Menata Ulang Pandangan tentang Panti Jompo Melalui Kehidupan Lansia

VOKASI NEWS – Panti jompo selama ini identik dengan berbagai anggapan negatif di masyarakat. Namun, kehidupan di Panti Jompo Lestari, Gresik, menunjukkan bahwa realitas tidak selalu sejalan dengan stigma tersebut. Kisah ini diangkat oleh Nurma Meilinda Afriza melalui tugas akhirnya, yang mengulas kebersamaan, dukungan sosial, dan upaya para lansia menjalani masa tua dengan lebih bermakna.

Pandangan Masyarakat tentang Panti Jompo

Panti jompo masih sering dipandang sebagai tempat bagi orang tua yang ditinggalkan keluarganya. Anggapan bahwa menitipkan orang tua ke panti merupakan bentuk kurangnya kasih sayang membuat panti jompo kerap dipersepsikan secara negatif. Padahal, setiap lansia memiliki latar belakang yang berbeda. Sebagian memilih tinggal di panti karena hidup sendiri, tidak memiliki keluarga yang dapat merawat, atau membutuhkan pendampingan. Ada pula yang merasa lebih nyaman karena dapat berinteraksi dengan teman sebaya. Selain itu, mereka juga memperoleh pelayanan dan pendampingan secara rutin.

Realitas di Balik Pintu Panti Jompo Lestari

Panti Jompo Lestari berdiri sejak tahun 2001. Panti ini didirikan oleh Ibu Sumiarlik yang tergerak hatinya ketika empat lansia kehilangan tempat tinggal akibat penutupan sebuah panti swasta di Gunung Sari. Kepedulian tersebut mendorong pengalihfungsian halaman belakang rumah pribadi menjadi tempat perawatan bagi lansia yang tidak memiliki naungan keluarga. Kini, panti yang berlokasi di Jalan Bringkang Nomor 171, Kecamatan Menganti, Gresik, ini menampung 60 lansia. Sebagian di antaranya diketahui asal keluarganya, sementara sebagian lain tidak. Bangunan dua lantai berisi dua puluh kamar tidur itu dijaga oleh 12 pengasuh yang bertugas.

Rutinitas para penghuni dimulai pukul enam pagi dengan salat duha berjemaah. Kegiatan ini dilanjutkan dengan istigasah bersama, serta waktu bersantai yang diisi dengan berkumpul, berbincang, bermain, dan bernyanyi antarsesama lansia. Suasana ini jauh berbeda dari bayangan panti jompo yang sunyi dan terasing. Kegiatan sosial dan spiritual yang terjadwal rutin justru menjadi ruang bagi para lansia untuk tetap merasa terhubung satu sama lain.

Kebersamaan Mengurangi Kesepian

Selama ini, panti jompo kerap dipandang sebagai tempat yang dipenuhi kesepian dan rasa ditinggalkan oleh keluarga. Namun, potret kehidupan di Panti Jompo Lestari menunjukkan gambaran yang berbeda. Dari 52 lansia yang menjadi responden, separuh di antaranya justru mengaku tidak mengalami kesepian sama sekali. Dukungan sosial yang terbangun melalui ibadah bersama, aktivitas sehari-hari, dan interaksi dengan sesama penghuni turut berperan penting. Perhatian para pengasuh juga membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus tetap merasakan kebersamaan.

Kehangatan hubungan sosial menjadi salah satu alasan mengapa banyak lansia di Panti Jompo Lestari mampu terhindar dari rasa kesepian. Mereka yang aktif mengikuti kegiatan bersama, berbincang dengan sesama penghuni, dan menjalin kedekatan dengan para pengasuh cenderung merasa lebih nyaman menjalani kehidupan sehari-hari di panti. Hal ini sejalan dengan pendapat Weiss, yang menyatakan bahwa kesepian muncul ketika seseorang kehilangan kedekatan emosional dan hubungan sosial yang bermakna. Dengan adanya dukungan emosional dari lingkungan sekitar, lansia memiliki ruang untuk saling berbagi cerita, memberi semangat, dan merasa tetap dihargai sebagai bagian dari sebuah komunitas.

Kecemasan yang Masih Menyertai di Usia Senja

Suasana hangat yang terjalin di Panti Jompo Lestari menunjukkan bahwa masa tua tidak selalu identik dengan kesendirian. Interaksi antarpenghuni, perhatian dari para pengasuh, serta kegiatan spiritual yang dilakukan bersama menjadi penopang penting bagi kesejahteraan psikologis lansia. Namun, di balik kebersamaan tersebut, masih tersimpan kegelisahan yang kerap menyertai perjalanan menuju usia senja.

Usia yang semakin senja membawa kesadaran yang kian nyata bahwa waktu semakin terbatas. Kesadaran ini semakin kuat terlebih ketika lansia menyaksikan sesama penghuni panti yang lebih dulu berpulang. Meski sebagian besar lansia terbebas dari rasa kesepian, kecemasan menghadapi kematian masih dirasakan oleh mayoritas penghuni, dengan tingkat keparahan yang tergolong sedang. Kondisi tersebut mencerminkan kesadaran alami lansia terhadap keterbatasan hidup serta evaluasi makna kehidupan yang telah dijalani.

Meski bayang-bayang kematian masih hadir, sebagian besar lansia mampu berdamai dengan kekhawatiran tersebut. Kebersamaan dengan sesama penghuni, perhatian dari para pengasuh, serta rutinitas ibadah bersama setiap pagi menjadi sumber kekuatan tersendiri. Ketiganya membantu lansia menjalani hari dengan lebih tenang. Dengan begitu, lansia tidak hanya merasa ditemani, tetapi juga lebih siap menerima bahwa kematian merupakan bagian alami dari siklus kehidupan.

Kehidupan di Panti Jompo Lestari membuktikan bahwa panti jompo bukan sekadar tempat menghabiskan sisa usia dalam kesunyian. Di balik stigma yang selama ini berkembang, para lansia tetap dapat menemukan ruang untuk menjalin pertemanan, saling menguatkan, dan menjalani hari dengan lebih bermakna. Meski bayang-bayang kecemasan akan kematian masih ada, hubungan sosial dan aktivitas spiritual membantu mereka menjalani masa tua dengan lebih tenang. Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat memandang panti jompo bukan sebagai simbol penelantaran. Sebaliknya, panti jompo perlu dilihat sebagai salah satu bentuk layanan yang dapat mendukung kualitas hidup lansia ketika dikelola dengan penuh kepedulian.

[BACA JUGA: Pengaruh Durasi Kerja dan Tekanan Darah Terhadap Keselamatan]

Penulis: Nurma Meilinda Afriza

Pembimbing: Joko Susanto, Khotibul Umam

Editor: Nadya Tika (Tim Branding Vokasi)