Suhu Panas dan Beban Kerja Berat Menjadi Faktor Kelelahan Pekerja Tank Terminal Storage

VOKASI NEWS – Perusahaan sektor logistik minyak dan gas seperti PT X memiliki area kerja outdoor yang rentan terhadap paparan suhu tinggi, terutama di kawasan Tank Terminal Storage. Aktivitas bongkar muat, pengisian, dan penyimpanan bahan bakar cair di area terbuka membuat pekerja terpapar panas dalam waktu lama. Kondisi ini menjadi perhatian karena Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius. Sementara itu, Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat sekitar 2,4 miliar pekerja terpapar risiko kesehatan akibat panas berlebih. Sebuah studi pada 38 pekerja di area Tank Terminal Storage PT X mengungkap keterkaitan erat antara iklim kerja, beban kerja fisik, dan tingkat kelelahan yang dialami pekerja lapangan.

Iklim Kerja Melebihi Ambang Batas

Pengukuran dilakukan di lima titik kerja, yaitu area shelter, filling station, tangki penyimpanan, dermaga jetty, dan saluran FSOS menggunakan alat pengukur tekanan panas. Hasilnya, 71,1 persen area kerja memiliki iklim kerja yang melampaui Nilai Ambang Batas (NAB). Suhu tertinggi tercatat di area FSOS sesuai Permenaker Nomor 5 Tahun 2018.

Sebagian besar pekerja yang terlibat berada pada rentang usia dewasa awal hingga dewasa akhir dengan masa kerja lebih dari lima tahun. Uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan sangat kuat antara iklim kerja dan kelelahan kerja dengan koefisien 0,911. Artinya, semakin tinggi suhu lingkungan kerja, semakin tinggi pula tingkat kelelahan yang dirasakan pekerja.

Beban Kerja dan Kelelahan Saling Berkaitan

Selain suhu lingkungan, beban kerja fisik turut diukur menggunakan metode cardiovascular load (CVL). Sebanyak 89,5 persen pekerja tercatat mengalami beban kerja kategori sedang, sementara sisanya berada pada kategori ringan. Hasil kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) menunjukkan mayoritas pekerja, yaitu 63,2 persen, mengalami tingkat kelelahan kerja kategori tinggi.

Uji statistik memperlihatkan hubungan antara beban kerja dan kelelahan berada pada kategori cukup dengan koefisien 0,513. Menariknya, durasi kerja menunjukkan hubungan sangat kuat namun berbanding terbalik dengan kelelahan. Sementara itu, usia dan masa kerja hanya memiliki hubungan yang sangat lemah dengan tingkat kelelahan pekerja.

Rekomendasi Perbaikan Lingkungan Kerja

Berdasarkan temuan tersebut, sejumlah langkah perbaikan direkomendasikan bagi perusahaan untuk menekan risiko kelelahan kerja akibat panas. Pemasangan turbin ventilator di area filling station, penambahan canopy di area FSOS, serta pemasangan fly sheet di area maintenance disarankan sebagai upaya rekayasa teknik. Langkah tersebut bertujuan mengurangi paparan panas terhadap tubuh pekerja.

Penyediaan water station di titik-titik yang mudah dijangkau juga dinilai penting, disertai edukasi kebutuhan cairan minimal 2,8 liter per hari dengan pola minum satu gelas air setiap 30 menit. Penggunaan alat pelindung diri berupa wearpack berbahan katun dengan daya serap keringat yang baik dan desain longgar turut direkomendasikan agar kenyamanan kerja tetap terjaga di tengah suhu lingkungan yang tinggi.

Temuan ini menegaskan bahwa iklim kerja panas bukan sekadar faktor kenyamanan, melainkan risiko kesehatan kerja yang nyata dan terukur secara statistik. Perbaikan sistem sirkulasi udara, penyediaan air minum, dan kelengkapan alat pelindung diri menjadi kunci menjaga kesehatan pekerja. Upaya tersebut juga mendukung produktivitas di industri yang bergantung pada aktivitas lapangan terbuka.

[BACA JUGA: Ketika Fungsi Ginjal Menurun: Apa Yang Terjadi Pada Indeks Eritrosit dan Hemoglobin]

Penulis: Mukhammad Kelvin Adryansyah

Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)

Sumber:

World Meteorological Organization (2024);

International Labour Organization (2024);

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018;

Skripsi “Hubungan Iklim Kerja dan Beban Kerja dengan Tingkat Kelelahan Kerja (Studi pada Pekerja Area Tank Terminal Storage PT X)”, Universitas Airlangga, 2026.