Gambaran Stres Kerja Pada Security di Perusahaan Migas

VOKASI NEWS – Berdasarkan kajian kesehatan kerja, stres kerja menjadi salah satu masalah yang sering dialami oleh tenaga kerja di berbagai sektor. Menurut World Health Organization (2022) Stres didefinisikan sebagai keadaan khawatir atau ketegangan menial yang disebabkan oleh situasi sulit. Menurut laporan Gallup (2025) menunjukkan bahwa sekitar 40% pekerja di seluruh dunia mengalami stres dalam aktivitas kerja sehari-hari. Berdasarkan laporan yang sama, sekitar 25% karyawan di Kawasan Asia Tenggara mengalami stres yang cukup berat.

Angka tersebut menunjukkan bahwa stres kerja merupakan permasalahan yang cukup signifikan dan perlu mendapat perhatian. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental, menurunkan produktivitas kerja, serta berdampak pada kualitas hidup pekerja secara keseluruhan.

Dari aspek fisik, personel security memiliki tugas seperti patroli lingkungan kerja, pemeriksaan kendaraan, pengawasan area kerja, serta penanganan kondisi darurat. Aktivitas tersebut menuntut pekerja untuk berdiri, berjalan, duduk, dan melakukan mobilitas kerja dalam waktu yang cukup lama. Sementara dari aspek mental, personel security dituntut untuk memiliki tingkat kewaspadaan, konsentrasi, dan tanggung jawab yang tinggi dalam menjaga keamanan lingkungan kerja dalam rentang waktu 12 jam.

Penelitian Stres Kerja Terhadap Security Sektor Migas

Subjek penelitian ini merupakan seluruh pekerja security yang bekerja di PT X. Secara keseluruhan populasi berjumlah 45 orang. Kuesioner yang digunakan yaitu SDS Berdasarkan Permenaker No 05 Tahun 2018 untuk mengidentifikasi tingkat stres kerja.

Survei Diagnosis Stres (SDS) terdiri atas 30 pertanyaan yang mencakup beberapa stresor kerja. Stresor tersebut meliputi ketaksaan peran, konflik peran, beban kerja kualitatif yang berlebihan, beban kerja kuantitatif yang berlebihan, pengembangan karier, serta tanggung jawab yang dimiliki.

Hasil Penelitian Tingkat Stres Personel Security

Data yang diperoleh dari kuesioner SDS kemudian diolah untuk memperoleh skor tingkat stres yang dialami oleh pekerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar personel security mengalami stres kerja kategori ringan pada beberapa dimensi. Dimensi tersebut meliputi ketaksaan peran (31 pekerja), konflik peran (30 pekerja), beban kerja berlebih kuantitatif (29 pekerja), dan pengembangan karier (31 pekerja). Sebaliknya, pada dimensi beban kerja berlebih kualitatif dan tanggung jawab terhadap orang lain, mayoritas pekerja berada pada kategori stres kerja sedang, masing-masing sebanyak 23 pekerja.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa secara umum tingkat stres kerja personel security di PT X masih didominasi oleh kategori ringan. Namun demikian, dimensi beban kerja kualitatif dan tanggung jawab terhadap orang lain memerlukan perhatian lebih. Hal ini karena sebagian besar pekerja pada kedua dimensi tersebut telah mengalami stres kerja dengan kategori sedang.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa tuntutan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, pengambilan keputusan yang tepat, serta tanggung jawab dalam menjaga keselamatan orang lain berkontribusi terhadap meningkatnya stres kerja pada personel security di perusahaan migas. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan pengelolaan stres kerja perlu menjadi perhatian perusahaan. Faktor-faktor tersebut menjadi tantangan yang perlu dikelola untuk menjaga kesehatan pekerja dan kinerja organisasi.

[BACA JUGA: Duduk Terlalu Lama, Ancaman Tersembunyi bagi Kinerja Operator Control Room]

Penulis: Putri Kartika

Pembimbing: Tofan Agung Eka Prasetya S.Kep., M.KKK., Ph.D

Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)