Fakta Unik Salonpas: “Koyo Modern” Obat Sediaan Khusus

VOKASI NEWS – Pernahkah Anda menempelkan Salonpas saat pegal setelah kuliah, olahraga, atau terlalu lama duduk? Banyak orang menganggap Salonpas hanya sekadar “koyo penghangat biasa”. Padahal, produk ini termasuk salah satu bentuk obat sediaan khusus transdermal patch. Sistem ini menghantarkan obat melalui kulit secara perlahan dan terkontrol.

Konsep transdermal patch sebenarnya merupakan teknologi farmasi modern yang dirancang agar zat aktif dapat menembus lapisan kulit dan bekerja langsung pada area nyeri tanpa harus diminum. Teknologi ini banyak digunakan dalam dunia medis karena dinilai praktis dan nyaman. Teknologi ini juga dapat mengurangi efek samping pada saluran pencernaan dibandingkan obat oral.

Dari “Koyo” Menjadi Teknologi Farmasi

Salonpas bekerja dengan memanfaatkan kombinasi bahan aktif seperti methyl salicylate, menthol, atau NSAID tertentu yang dilepaskan secara perlahan melalui kulit. Ketika patch ditempelkan, obat akan berdifusi melewati lapisan kulit menuju jaringan di bawahnya sehingga membantu meredakan nyeri otot dan sendi.

Sistem ini dikenal sebagai transdermal drug delivery system (TDDS). Teknologi TDDS menjadi populer karena mampu memberikan efek terapi lebih stabil, meningkatkan kenyamanan pasien, dan menghindari first-pass metabolism di hati yang biasanya terjadi pada obat oral (Hashmat et al., 2020).

Menariknya, konsep yang digunakan Salonpas ternyata juga dipakai dalam berbagai terapi medis lain, seperti patch anti nyeri pasca operasi, patch anti inflamasi, hingga patch hormon. Saat ini, teknologi patch transdermal juga digunakan pada terapi berhenti merokok. Teknologi ini juga digunakan untuk pengobatan penyakit kronis tertentu. Teknologi ini dinilai lebih praktis bagi pasien yang kesulitan mengonsumsi obat oral.

Selain sebagai perekat, lapisan pada patch ternyata memiliki fungsi penting sebagai media penghantaran obat secara perlahan dan terkontrol. Hal inilah yang membuat obat dapat bekerja lebih lama tanpa perlu digunakan berulang kali dalam waktu singkat. Bentuk patch yang tipis, ringan, dan fleksibel juga membuatnya nyaman digunakan saat beraktivitas sehari-hari tanpa mengganggu pergerakan tubuh.

Fakta Unik: Kulit Bisa Menjadi “Jalur Masuk Obat”

Banyak orang mengira kulit hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh. Namun, dalam bidang farmasi, kulit juga dapat menjadi jalur penghantaran obat yang efektif. Tidak semua molekul obat dapat menembus kulit, sehingga formulasi patch membutuhkan teknologi khusus seperti penetration enhancer agar obat dapat masuk lebih optimal.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bahan seperti propylene glycol dan oleic acid mampu meningkatkan penetrasi obat pada patch transdermal sehingga efektivitasnya meningkat (Hashmat et al., 2020). Karena itu, pembuatan transdermal patch tidak sesederhana menempelkan obat pada perekat biasa. Setiap lapisan patch dirancang dengan komposisi tertentu agar pelepasan obat berlangsung stabil dan aman.

Fakta menarik lainnya adalah sensasi panas atau dingin yang dirasakan saat menggunakan Salonpas sebenarnya berasal dari rangsangan saraf pada kulit akibat kandungan menthol dan methyl salicylate. Sensasi tersebut membuat otak menerima sinyal pengurangan rasa sakit sehingga area tubuh terasa lebih nyaman meskipun sumber nyeri belum sepenuhnya hilang.

Mengapa Banyak Orang Merasa Nyeri Lebih Cepat Reda?

Sensasi dingin atau hangat pada Salonpas berasal dari kandungan menthol dan methyl salicylate yang memberikan efek lokal pada kulit. Selain membantu mengurangi rasa nyeri, sensasi ini juga memberikan efek nyaman pada area otot yang tegang.

Selain itu, penggunaan patch memungkinkan obat bekerja langsung di lokasi nyeri tanpa melewati lambung terlebih dahulu. Hal ini menjadi salah satu alasan patch antiinflamasi sering dipilih pasien yang sensitif terhadap obat oral. Terutama golongan NSAID yang dapat menyebabkan iritasi lambung bila digunakan jangka panjang.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa patch antiinflamasi transdermal memiliki potensi memberikan pereda nyeri pada gangguan muskuloskeletal baik akut maupun kronis, meskipun efektivitasnya dapat berbeda tergantung jenis obat dan kondisi pasien (Sánchez et al., 2024).

Tidak Semua Orang Bisa Menggunakannya Sembarangan

Walaupun praktis, penggunaan transdermal patch tetap memiliki aturan. Patch tidak dianjurkan ditempel pada kulit luka, iritasi, atau area yang terlalu sensitif. Penggunaan berlebihan juga dapat menyebabkan kemerahan dan rasa panas pada kulit.

Selain itu, beberapa orang tidak menyadari bahwa menempelkan lebih banyak patch tidak selalu membuat efeknya lebih kuat. Sistem transdermal dirancang untuk melepaskan obat dalam dosis tertentu secara perlahan, sehingga penggunaan berlebihan justru dapat meningkatkan risiko efek samping lokal.

Inovasi Masa Depan Obat Tempel

Saat ini, teknologi transdermal patch terus berkembang. Peneliti mulai mengembangkan patch dengan bahan polimer pintar, pelepasan obat terkontrol, hingga patch wearable yang dapat memantau kondisi kesehatan pengguna secara real-time

Hal tersebut menunjukkan bahwa “koyo” yang sering dianggap sederhana ternyata merupakan bagian dari inovasi farmasi modern yang terus berkembang. Salonpas menjadi contoh bagaimana teknologi sediaan khusus dapat hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat karena praktis, efektif, nyaman digunakan, dan mudah dibawa ke mana saja.

[BACA JUGA: FESARBI 2026 Jadi Ajang Prodi Kearsipan UNAIR Perkenalkan Pendidikan Kearsipan kepada Pelajar]

Penulis: KELOMPOK 4 GR-2B

Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)

Sumber:

Hashmat, D., Shoaib, M. H., Ali, F. R., & Siddiqui, F. (2020). Lornoxicam controlled release transdermal gel patch: Design, characterization and optimization using co-solvents as penetration enhancers. PLOS ONE, 15(2), e0228908. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0228908

Sánchez, M. B., Callaghan, M. J., Selfe, J., Twigg, M., & Smith, T. (2024). Efficacy of transdermal anti-inflammatory patches for musculoskeletal pain: a systematic review and meta-analysis. Pain Management, 14(10–11), 557–569. https://doi.org/10.1080/17581869.2024.2421153