Kenali Tiga Tingkatan Obat Bahan Alam, Mahasiswa UNAIR Edukasi Ibu-Ibu PKK Gresik

Kenali Tiga Tingkatan Obat Bahan Alam, Mahasiswa UNAIR Edukasi Ibu-Ibu PKK Gresik

VOKASI NEWS – Penggunaan obat bahan alam di Indonesia terus meningkat sejalan dengan tren “back to nature” yang berkembang di tengah masyarakat. Sayangnya, peningkatan minat ini belum diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai regulasi dan penggolongan obat tradisional. Banyak masyarakat masih menyamakan seluruh obat herbal sebagai jamu. Persepsi ini dilakukan tanpa memahami perbedaan standar, uji klinis, keamanan, dan khasiat di antara jenis-jenisnya. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali tiga tingkatan obat berbahan alam yang berlaku di Indonesia.

Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa Semester 2 Kelompok 4 Mata Kuliah Farmakologi Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga menyelenggarakan penyuluhan edukatif mengenai penggolongan obat bahan alam. Kegiatan edukasi tersebut diselenggarakan pada 19 April 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Jl. Shapir 3 No. 25 Perumahan Graha Bunder Asri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sasaran kegiatan ini adalah kelompok ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang sedang menghadiri agenda arisan rutin bulanan.

Kelompok PKK dipilih sebagai sasaran karena perannya yang strategis sebagai pengelola kesehatan keluarga. Hal ini termasuk peran mereka dalam pengambilan keputusan terkait pertolongan pertama dan konsumsi suplemen kesehatan sehari-hari. Sebanyak 18 peserta hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara aktif.

Penyuluhan dikemas secara interaktif melalui pendekatan community education, meliputi ceramah dua arah, diskusi santai, serta pembagian poster edukatif dan leaflet. Materi yang disampaikan berfokus pada tiga golongan obat bahan alam yang telah diakui secara resmi oleh BPOM RI, sekaligus mengenalkan logo resmi yang tercantum pada kemasan masing-masing produk.

Mengenal Tiga Tingkatan Obat Bahan Alam

Golongan pertama adalah jamu, yaitu obat tradisional warisan budaya yang ditandai dengan logo lingkaran berisi ranting daun hijau. Keamanan dan khasiat jamu dibuktikan berdasarkan data empiris serta pengalaman penggunaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Golongan kedua, Obat Herbal Terstandar (OHT), ditandai dengan logo lingkaran berisi tiga bintang hijau. OHT berada satu tingkat di atas jamu karena bahan bakunya telah melalui proses standardisasi laboratorium serta lolos uji praklinis, termasuk uji toksisitas dan uji efikasi pada hewan coba.

Golongan tertinggi adalah Fitofarmaka, dengan logo lingkaran bermotif jari-jari menyerupai kristal salju. Pembuktian ilmiah fitofarmaka setara dengan obat modern karena telah melalui uji klinis pada manusia, sehingga keamanan dan manfaat medisnya terjamin secara klinis.

Selain mengenalkan ketiga golongan tersebut, mahasiswa juga meluruskan persepsi keliru yang menganggap obat herbal sepenuhnya bebas dari efek samping. Peserta diberikan pemahaman mengenai cara konsumsi yang aman, ketepatan dosis, masa kedaluwarsa, serta risiko mencampur obat herbal dengan obat kimia tanpa anjuran tenaga medis.

Evaluasi dan Dampak Kegiatan Edukasi Tiga Tingkatan Obat

Tingkat pemahaman peserta diukur melalui pre-test sebelum pemaparan materi dan post-test setelah sesi diskusi berakhir. Hasil pre-test menunjukkan bahwa sebagian besar ibu-ibu PKK belum mengenali logo OHT dan fitofarmaka, serta masih menganggap seluruh obat tradisional sebagai jamu biasa.

Setelah mengikuti penyuluhan, pemahaman peserta meningkat secara signifikan. Nilai rata-rata peserta naik dari 80,83 pada pre-test menjadi 96,11 pada post-test. Dari 18 peserta yang mengikuti evaluasi, sebanyak 16 peserta mengalami peningkatan nilai dan tidak ada satu pun peserta yang mengalami penurunan nilai. Media leaflet yang ringkas dan informatif turut membantu peserta dalam mengenali ciri-ciri obat bahan alam yang aman untuk digunakan sehari-hari.

Melalui keberhasilan penyuluhan ini, masyarakat diharapkan semakin bijak dan rasional dalam memilih serta mengonsumsi produk obat bahan alam sesuai peruntukannya. Bagi mahasiswa D3 Keperawatan, kegiatan ini menjadi sarana untuk mengasah kompetensi komunikasi publik sekaligus menerapkan teori farmakologi dasar secara nyata, sehingga turut berkontribusi pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

[BACA JUGA: Edukasi Sediaan Obat Khusus, Bekal Baru Ibu PKK Jaga Kesehatan Keluarga]

Penulis: Nadzla Talini Salsabililah
Dosen Pembimbing: Susilo Harianto S.Kep., Ns., M.Kep

Editor: Aghnia Faiza (Tim Branding Vokasi)