VOKASI NEWS – Bagi sebagian besar masyarakat, lingkaran berwarna hijau, biru, atau huruf “K” merah pada kemasan obat mungkin hanya dianggap sebagai hiasan atau kode pabrik belaka. Minimnya pengetahuan mengenai arti simbol tersebut berpotensi memicu salah penggunaan obat di tingkat keluarga. Berangkat dari keresahan ini, mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga menggelar edukasi kesehatan mengenai penggolongan obat pada Sabtu, 9 Mei 2026, bertempat di Perumahan Graha Bunder Asri, Gresik.
Kegiatan pengabdian masyarakat yang berjalan dengan sangat tertata ini dihadiri oleh sekitar 25 peserta yang dihadiri oleh Ibu-Ibu PKK. Sebelum materi inti dimulai, mahasiswa terlebih dahulu melakukan pendekatan interpersonal untuk memetakan sejauh mana pemahaman awal warga mengenai obat-obatan yang sering mereka konsumsi di rumah.
Mengenal Arti Simbol pada Kemasan Obat
Dalam sesi penyuluhan, mahasiswa menemukan fakta menarik di lapangan. Beberapa Ibu PKK mengaku sering melihat lingkaran warna-warni di samping kemasan obat. Namun, mereka belum mengetahui arti dan perbedaan dari warna-warna tersebut.
Mahasiswa kemudian mengupas tuntas rahasia di balik simbol tersebut menggunakan contoh fisik obat asli agar mudah dipahami. Peserta dikenalkan dengan simbol lingkaran hijau untuk Obat Bebas yang paling aman dan dijual bebas, seperti Paracetamol yang biasa digunakan untuk meredakan demam. Selanjutnya, ada lingkaran biru untuk Obat Bebas Terbatas yang masih bisa dibeli tanpa resep namun memiliki peringatan khusus.
Pentingnya Memahami Obat Keras dan Obat dengan Pengawasan Khusus
Edukasi menjadi lebih intens saat mahasiswa menjelaskan lambang huruf “K” dalam lingkaran merah yang menandakan Obat Keras. Mahasiswa menegaskan bahwa obat golongan ini, seperti antibiotik, sama sekali tidak boleh dibeli sembarangan. Penggunaannya wajib berdasarkan resep dokter karena memiliki risiko resistensi dan efek samping yang tinggi. Selain itu, diperkenalkan pula penggolongan obat psikotropika dan narkotika yang membutuhkan pengawasan super ketat dari tenaga medis.
Antusiasme Peserta dan Harapan Peningkatan Literasi Obat
Suasana di Graha Bunder Asri mendadak riuh dan interaktif saat memasuki sesi tanya jawab. Ibu-Ibu PKK terlihat sangat antusias dan aktif mengajukan pertanyaan berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari. Diskusi berjalan secara dua arah selama kegiatan berlangsung. Tidak hanya mahasiswa yang memaparkan teori, para ibu juga bergantian membagikan cerita serta berkonsultasi mengenai isi kotak obat di rumah mereka.
Melihat pentingnya ilmu praktis yang diberikan, para peserta menyampaikan rasa terima kasih yang besar kepada tim mahasiswa. Peserta juga berharap mahasiswa Keperawatan Vokasi UNAIR dapat kembali di lain waktu untuk memberikan edukasi kesehatan lanjutan. Melalui kegiatan ini, diharapkan Ibu-Ibu PKK selaku “manajer kesehatan” di rumah tangga dapat lebih rasional dan bijak dalam memilah obat. Pemahaman yang benar mengenai logo obat ini menjadi langkah awal yang krusial demi menjaga keselamatan dan kesehatan seluruh anggota keluarga.
[BACA JUGA: Ibu-ibu Arisan Belajar Sediaan Obat Bareng Mahasiswa]
Penulis: Cahya Amalia Priandhini
Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)



