Lansia Pandai mengingat: Edukasi Penggolongan Obat Herbal Berbahan Alam di Ketapang Lor, Ujungpangkah, Gresik

VOKASI NEWS — Mahasiswa D-III Keperawatan VOKASI UNAIR mengedukasi lansia di Ketapang Lor, Gresik, mengenai penggolongan obat bahan alam dari jamu, OHT, hingga fitofarmaka.

Pentingnya Literasi Obat Herbal bagi Lansia

Penggunaan obat bahan alam masih menjadi pilihan bagi banyak masyarakat, termasuk kelompok lanjut usia. Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami perubahan yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan, seperti penurunan daya tahan tubuh, munculnya penyakit kronis, serta penggunaan beberapa jenis obat dalam waktu bersamaan. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian kelompok lanjut usia memanfaatkan produk herbal untuk membantu menjaga kesehatan dan mengurangi keluhan ringan. Namun, tidak semua obat bahan alam memiliki tingkat pembuktian ilmiah yang sama. Oleh karena itu, pemahaman mengenai penggolongan obat herbal menjadi penting agar penggunaan produk tetap aman dan sesuai kebutuhan kesehatan (BPOM, 2023).

Di Indonesia, obat bahan alam dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), penggolongan tersebut dilakukan berdasarkan tingkat pembuktian manfaat, keamanan, serta proses penelitian yang telah dilalui oleh produk. Pengetahuan mengenai klasifikasi ini dapat membantu kelompok lanjut usia memilih produk herbal dengan lebih bijak. Selain mempertimbangkan manfaat, keamanan penggunaan juga perlu menjadi perhatian utama agar risiko efek yang tidak diinginkan dapat diminimalkan (BPOM, 2023).

Namun banyak lansia yang tidak mengetahui jenis lain dari Penggolongan Obat Bahan Alam ini, para lansia kebanyakan hanya mengetahui jenis jamu karena jamu adalah obat bahan alam tradisional yang turun temurun dan yang sangat umum di kalangan masyarakat, dan sampai saat ini jamu masih terus di lestarikan, di mana masih banyak ibu-ibu yang menjual jamu keliling.

Sebagai bentuk peningkatan pengetahuan pada kelompok lanjut usia mahasiswa D-III Keperawatan VOKASI UNAIR melakukan kegiatan Edukasi mengenai penggolongan obat berbahan alam di desa Ketapang Lor, kecamatan ujungpangkah, Kabupaten Gresik. Kegiatan ini menggunakan media edukasi sederhana yaitu papan obat dan juga leaflet, dengan kedua media yang telah digunakan para lansia cukup mudah menerima penyampaian materi yang telah disampaikan melalui papan obat dan leaflet tersebut.

Dari Jamu hingga Fitofarmaka

Jamu merupakan bentuk obat bahan alam yang paling dikenal di masyarakat Indonesia. Khasiat jamu diperoleh berdasarkan pengalaman empiris dan telah digunakan secara turun temurun. Produk jamu sering dimanfaatkan untuk membantu menjaga kebugaran tubuh, mengurangi rasa pegal, atau meningkatkan kenyamanan fisik pada kelompok lanjut usia. Walaupun berasal dari bahan alam, penggunaan jamu tetap memerlukan perhatian terhadap aturan konsumsi dan izin edar agar mutu serta keamanan produk tetap terjaga (BPOM, 2023)

Berbeda dengan jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT) telah melalui uji praklinik dan menggunakan bahan baku yang distandarisasi. Proses standarisasi dilakukan untuk menjaga kualitas bahan tetap konsisten sehingga manfaat produk dapat dipertanggungjawabkan dengan lebih baik. OHT menjadi pilihan obat bahan alam dengan tingkat pembuktian ilmiah yang lebih kuat dibandingkan jamu tradisional. Penggunaan OHT juga perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, terutama pada kelompok lanjut usia dengan penyakit kronis atau penggunaan obat medis tertentu (Kementerian Kesehatan RI, 2022).

Fitofarmaka merupakan kategori obat bahan alam dengan tingkat pembuktian tertinggi. Produk fitofarmaka telah melalui uji praklinik dan uji klinik pada manusia sehingga manfaat serta keamanan penggunaannya didukung data ilmiah yang lebih kuat. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa fitofarmaka didorong sebagai bagian dari pelayanan kesehatan berbasis bukti melalui penyusunan formularium fitofarmaka nasional. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan pemanfaatan obat bahan alam yang aman, berkualitas, dan efektif (Kementerian Kesehatan RI, 2022).

Bijak Menggunakan Obat Bahan Alam

Memasuki usia lanjut, tubuh mengalami perubahan yang dapat memengaruhi respons terhadap obat maupun bahan alam tertentu. Penurunan fungsi organ, penyakit kronis, serta penggunaan beberapa jenis obat dapat meningkatkan risiko interaksi apabila produk herbal digunakan tanpa perhatian yang tepat. Oleh karena itu, pemilihan obat bahan alam perlu mempertimbangkan legalitas produk, bukti ilmiah, dan aturan penggunaan. Produk yang memiliki izin edar dan digunakan sesuai anjuran lebih disarankan untuk membantu memperoleh manfaat kesehatan secara optimal (BPOM, 2023).

Pemanfaatan obat bahan alam dapat menjadi pilihan pendukung kesehatan pada kelompok lanjut usia apabila digunakan secara tepat. Pemahaman mengenai perbedaan jamu, OHT, dan fitofarmaka menjadi langkah awal untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Dengan pengetahuan yang baik, penggunaan obat bahan alam dapat dilakukan secara lebih aman, terarah, dan sesuai dengan kebutuhan kesehatan individu.

Sumber:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2023). Informasi Penggolongan ObatBahan Alam. Jakarta: BPOM RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Formularium Fitofarmaka Tahun 2022. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pemanfaatan Fitofarmaka dalam Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

[BACA JUGA: Segmentasi Otsu untuk Osteoporosis Lumbal]

Penulis: KELOMPOK 4 GR-2A

Pembimbing: Susilo Harianto

Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)