah belajar banyak hanya karena mengonsumsi banyak konten. Padahal, produktivitas tidak hanya diukur dari banyaknya informasi yang diterima, tetapi dari kemampuan mengolah informasi menjadi karya, keputusan, dan tindakan yang bermanfaat.
Ekonomi perhatian membuat situasi ini semakin kompleks. Banyak platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Notifikasi, video pendek, fitur gulir tanpa akhir, dan rekomendasi otomatis membuat pengguna sulit berhenti. Akibatnya, waktu yang semula dapat digunakan untuk belajar, menyusun tugas, atau mengembangkan keterampilan sering terserap oleh aktivitas digital yang tidak terencana.
Dalam sudut pandang Manajemen Perkantoran Digital, perhatian dapat dipahami sebagai aset kerja yang penting. Dunia kerja modern membutuhkan kemampuan untuk mengelola informasi, menyusun prioritas, dan menjaga fokus. Tanpa kemampuan tersebut, teknologi yang seharusnya membantu efisiensi justru dapat menurunkan kualitas kerja.
Negosiasi Diri di Tengah Banjir Informasi
Dilema antara deep work dan deep scrolling menunjukkan pentingnya negosiasi diri. Negosiasi tidak selalu terjadi antara dua pihak di ruang rapat. Dalam kehidupan digital, negosiasi juga terjadi ketika seseorang menentukan kapan harus terhubung dengan perangkat dan kapan harus memberi ruang bagi konsentrasi.
Mahasiswa perlu memiliki batasan digital yang jelas. Batasan tersebut dapat dilakukan dengan mengatur waktu penggunaan media sosial, mematikan notifikasi yang tidak mendesak, menggunakan aplikasi pengatur fokus, serta memisahkan perangkat untuk belajar dan hiburan. Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi gangguan digital.
Pengambilan keputusan juga dapat didukung oleh data pribadi. Fitur durasi layar pada gawai dapat digunakan untuk membaca pola penggunaan aplikasi. Data tersebut membantu pengguna memahami berapa banyak waktu yang digunakan untuk belajar, bekerja, hiburan, atau aktivitas yang kurang produktif. Dengan begitu, keputusan untuk mengatur ulang kebiasaan digital tidak hanya berdasarkan perasaan bersalah, tetapi berdasarkan data yang nyata.
Literasi Digital sebagai Ketahanan Fokus
Literasi digital tidak cukup dipahami sebagai kemampuan menggunakan teknologi. Selain itu, literasi digital mencakup kemampuan memilih informasi, menjaga etika komunikasi, melindungi data pribadi, dan mengendalikan perhatian.Dalam konteks ini, mahasiswa perlu membangun ketahanan fokus agar tidak mudah dikendalikan oleh arus informasi.
Institusi pendidikan juga memiliki peran penting. Pembelajaran digital sebaiknya tidak hanya mengenalkan aplikasi, tetapi juga membiasakan mahasiswa mengelola waktu, menyusun prioritas, dan berkomunikasi secara profesional. Keterampilan ini penting karena dunia kerja semakin bergantung pada sistem digital, kolaborasi daring, dan pengambilan keputusan berbasis data.
Pada akhirnya, media sosial bukan musuh produktivitas. Masalah muncul ketika penggunaan media sosial tidak dikelola dengan sadar. Gen Z memiliki peluang besar untuk menjadi generasi yang adaptif secara teknologi, asalkan mampu menguasai kembali perhatian dan waktu. Produktivitas sejati di era digital tidak ditentukan oleh seberapa sering seseorang hadir di ruang digital, tetapi oleh seberapa besar nilai yang mampu diciptakan dari teknologi tersebut.
[BACA JUGA: Latihan Sederhana untuk Flat Foot : Heel Raise Exercise Tingkatkan Stabilitas dan Keseimbangan]
Sumber:
UNESCO. (2023). Global Education Monitoring Report 2023: Technology in Education – A Tool on Whose Terms?
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. (2022). Status Literasi Digital Indonesia 2022: Laporan Survei Nasional.
Statista. (2024/2026). Social Media Trends: The Generation Gap.
Literatur mengenai distraksi digital, produktivitas Gen Z, dan manajemen komunikasi digital.
Penulis: Dinar Putri Ramadani
Editor: Catur Wulandari
Program Studi: Manajemen Perkantoran Digital
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



