VOKASI NEWS – Pemahaman yang kurang tepat mengenai penggunaan obat topikal masih ditemukan di lingkungan masyarakat. Salah satu contohnya adalah anggapan bahwa salep dan krim merupakan sediaan yang sama. Hasil pre-test pada kegiatan edukasi sediaan obat setengah padat yang diselenggarakan mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga menunjukkan bahwa kesalahpahaman tersebut masih cukup umum ditemukan.
Kegiatan edukasi berlangsung pada 13 Mei 2026 di Jalan Babatan Pilang Raya No. 2, Kecamatan Wiyung, Surabaya. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Rizal Putut Adi Prasetyo, Adistiar Rahma Salsabila, Cahya Amalia Priandhini, Anggun Putri Rahayu, Allyea Khaerunissa, Shinta Oktavia Aila Ramadhani, Sena Satria Nusantara, dan Belvalinda Wahidah Aprilyta.
Melalui kegiatan tersebut, berbagai miskonsepsi mengenai penggunaan obat topikal dibahas dan diluruskan. Selain itu, masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai karakteristik berbagai jenis sediaan obat setengah padat. Dengan demikian, pemahaman mengenai penggunaan obat yang tepat dan aman dapat semakin meningkat.
Pentingnya Memahami Penggunaan Obat Topikal
Obat topikal merupakan sediaan yang digunakan pada permukaan kulit atau area tertentu tubuh. Berbagai jenis obat topikal, seperti salep, krim, gel, dan pasta, sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penggunaan yang sering dilakukan belum selalu diikuti dengan pemahaman yang tepat mengenai fungsi dan karakteristik masing-masing sediaan.
Miskonsepsi yang paling banyak ditemukan dalam pre-test adalah anggapan bahwa salep dan krim merupakan sediaan yang sama serta dapat saling menggantikan secara bebas. Untuk meluruskan pemahaman tersebut, mahasiswa menjelaskan perbedaan karakteristik kedua sediaan melalui papan edukasi dan contoh produk nyata.
Melalui pengamatan langsung, masyarakat dapat melihat bahwa salep memiliki tekstur yang lebih berminyak dan membantu menjaga kelembapan kulit. Sementara itu, krim memiliki tekstur yang lebih ringan serta mudah diserap kulit. “Beda ya ternyata teksturnya, yang krim lebih lembut dan ga berminyak kayak salep,” ujar salah satu warga setelah membandingkan kedua sediaan tersebut.
Penyampaian materi menggunakan contoh nyata membantu masyarakat memahami perbedaan fungsi dan penggunaan masing-masing sediaan dengan lebih mudah.
Penggunaan Obat Topikal pada Area Sensitif
Miskonsepsi berikutnya berkaitan dengan penggunaan obat topikal pada area genital. Beberapa peserta mengaku pernah menggunakan salep kulit biasa untuk mengatasi gatal pada area kemaluan. Hal tersebut terjadi karena adanya anggapan bahwa seluruh obat topikal aman digunakan pada semua bagian tubuh.
Melalui penyampaian materi, masyarakat memperoleh pemahaman bahwa area genital memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda dibandingkan kulit pada umumnya. Oleh karena itu, penggunaan obat pada area tersebut perlu dilakukan secara hati-hati dan disesuaikan dengan jenis sediaan yang memang diperuntukkan bagi area sensitif.
Selain itu, diskusi mengenai topik ini berlangsung cukup aktif. Banyak pertanyaan diajukan terkait penggunaan obat pada area sensitif. Melalui sesi diskusi tersebut, masyarakat memperoleh pemahaman mengenai pentingnya penggunaan obat yang sesuai dengan kondisi dan lokasi pemakaian.
Memilih Sediaan yang Tepat untuk Kondisi Kulit
Materi berikutnya membahas pemilihan sediaan yang tepat berdasarkan kondisi kulit. Masyarakat memperoleh pemahaman bahwa tidak semua jenis sediaan cocok digunakan pada setiap kondisi.
Penjelasan mengenai penggunaan salep dan pasta pada kondisi tertentu membantu masyarakat memahami bahwa pemilihan obat tidak ditentukan oleh anggapan bahwa suatu sediaan lebih kuat dibandingkan sediaan lainnya. Sebaliknya, keberhasilan penggunaan obat lebih ditentukan oleh kesesuaian antara jenis sediaan dan kondisi yang memerlukan penanganan.
Dengan demikian, pemahaman tersebut menjadi salah satu poin penting dalam kegiatan edukasi karena berkaitan langsung dengan penggunaan obat sehari-hari.
Media Edukasi Membantu Pemahaman Masyarakat
Papan sediaan obat yang dilengkapi contoh produk nyata membantu masyarakat melihat bentuk, tekstur, dan karakteristik setiap sediaan secara langsung. Oleh sebab itu, materi yang disampaikan menjadi lebih mudah dipahami.
Selain itu, leaflet dibagikan sebagai media informasi yang dapat dibaca kembali setelah kegiatan selesai. Kombinasi penyampaian materi, penggunaan media visual, dan diskusi interaktif menciptakan suasana pembelajaran yang komunikatif serta mudah dipahami oleh berbagai kelompok usia.
Peningkatan Pengetahuan Setelah Edukasi
Sebagai bentuk evaluasi, masyarakat mengerjakan post-test setelah seluruh materi selesai disampaikan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan jumlah jawaban benar dibandingkan hasil pre-test sebelum edukasi berlangsung.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa penyampaian materi melalui diskusi interaktif, pemanfaatan papan penggolongan obat yang dilengkapi contoh produk nyata, serta pembagian leaflet mampu membantu masyarakat memahami penggunaan sediaan obat setengah padat dengan lebih baik.
Selain itu, kegiatan edukasi juga berhasil meluruskan berbagai miskonsepsi yang masih ditemukan di lingkungan masyarakat. Dengan adanya kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami perbedaan fungsi dan karakteristik setiap sediaan obat topikal sehingga penggunaan obat dapat dilakukan secara lebih tepat, aman, dan rasional dalam kehidupan sehari-hari.
[BACA JUGA: Sediaan Obat Cair: Kenali Jenis dan Aturan Pakainya]
Penulis: Allyea Khaerunissa
Pembimbing : Dr. Hafna Ilmy Muhalla, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.M.B.
Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



