VOKASI NEWS – Perkembangan radiologi intervensi telah menghadirkan berbagai inovasi yang mendukung tindakan medis menjadi lebih cepat, akurat, dan minim invasif. Salah satu teknologi yang banyak dimanfaatkan adalah C-Arm, perangkat pencitraan yang mampu menampilkan struktur tubuh secara real-time selama prosedur berlangsung. Teknologi ini banyak digunakan pada tindakan ortopedi, seperti pemasangan implan dan penanganan patah tulang, maupun prosedur kardiovaskular, termasuk pemasangan stent dan pemeriksaan pembuluh darah jantung.
Di balik manfaatnya yang besar, penggunaan sinar-X pada C-Arm juga menghasilkan radiasi hambur yang berpotensi diterima oleh tenaga kesehatan di sekitar alat, termasuk radiografer. Paparan radiasi dalam satu prosedur memang relatif kecil, tetapi sifat radiasi yang kumulatif menjadikan pemantauan dosis pekerja (occupational dose) sebagai bagian penting dalam menjaga keselamatan kerja di instalasi radiologi.
Mengukur Dosis Radiasi Selama Prosedur
Penelitian dilakukan dengan mengukur paparan radiasi menggunakan pen-dosimeter (pendose), yaitu alat pemantau radiasi yang mampu menampilkan besaran dosis secara langsung. Alat tersebut dikenakan radiografer di balik lead apron selama tindakan berlangsung sehingga mampu merekam dosis radiasi yang diterima selama bekerja.
Pengamatan dilakukan selama dua bulan terhadap 94 tindakan yang terdiri atas 30 prosedur ortopedi dan 64 prosedur kardiovaskular. Pada kelompok kardiovaskular, tindakan dibagi menjadi 32 prosedur diagnostik dan 32 prosedur terapeutik.
Paparan pada Tindakan Ortopedi Masih Rendah
Hasil pengukuran menunjukkan adanya variasi dosis radiasi berdasarkan lokasi tindakan ortopedi. Rata-rata dosis pada tindakan area hip/leg atau panggul dan tungkai tercatat sebesar 0,15 mikrosievert (µSv). Pada tindakan tulang belakang, rata-rata dosis mencapai 0,20 µSv, sedangkan tindakan pada lengan sebesar 0,22 µSv.
Paparan tertinggi ditemukan pada tindakan di area pelvis dengan rata-rata dosis sebesar 0,33 µSv. Prosedur tersebut juga memiliki waktu penggunaan fluoroskopi paling lama, yaitu sekitar 126 detik. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin lama fluoroskopi digunakan, semakin besar peluang terbentuknya radiasi hambur yang diterima tenaga kesehatan.
Prosedur Terapeutik Memberikan Paparan Lebih Besar
Pada pelayanan kardiovaskular, rata-rata paparan radiasi radiografer selama tindakan diagnostik tercatat sebesar 0,05 µSv. Sementara itu, tindakan terapeutik menghasilkan rata-rata dosis yang lebih tinggi, yaitu 0,26 µSv.
Perbedaan tersebut berkaitan dengan kompleksitas prosedur terapeutik yang umumnya membutuhkan waktu fluoroskopi lebih lama, penggunaan berbagai sudut pencitraan, serta pemantauan alat medis secara berkelanjutan di dalam pembuluh darah. Kondisi tersebut menyebabkan peluang terpapar radiasi hambur menjadi lebih besar dibandingkan prosedur diagnostik.
Prinsip ALARA Tetap Menjadi Prioritas
Meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis radiasi yang diterima radiografer masih berada pada tingkat rendah, pengendalian paparan tetap harus dilakukan secara konsisten. Radiasi memiliki sifat kumulatif sehingga paparan kecil yang diterima secara berulang dalam jangka panjang tetap memerlukan perhatian.
Penerapan prinsip As Low as Reasonably Achievable (ALARA) menjadi strategi utama dalam melindungi tenaga kesehatan. Prinsip tersebut dapat diterapkan dengan membatasi waktu berada di area paparan, menjaga jarak sejauh mungkin dari sumber radiasi, serta menggunakan alat pelindung seperti lead apron, pelindung tiroid, dan mobile shield secara tepat.
Melalui pemantauan dosis secara berkala dan penerapan budaya keselamatan radiasi yang baik, pelayanan radiologi intervensi dapat tetap memberikan manfaat optimal bagi pasien tanpa mengabaikan perlindungan terhadap tenaga kesehatan yang berada di balik layar C-Arm.
[BACA JUGA: Alat Sortir Berbasis PLC]
Penulis: Reninda Fradhea Dewi Syafana
Pembimbing: Alifatus Wahyu Nur Ma’rifah dan Soegardo Indra Praptono
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



