VOKASI NEWS – Sebanyak 10 mahasiswa Program Studi Pengobat Tradisional Universitas Airlangga bersama dosen Dr. Maya Septriana, S.Si., Apt., M.Si., mengikuti kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Obat Herbal sebagai Salah Satu Solusi Kesehatan Masyarakat” pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh PT Jawa Pos Media Televisi (JTV) tersebut berlangsung di Gedung Graha Pena JTV, Surabaya, dengan menghadirkan tiga narasumber dari bidang regulasi, penelitian herbal, serta pengobatan tradisional.
FGD tersebut bertujuan memperluas wawasan mengenai pemanfaatan obat herbal dalam mendukung kesehatan masyarakat. Diskusi juga menjadi sarana pertukaran pengetahuan antara akademisi dan praktisi mengenai keamanan, khasiat, serta pengembangan tanaman herbal Indonesia.
Regulasi dan Kearifan Lokal Jamu
Kegiatan diawali dengan sesi talkshow yang menghadirkan tiga narasumber. Materi pertama disampaikan oleh Ibu Dra. Minarni Purnomo, Apt., M.Si., selaku Ketua Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu), yang mewakili Badan POM Surabaya. Pemaparan berfokus pada regulasi penggunaan obat herbal serta pentingnya menjaga keamanan produk yang beredar di masyarakat.
Dalam penjelasannya, Ibu Minarni menekankan bahwa istilah jamu memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan kearifan lokal Indonesia. Menurut Ibu Minarni, penggunaan istilah jamu lebih sesuai untuk menggambarkan warisan pengobatan tradisional berbasis bahan alam yang berkembang di Indonesia. Pembahasan tersebut turut menyoroti pengakuan internasional terhadap jamu sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia melalui UNESCO.
Narasumber kedua, Ibu Dr. Enung Siti Nurhidayah, selaku Kepala Pusat Penelitian dan Inovasi Rempah dan Obat Universitas Trunojoyo Madura, memaparkan hasil dan potensi penelitian tanaman obat keluarga (TOGA), khususnya di wilayah Madura. Kondisi geografis dan demografis Madura dinilai mendukung pengembangan sejumlah tanaman herbal, seperti kunyit dan cabai jawa. Potensi tersebut dapat menjadi peluang untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal melalui penelitian dan inovasi berbasis tanaman obat.
Penggunaan Herbal Sesuai Kebutuhan
Materi terakhir disampaikan oleh Ibu Dr. Maya Septriana, S.Si., Apt., M.Si., dosen ahli akupunktur dan Traditional Chinese Medicine (TCM) Universitas Airlangga. Dalam pemaparannya, Ibu Maya menjelaskan bahwa penggunaan jamu perlu disesuaikan dengan tujuan konsumsi serta kondisi kesehatan setiap individu.
“Tidak semua herbal atau jamu cocok diminum saat sakit,” jelas Ibu Maya dalam sesi pemaparan. Ibu Maya menerangkan bahwa herbal dapat dimanfaatkan untuk tujuan preventif atau pencegahan maupun kuratif atau penanganan kondisi kesehatan tertentu. Penggunaan herbal preventif tetap memerlukan perhatian terhadap dosis karena konsumsi berlebihan berpotensi menimbulkan dampak yang merugikan bagi tubuh.
Diskusi dan Pertukaran Pengetahuan
Setelah sesi talkshow, kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab yang melibatkan para hadirin. Pemirsa di rumah juga memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam diskusi bersama para narasumber. Sesi tersebut memberikan ruang untuk memperdalam pemahaman mengenai regulasi, potensi penelitian, serta penerapan herbal secara aman dan tepat.
Kegiatan FGD diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama. Partisipasi mahasiswa Pengobat Tradisional Universitas Airlangga dalam kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan akademik mengenai pengembangan obat herbal sekaligus memperkuat pemahaman tentang pentingnya penggunaan jamu berdasarkan bukti ilmiah, keamanan, dan kebutuhan kesehatan masyarakat.
[BACA JUGA: Alen Prahadinata Alumni K3 UNAIR: Dari Vokasi ke Puncak Pimpinan K3 Industri]
Penulis: Anindhita Rahmi Sasanti
Editor: Nawal Eka Paramita (Tim Vokasi Branding)



