VOKASI NEWS – Bagi operator valve di lapangan minyak dan gas, membungkuk, menjangkau, dan memutar katup merupakan aktivitas yang dilakukan setiap hari. Posisi valve yang tidak selalu ergonomis, seperti terlalu rendah atau berada di atas kepala, membuat pekerja harus melakukan gerakan dengan postur tubuh yang kurang ideal. Kondisi tersebut menjadi fokus penelitian skripsi mahasiswa Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) mengenai risiko ergonomi dan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada operator valve di salah satu perusahaan migas. Penelitian tersebut diujikan pada awal Juli 2026.
MSDs sering dianggap sebagai keluhan ringan yang dapat hilang setelah beristirahat. Namun, gangguan pada otot dan rangka dapat berkembang akibat aktivitas kerja yang dilakukan secara berulang dalam waktu lama. Keluhan seperti nyeri bahu, punggung kaku, dan rasa tidak nyaman dapat mengganggu produktivitas pekerja. Oleh karena itu, risiko ergonomi perlu menjadi perhatian, terutama pada pekerjaan lapangan yang melibatkan aktivitas fisik tinggi.
Mengukur Pegal dengan Standar Nasional
Penelitian dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap aktivitas operator valve saat bekerja. Tingkat risiko ergonomi dianalisis menggunakan SNI 9011:2021 tentang pengukuran dan evaluasi potensi bahaya ergonomi di tempat kerja. Sementara itu, keluhan MSDs diidentifikasi menggunakan kuesioner GOTRAK.
Melalui metode tersebut, berbagai aktivitas kerja dianalisis, seperti posisi membungkuk, jangkauan tangan, serta gaya genggam ketika memutar valve. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh pekerja berada pada kategori risiko ergonomi berbahaya. Selain itu, tidak ditemukan kondisi kerja yang masuk dalam kategori aman.
Keluhan MSDs paling banyak ditemukan pada bagian punggung atas dan punggung bawah. Keluhan tersebut juga cenderung meningkat pada pekerja dengan masa kerja yang lebih panjang. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi risiko ergonomi, semakin besar pula kemungkinan pekerja mengalami gangguan muskuloskeletal.
Posisi valve menjadi salah satu faktor yang memengaruhi risiko tersebut. Beberapa valve harus dijangkau dengan posisi membungkuk. Sementara itu, sebagian lainnya berada di tempat yang tinggi sehingga pekerja perlu mengangkat tangan di atas kepala. Apabila dilakukan secara terus-menerus, postur kerja tersebut dapat memberikan tekanan berlebih pada sistem otot dan rangka.
Dari Lapangan Migas untuk Agenda SDGs
Penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi risiko ergonomi, tetapi juga memberikan rekomendasi pengendalian bagi perusahaan. Beberapa upaya yang disarankan meliputi penyediaan tangga dan pijakan kerja yang stabil, penggunaan alat bantu pemutar valve, pemeriksaan kesehatan muskuloskeletal secara berkala, serta pelatihan mengenai postur kerja yang tepat.
Selain itu, pekerja perlu meningkatkan kesadaran terhadap kondisi tubuh selama bekerja. Pelaporan keluhan sejak tahap awal dapat membantu mencegah gangguan berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
Temuan penelitian ini berkaitan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs). Upaya menjaga kesehatan pekerja mendukung SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Sementara itu, penerapan lingkungan kerja yang aman dan layak sejalan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Perbaikan fasilitas kerja juga mendukung SDG 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Melalui penelitian ini, perusahaan diharapkan semakin memperhatikan aspek ergonomi dalam kegiatan operasional. Penerapan K3 bukan hanya bertujuan mengurangi risiko kecelakaan kerja, tetapi juga menjadi investasi untuk menjaga kesehatan, kenyamanan, dan produktivitas pekerja.
[BACA JUGA: Dua AI Jagoan Mahasiswa Vokasi UNAIR Kawal Beasiswa KIP-K]
Penulis: Fida Arum Febiati
Pembimbing: Tofan Agung Eka Prasetya
Editor: Sinta (Tim Vokasi Branding)



