Literasi Obat Dimulai dari Rumah: Strategi Edukasi Interaktif untuk Meningkatkan Penggunaan Obat Rasional pada Ibu sebagai Pengambil Keputusan Kesehatan Keluarga

VOKASI NEWS – Dalam kehidupan sehari-hari, rumah merupakan lini pertama dalam pengambilan keputusan kesehatan.

Rumah sebagai Lini Pertama Kesehatan

Ketika keluhan ringan seperti demam, batuk, atau nyeri muncul, penanganan awal sering kali tidak langsung melibatkan tenaga kesehatan, melainkan dimulai dari keputusan yang diambil di dalam keluarga. Dalam situasi ini, ibu memegang peran strategis sebagai pengelola kesehatan keluarga sekaligus pengambil keputusan utama.

Peran tersebut menjadikan ibu sebagai garda terdepan dalam menentukan jenis obat, dosis, hingga langkah lanjutan yang perlu diambil. Namun, di balik peran penting ini, masih terdapat tantangan berupa rendahnya literasi masyarakat terkait penggunaan obat yang tepat dan rasional.

Risiko Penggunaan Obat Tanpa Pemahaman yang Tepat

Penggunaan obat di tingkat rumah tangga masih banyak dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dan kebiasaan yang berkembang di masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang menggunakan obat tanpa memahami fungsi, penggolongan, maupun aturan pakainya secara benar.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan penggunaan obat yang tidak rasional, seperti kesalahan dalam memilih jenis obat, ketidaksesuaian dosis, hingga penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Sebagai contoh, masih banyak masyarakat yang menganggap semua obat batuk memiliki fungsi yang sama, padahal terdapat perbedaan antara batuk kering dan batuk berdahak. Selain itu, penggunaan antibiotik yang tidak dihabiskan sesuai anjuran juga menjadi permasalahan yang cukup sering ditemukan.

Edukasi Interaktif Berbasis Komunitas

Sebagai upaya menjawab permasalahan tersebut, mahasiswa D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan di wilayah Kebomas, Gresik dengan sasaran utama ibu-ibu di lingkungan posyandu.

Sebelum pelaksanaan, mahasiswa melakukan berbagai persiapan secara matang. Persiapan tersebut meliputi penyusunan media edukasi berupa papan penggolongan obat yang dilengkapi dengan contoh obat, pengertian, fungsi, aturan penggunaan, serta cara konsumsi yang tepat. Media ini disajikan dalam dua bentuk, yaitu contoh fisik obat dan versi cetak, sehingga memudahkan peserta dalam memahami materi secara lebih konkret.

Selain itu, mahasiswa juga menyiapkan leaflet sebagai media edukasi pendukung yang dapat dibawa pulang oleh peserta. Leaflet ini diharapkan mampu membantu peserta untuk mengingat kembali informasi yang telah diperoleh setelah kegiatan selesai.

Dari sisi teknis, mahasiswa turut melakukan koordinasi dengan kader posyandu setempat untuk membantu mengumpulkan peserta, sehingga kegiatan dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.

Pelaksanaan edukasi dilakukan dengan pendekatan komunikasi dua arah melalui diskusi interaktif. Kegiatan dipandu oleh dua mahasiswa sebagai MC, yaitu Amanda Gian Nur Rahma dan Dania, yang berperan dalam menyampaikan materi sekaligus memfasilitasi interaksi aktif dengan peserta.

Sebelum materi disampaikan, peserta terlebih dahulu mengerjakan pre-test guna mengetahui tingkat pengetahuan awal terkait penggunaan obat. Setelah seluruh rangkaian edukasi dan diskusi interaktif selesai dilaksanakan, peserta kembali mengerjakan post-test. Perbandingan hasil kedua tes tersebut menjadi salah satu parameter dalam mengevaluasi keberhasilan kegiatan serta mengukur peningkatan pemahaman peserta setelah menerima edukasi.

Miskonsepsi yang Masih Ditemukan

Selama kegiatan berlangsung, partisipasi aktif peserta menunjukkan tingginya antusiasme terhadap materi yang disampaikan. Diskusi interaktif menjadi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman sekaligus mengajukan pertanyaan terkait penggunaan obat dalam kehidupan sehari-hari.

Dari proses tersebut, ditemukan beberapa miskonsepsi yang masih cukup umum terjadi di masyarakat. Salah satunya adalah anggapan bahwa semua obat dengan gejala serupa memiliki fungsi yang sama. Selain itu, masih terdapat kebiasaan menghentikan konsumsi antibiotik ketika gejala mulai membaik, tanpa menyelesaikan dosis sesuai anjuran.

Temuan lain yang menarik adalah persepsi bahwa obat yang umum digunakan, seperti penurun demam, sepenuhnya aman tanpa memperhatikan dosis. Padahal, penggunaan dalam jumlah berlebih dapat menimbulkan risiko terhadap kesehatan, termasuk gangguan fungsi organ.

Pemberdayaan Ibu sebagai Kunci Literasi Kesehatan

Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi dengan pendekatan interaktif mampu meningkatkan pemahaman sekaligus keterlibatan masyarakat. Ibu-ibu tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai subjek aktif yang merefleksikan pengalaman dan memperbaiki pemahaman yang kurang tepat.

Pemberdayaan ibu dalam literasi kesehatan menjadi langkah strategis, mengingat peran mereka yang sangat dominan dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai penggunaan obat, ibu dapat menentukan langkah yang lebih tepat, aman, dan rasional dalam menangani masalah kesehatan.

Selain itu, pendekatan berbasis komunitas terbukti efektif karena mampu menciptakan komunikasi yang lebih terbuka dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Edukasi Sederhana, Dampak Berkelanjutan

Edukasi penggunaan obat rasional merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan menunjukkan bahwa intervensi sederhana melalui edukasi berbasis komunitas dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat.

Melalui penguatan peran ibu sebagai pengambil keputusan kesehatan keluarga. Selain itu, diharapkan setiap tindakan penggunaan obat dapat dilakukan secara lebih bijak dan tepat. Dengan demikian, upaya peningkatan literasi obat yang dimulai dari rumah dapat menjadi fondasi penting dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sehat.

[BACA JUGA: Mahasiswa Keperawatan Gelar Penyuluhan Sediaan Obat Setengah Padat bagi Ibu-Ibu PKK di Bojonegoro]

Penulis: Frida Dwi Lestari

Pembimbing: Susilo Harianto

Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)