VOKASI NEWS – Tren investasi berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin berkembang di industri perbankan Asia Tenggara. Penerapan prinsip keberlanjutan kini tidak lagi sekadar memperkuat citra perusahaan. Sebaliknya, regulasi yang semakin ketat mendorong lembaga keuangan menyesuaikan model bisnis agar lebih berkelanjutan.
Di balik perubahan tersebut, muncul pertanyaan penting. Apakah investasi ESG mampu memberikan keuntungan jangka panjang atau justru menjadi beban keuangan pada tahap awal? Penelitian terbaru mengulas dinamika tersebut melalui analisis terhadap bank-bank yang terdaftar di bursa efek ASEAN selama periode 2019–2024. Hasil penelitian memberikan gambaran mengenai pengaruh komitmen ESG terhadap kinerja keuangan perbankan di kawasan tersebut.
Pil Pahit Jangka Pendek untuk Laba Jangka Panjang
Penelitian menganalisis data panel dari 44 bank yang terdaftar di bursa efek ASEAN sepanjang 2019–2024. Berdasarkan hasil pengujian ekonometrika, pengungkapan skor total ESG belum mampu meningkatkan profitabilitas aset bank secara langsung. Sebaliknya, penerapan ESG pada tahap awal justru menambah beban operasional.
Kondisi tersebut terjadi karena bank perlu mengalokasikan dana dalam jumlah besar untuk mendukung proses transisi menuju operasional yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Meskipun demikian, dampak tersebut hanya bersifat sementara.
Selanjutnya, penelitian menemukan adanya lagged effect atau dampak tunda. Artinya, manfaat investasi ESG mulai terlihat pada periode berikutnya. Dampak tersebut memberikan kontribusi terhadap peningkatan rasio pengembalian ekuitas (return on equity) sehingga memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham.
Apresiasi Pasar Modal dan Peran Moderasi Utang
Selain memengaruhi kinerja internal perusahaan, penerapan ESG juga memperoleh respons positif dari pasar modal. Investor di kawasan Asia Tenggara menilai keterbukaan informasi mengenai program keberlanjutan sebagai sinyal bahwa perusahaan memiliki tata kelola yang baik dan mampu mengelola risiko di masa depan.
Akibatnya, nilai pasar saham bank meningkat secara konsisten hingga melampaui nilai buku aset perusahaan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa komitmen terhadap keberlanjutan mampu meningkatkan kepercayaan investor.
Penelitian juga menguji pengaruh struktur permodalan terhadap penerapan ESG. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan rasio utang yang tinggi dapat meningkatkan disiplin manajemen dalam mengalokasikan dana program keberlanjutan. Selain itu, pengawasan dari kreditur dinilai mampu membantu menekan biaya utang. Dengan demikian, efisiensi tersebut memperkuat pengaruh positif pengungkapan ESG terhadap pengembalian modal pemegang saham.
Rekomendasi Strategis dan Risiko Kelelahan Utang
Meskipun demikian, penelitian juga memberikan catatan penting mengenai penggunaan utang. Ketergantungan yang terlalu tinggi terhadap pembiayaan eksternal berisiko memunculkan fenomena debt fatigue atau kelelahan utang di mata investor.
Jika kondisi tersebut terjadi, kepercayaan pasar dapat menurun. Akibatnya, tingkat solvabilitas maupun nilai kapitalisasi saham bank berpotensi ikut melemah. Oleh karena itu, keseimbangan antara modal internal, penggunaan utang, dan investasi ESG perlu menjadi perhatian utama.
Pada akhirnya, perbankan ASEAN perlu menyusun strategi pendanaan secara cermat agar transisi menuju bisnis berkelanjutan tidak menjadi beban keuangan. Sebaliknya, strategi tersebut diharapkan mampu menjadi pendorong pertumbuhan jangka panjang sekaligus meningkatkan daya tarik perusahaan di mata investor global. Temuan ini juga memberikan masukan bagi para pengambil kebijakan agar pelaksanaan agenda keberlanjutan tetap berjalan tanpa mengurangi stabilitas keuangan pada tahap awal.
[BACA JUGA: Mahasiswa Vokasi UNAIR Teliti Peran Instagram dalam Meningkatkan Minat Menginap Hotel]
Penulis: Nia Dwi Anggraeni
Pembimbing: Eka Lestari Hafqi Putri
Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



