Mahasiswa UNAIR Kembangkan Alat Monitoring Gas Toksik, Inovasi Berbasis IoT untuk Kawasan Industri Berbahaya

VOKASI NEWS – Dorongan untuk berinovasi serta kesadaran terhadap isu lingkungan mendorong Eka Rachma Aprilidanti. Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol (TRIK) Fakultas Vokasi UNAIR, untuk mengembangkan alat monitoring gas toksik berbasis Internet of Things (IoT).

Berangkat dari keprihatinan terhadap tingginya angka Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jawa Timur yang mencapai 130.683 kasus pada tahun 2023, Eka Rachma Aprilidanti merancang alat tersebut sebagai pemantau kualitas udara di kawasan permukiman sekitar zona industri.

Menurut penjelasan Eka Rachma Aprilidanti, teknologi ini tidak hanya mendeteksi polutan. Perangkat ini juga berfungsi sebagai upaya mitigasi awal. Tujuannya adalah meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko pencemaran udara.

Fitur dan Cara Kerja Alat

Perangkat ini mampu mendeteksi enam parameter gas toksik secara real-time, yaitu karbon monoksida (CO), amonia (NH₃), nitrogen dioksida (NO₂), metana (CH₄), etanol (C₂H₅OH), dan hidrogen (H₂). Eka menjelaskan bahwa alat ini terhubung dengan platform digital. Platform tersebut dilengkapi sistem peringatan dini. Sistem akan mengirimkan alarm ketika kadar gas melebihi ambang batas aman.

Eka Rachma Aprilidanti meyakini perangkat ini dapat dikembangkan menjadi sistem pemantauan udara terintegrasi secara nasional. Oleh karena itu, dukungan dari berbagai pemangku kebijakan sangat dibutuhkan. Dukungan tersebut mencakup Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Selain itu, Eka menargetkan implementasi alat ini di kawasan Gerbang Kertosusila, yang meliputi Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan. Wilayah tersebut dinilai memiliki tingkat polusi tinggi dan belum sepenuhnya terpantau oleh stasiun ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara).

Prospek Pengembangan dan Implementasi

Ke depan, Eka Rachma Aprilidanti berharap alat ini memperoleh dukungan, terutama dalam aspek legalitas, pengujian Standar Nasional Indonesia (SNI), serta perluasan implementasi di lapangan. Dengan demikian, perangkat ini dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat.

Sebagai bentuk kontribusi dunia pendidikan tinggi terhadap isu lingkungan dan kesehatan, inovasi ini menunjukkan potensi besar dalam mengatasi pencemaran udara di kawasan industri. Kemampuan alat dalam mendeteksi enam jenis gas berbahaya secara real-time, serta adanya sistem peringatan dini, menjadikannya solusi mitigasi yang strategis. Perangkat ini sangat relevan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri, termasuk wilayah Gerbang Kertosusila.

[BACA JUGA: Tekanan Mental di Balik Pinjaman dan Judi Online]

Penulis: Eka Rachma Aprilidanti

Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)