VOKASI NEWS – Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mencatat penderita Gagal Ginjal Kronis mencapai 638.178 jiwa, dengan wilayah Jawa Timur sebanyak 98.738 jiwa. Ginjal tidak hanya berfungsi sebagai penyaring zat sisa metabolisme, namun juga berperan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh serta dalam pembentukan sel eritrosit. Kondisi fungsi ginjal dapat dinilai dengan pemeriksaan estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR). Penurunan fungsi ginjal mengakibatkan produksi eritropoietin menurun dan mengganggu proses pembentukan sel darah merah hingga terjadi anemia.
Anemia adalah salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien GGK. Dalam pemeriksaan laboratorium, anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin di dalam darah rendah sehingga kemampuan darah mengangkut oksigen ke seluruh tubuh menurun (hipoksia). Selain pemeriksaan hemoglobin, karakteristik anemia dapat diketahui melalui pemeriksaan indeks eritrosit yang terdiri atas Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH), dan Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC). Ketiga parameter tersebut dapat membantu dalam penatalaksanaan anemia pada pasien GGK.
Apa Bahaya Anemia pada GGK?
Mekanisme terjadinya anemia pada pasien GGK bersifat multifaktorial. Penurunan produksi eritropoietin merupakan faktor utama yang berperan dalam terjadinya anemia. Namun, faktor lain seperti defisiensi besi, peningkatan kadar hepcidin, penurunan respons sumsum tulang, masa hidup eritrosit yang menurun, serta defisiensi vitamin B12 atau asam folat juga turut berkontribusi.
Anemia pada pasien GGK dapat memperburuk morbiditas, mortalitas, kualitas hidup, dan meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular apabila tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, pemeriksaan ketiga parameter, yaitu eGFR, indeks eritrosit (MCV, MCH, dan MCHC), serta hemoglobin dapat membantu mendeteksi anemia sejak dini.
Apa Hubungan Fungsi Ginjal dengan Anemia?
Hasil analisis terhadap pasien GGK di RSPAL dr. Ramelan Surabaya menunjukkan bahwa meskipun fungsi filtrasi ginjal memburuk dan jumlah hemoglobin berkurang, karakteristik morfologi sel darah merah yang diproduksi tetap berada dalam batas normal. Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan indeks eritrosit tidak secara langsung dipengaruhi oleh derajat penurunan fungsi ginjal. Perubahan karakteristik eritrosit disebabkan oleh penumpukan toksik uremik dan kondisi inflamasi akibat penurunan fungsi filtrasi ginjal.
Sebaliknya, penurunan fungsi ginjal diikuti dengan penurunan kadar hemoglobin. Kondisi ini terjadi karena ginjal berperan dalam produksi eritropoietin, yaitu hormon yang merangsang pembentukan eritrosit di sumsum tulang. Penurunan fungsi ginjal menyebabkan berkurangnya produksi eritropoietin sehingga menurunkan produksi sel darah merah dan mengakibatkan anemia. Informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam melakukan pemantauan pasien GGK.
Pemeriksaan eGFR menjadi indikator penurunan fungsi ginjal, dengan hemoglobin sebagai indikator penilaian derajat anemia pada pasien GGK. Sementara itu, indeks eritrosit berperan sebagai pemeriksaan pendukung untuk membantu mengidentifikasi jenis anemia. Pemeriksaan tersebut perlu dilakukan secara berkala untuk mendetksi anemia sejak dini pada pasien GGK. Dengan demikian, pemantauan kondisi pasien secara menyeluruh diperlukan agar komplikasi dapat terdeteksi lebih awal sehingga penanganan yang diberikan lebih tepat dan kualitas hidup pasien tetap terjaga.
[BACA JUGA: Penyelesaian SP2DK PT XYZ Melalui Pemindahbukuan Dan Klarifikasi Transaksi Kawasan Ekonomi Khusus]
Penulis: Atikhah Umi Zulkarnaen
Pembimbing: Erlinda Widyastuti, & Amalia Ajrina
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)
Sumber:
https://www.kidney.org/kidney-topics/stages-chronic-kidney-disease-ckd



